jurnalistik.co.id – Brand Halifax akan dihentikan setelah 173 tahun, menyusul pengambilalihan oleh Lloyds yang akan melakukan rebranding terhadap seluruh akun nasabah ke Lloyds.
Langkah itu dikonfirmasi Lloyds Banking Group, yang telah memiliki Halifax sejak 2009, setelah sebelumnya muncul laporan pada bulan Mei bahwa perusahaan mempertimbangkan menghentikan Halifax sebagai merek yang berdiri sendiri.
Menurut Lloyds, komitmen terhadap Kota Halifax serta kawasan Yorkshire and Humber tetap dijaga, termasuk keberadaan sekitar 3.000 staf di kantor Trinity Road.
“The Halifax brand is being scrapped after 173 years, with all customer accounts to be rebranded to Lloyds,” demikian pernyataan yang disampaikan perusahaan terkait perubahan merek tersebut.
Sikap mengenai dampak bagi nasabah juga ditegaskan. Chief executive of consumer relationships Lloyds Banking Group, Jas Singh, menyatakan bahwa perubahan yang terjadi dinilai tidak akan banyak mengubah pengalaman nasabah.
Singh mengatakan, “As Halifax changes to Lloyds, our Halifax customers will keep everything they know and love today – the same fantastic app design, the same friendly faces in our branches – even the same sort code and account number”.
Dalam pengaturan ulang yang diumumkan, Lloyds juga menegaskan tidak ada pemotongan pekerjaan yang dikaitkan dengan restrukturisasi ini.
Halifax branch nantinya akan mengalami rebranding menjadi Lloyds, atau dialihkan ke cabang terdekat di sepanjang tahun 2027.
Perusahaan menjelaskan bahwa keputusan tersebut berakar pada upaya menyederhanakan portofolio grup, dengan pandangan bahwa pembeda antara Halifax dan Lloyds menjadi semakin tidak menonjol dalam beberapa tahun terakhir.
Reaksi dari perwakilan setempat
Di parlemen, anggota DPR dari Partai Buruh yang mewakili daerah Halifax, Kate Dearden, menyebut keputusan itu sebagai kabar yang menyakitkan.
Dearden menggambarkan langkah itu sebagai “bitterly disappointing” dan mengatakan ia telah berdiskusi dengan Lloyds untuk “ensure their commitment and continued investment in Halifax long into the future”.
Dalam pandangannya, Halifax dipandang sebagai institusi lokal. Dearden menyebut bank itu sebagai “a local institution built on the hard work and investment of working people”.
Ia juga menyampaikan bahwa meski brand Halifax akan hilang, Lloyds masih memiliki peran penting bagi perekonomian lokal melalui investasi di Halifax dan penciptaan peluang bagi generasi muda agar dapat berkembang.
Dari sisi kepemimpinan daerah, Dan Sutherland, yang menjabat Reform leader di Calderdale Council, menyatakan hubungan Lloyds dengan Halifax sebagai tempat tinggal masyarakat setempat akan tetap berlanjut.
Berita Terkait
Sutherland mengatakan hubungan itu akan “strong and enduring”. Ia menambahkan, “We know the Halifax brand is important for many generations of local people who care about the town’s heritage and are proud of the brand’s part in our local traditions, family history and Halifax’s profile across the world”.
Ia juga mengungkap bahwa pihaknya merasa yakin Lloyds telah menyampaikan komitmen yang jelas pada kota tersebut. Sutherland menyebut, “We are reassured Lloyds has made it very clear the business is absolutely committed to the town, having recently invested £116m into a major transformation of the iconic head office building at Trinity Road, to make it fit for the future.”
Calderdale Labour Group menyampaikan pandangan serupa bahwa bank menjadi bagian dari identitas dan warisan kota.
Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyatakan, “For generations, local people have been proud of the name and what it represents. While we welcome the commitment to keep branches open and protect customers’ accounts, many residents will be saddened to see such an iconic name disappear from our high streets.”
Adapun councillor Partai Buruh dari Luddenfoot, Scott Patient, menyatakan kekhawatiran bahwa perubahan ini mungkin berdampak lebih besar daripada yang disadari perusahaan.
Patient mengatakan ia takut langkah itu bisa “more damaging to [Lloyds] than they realise”. Ia menambahkan, “I feel with one hand they giveth, and with the other hand they taketh away,” serta menilai, “I think once you have something that’s existed for that long, there’s a real sense of pride, that we’re a place, not just a bank.”
Jejak panjang Halifax
Halifax berawal di West Yorkshire pada 1853, ketika pendirian Halifax Permanent Benefit Building Society dilakukan. Pada tahun yang sama, organisasi itu memperoleh hak untuk memberikan mortgage pertama.
Seiring waktu, entitas tersebut berkembang menjadi Halifax Building Society pada 1873.
Building societies dibentuk di berbagai kota Inggris selama masa Industrial Revolution. Model ini membantu pekerja untuk membeli rumah melalui skema tabungan dan pinjaman.
Tokoh yang tercatat menerima mortgage pertama dari Halifax adalah Esau Hanson. Ia meminjam ÂŁ121 untuk membeli sebidang tanah di St John’s Lane.
Pada 1928, Halifax Building Society telah menjadi building society terbesar di dunia dengan aset sebesar ÂŁ47m.
Di sepanjang dekade 1980-an, building societies mulai bersaing dengan bank-bank tradisional. Pada 2 Juni 1997, bank itu kemudian melantai di pasar saham Inggris.
Selanjutnya, pada 2001 Halifax bergabung dengan Bank of Scotland membentuk HBOS, sebelum pada 2009 HBOS dibeli oleh Lloyds Banking Group.
Pada tanggal 1 Juli 2026, berita mengenai penghentian brand Halifax setelah 173 tahun disampaikan dan kemudian diperbarui singkat setelahnya.
Dengan keputusan rebranding ke Lloyds, nama Halifax akan berhenti dipakai, namun Lloyds menyatakan nasabah tetap akan mempertahankan aspek yang dianggap mereka kenal selama ini, termasuk desain aplikasi dan sejumlah detail operasional seperti sort code dan nomor rekening.






