jurnalistik.co.id – Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 menjadi perhatian pasar karena dinilai dapat membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek. Kondisi ini juga mendorong pelaku pasar memperkirakan investor asing akan menahan atau mengurangi eksposur di bursa domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 sebesar 1,61 miliar dollar AS. Defisit tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang sudah berlangsung 72 bulan berturut-turut.
Pada periode sebelumnya, neraca perdagangan April 2026 masih mencatat surplus sebesar 89,1 juta dollar AS. Perubahan posisi dari surplus ke defisit inilah yang kemudian menjadi sentimen yang perlu dicermati pelaku pasar.
Pemicu defisit: migas dan kebijakan ekspor satu pintu
Menurut laporan, defisit pada Mei 2026 terutama dipengaruhi lonjakan defisit sektor minyak dan gas (migas). Dorongan utamanya datang dari meningkatnya nilai impor migas yang jauh melampaui ekspornya.
Selain itu, penurunan produksi komoditas ekspor disebut terkait implementasi kebijakan ekspor satu pintu. Dalam konteks awal kebijakan, sejumlah pelaku usaha dikabarkan menunda produksi, setidaknya selama satu pekan ketika kebijakan tersebut pertama kali diumumkan.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai defisit neraca perdagangan memberikan sentimen kurang baik bagi investor dalam jangka pendek hingga menengah. Ia mengaitkan tekanan tersebut dengan efek kebijakan ekspor satu pintu terhadap aktivitas produksi.
“Tentu ini akan menjadi tekanan jangka pendek hingga menengah bagi investor, hal tersebut seiring kebijakan ekspor satu pintu yang membuat pengusaha menunda produksi setidaknya satu minggu ketika awal diumumkan,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (2/7/2026).
Dampak ke IHSG: jangka pendek tertekan, jangka menengah sideways
Berita Terkait
Meski demikian, Faris memandang dampak ke IHSG kemungkinan lebih terasa pada jangka pendek. Untuk horizon menengah, ia justru memproyeksikan pergerakan indeks cenderung sideways.
Proyeksi Faris menyebut area 5.300-5.400 berpotensi menjadi support. Pada saat yang sama, level 6.000-6.200 diperkirakan menjadi area resistance.
“Dalam jangka pendek mungkin iya, namun view kami untuk jangka menengah IHSG kami proyeksikan cenderung sideways dengan spread lebar di rentang 5.300-5.400 sebagai support dan 6.000-6.200 sebagai resistance,” paparnya.
Pada perdagangan Kamis, IHSG menguat dan ditutup naik 49,439 poin atau 0,87 persen ke posisi 5.744,556. Namun, investor asing dinilai bisa mengurangi eksposur setelah rilis data defisit neraca perdagangan.
Langkah pengurangan eksposur tersebut dipandang dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik. Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung mengurangi kepemilikan pada saham-saham emiten yang memiliki tingkat leverage atau utang yang tinggi.
Perlu dicermati apakah bersifat sementara atau berkelanjutan
Meskipun ada kekhawatiran pasar, Faris menegaskan masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa defisit neraca perdagangan menjadi sinyal perlambatan ekonomi yang bersifat permanen. Ia menekankan perlunya dicermati apakah kondisi ini hanya berlangsung sementara akibat ketidakpastian saat kebijakan ekspor satu pintu pertama kali diumumkan.
Ia juga menggarisbawahi kemungkinan lain, yaitu apakah dampaknya berkembang menjadi tren yang berkelanjutan. Penilaian tersebut penting karena arah kebijakan dan respons pelaku usaha dapat memengaruhi perbaikan atau kelanjutan tekanan neraca dagang.
Secara lebih spesifik, defisit neraca perdagangan pada Mei dipengaruhi dua faktor utama. Pertama, meningkatnya impor migas seiring kenaikan harga minyak dunia. Kedua, menurunnya produksi komoditas ekspor akibat implementasi kebijakan ekspor satu pintu.
Dengan demikian, rilis BPS mengenai defisit sebesar 1,61 miliar dollar AS serta perubahan dari surplus 89,1 juta dollar AS pada April menjadi indikator yang perlu dibaca pasar secara lebih hati-hati. Imbasnya dapat memberi tekanan sentimen, tetapi arah lanjutan IHSG tetap bergantung pada apakah dinamika tersebut bersifat sementara atau berlanjut.












