jurnalistik.co.id – Xabi Alonso memulai babak baru di Chelsea dengan membawa narasi yang jarang terdengar di ruang ganti besar: luka yang ditutup rapat, lalu energi yang direset untuk membangun kembali arah klub.
Pelatih berusia 44 tahun itu sedang menjalani pramusim bersama skuadnya di Sydney, dan setiap sesi tampak seperti lanjutan dari pola yang ia kenal saat masih menjadi pemain—mengatur ritme, lalu membuat permainan mengalir lewat umpan-umpan pendek yang presisi sebelum melepaskan umpan silang “lintas lapangan” menjadi ciri khasnya.
Di Sky Park, rumah Sydney FC, latihan Alonso membuat pemain-pemainnya merasa dekat dengan detail yang sering luput dari program pramusim. Levi Colwill, bek tengah yang tampil impresif di tur Australia, mengaku merasa “jealous” melihat cara kerja sang pelatih selama sesi-sesi tersebut.
Dari Real Madrid ke “scar” yang sudah sembuh
Di sebuah hotel di Darling Harbour, Alonso membuka perjalanan panjangnya menuju sepak bola tingkat tertinggi—dimulai dari pengaruh ayahnya, Periko Alonso. Periko, yang juga pernah bermain sebagai internasional Spanyol serta pernah memperkuat Real Sociedad dan Barcelona, menyiapkan latihan untuk hari berikutnya sejak Xabi masih kecil; Alonso menghabiskan waktu berdiri di samping ayahnya saat sesi persiapan itu berlangsung, seolah prosesnya sudah menjadi takdir sejak awal.
Alonso kemudian menjelaskan bahwa jalan tersebut bukan sesuatu yang asing. “The road was not unknown for me. I had seen that at home. I’m not saying it was meant to be, but I had to try it. I wanted to try it, but not straight to the top level. I started in the under-14s and that was the way I wanted. It felt natural, not to rush,” katanya, menekankan bahwa ia memilih berkembang bertahap, bukan lompatan instan.
Karakter tersebut terlihat pula dari cara ia menjalankan karier kepelatihan. Setelah mengambil alih Bayer Leverkusen, yang sebelumnya dikenal sebagai “Neverkusen”, Alonso justru menorehkan sejarah pada 2024 dengan memimpin tim meraih “unprecedented domestic double”: gelar Bundesliga pertama dan trofi DFB-Pokal pertama sejak 1993. Ia menyebut pencapaian itu “unexpectedly fantastic”.
Kendati demikian, babak berikutnya bersama Real Madrid—yang ia masuki pada Mei tahun lalu—berakhir lebih cepat dari rencana. Alonso meninggalkan klub melalui kesepakatan bersama setelah muncul laporan di Spanyol mengenai perselisihan dengan pemain kunci, termasuk Vinicius Jr. Mengenai masa awalnya di Madrid, Alonso berkata, “Luckily, there are not too many scars in my career. I got a scar, now it is healed and I am determined to enjoy this next step as I did when I started in Madrid.”
Ia menambahkan bahwa ketidakcocokan yang terjadi ia tanggapi dengan evaluasi diri. “For the things that didn’t work, I have been very critical of myself, thinking about what I could have done better. You learn from the disappointment of things,” ujarnya. Baginya, yang sulit bukan sekadar kehilangan tempat, melainkan kemampuan meredam kekecewaan dan mengubahnya menjadi bahan perbaikan.
Reset energi sebelum mengunci arah Chelsea
Empat bulan di antara kepergian dari Madrid dan kedatangannya ke Chelsea dimanfaatkan Alonso untuk “reset energy”. Hasilnya terlihat dalam sesi terakhirnya di Sydney, ketika ia menjalankan latihan penuh bersama skuad sebelum menghadapi Tottenham Hotspur (Spurs). Setelah itu, Alonso juga menarik Nicolas Jackson dan Moises Caicedo untuk latihan-drill yang menuntut keterlibatan penuh—mereka berhadapan dalam situasi yang menekankan duel, posisi, serta usaha merebut bola.
Selain fokus taktis, pramusim kali ini juga dipenuhi unsur membangun kebersamaan. Pemain diberi waktu untuk kegiatan yang lebih ringan, termasuk pergi ke bioskop dan aktivitas wisata. Seluruh skuad bahkan mengunjungi North Sydney Olympic Pool yang baru direnovasi untuk sesi renang musim dingin di Australia.
Pertemuan diam-diam dan keputusan soal “timing”
Alonso tidak hanya bicara tentang rencana besar, tetapi juga memilih memastikan kompatibilitas sejak awal. Selama tiga pekan di awal Mei, ia mengadakan pertemuan rahasia di London dan di kampung halamannya, San Sebastian, untuk memastikan bahwa Chelsea adalah tempat yang tepat.
Terkait pertanyaan mengapa ia memilih Chelsea dibanding Liverpool—klub lamanya—Alonso menegaskan tidak ada tawaran di meja dari pihak tersebut. Ia juga mengatakan bahwa “timing” yang membuatnya datang ke Chelsea ketimbang Anfield. “I had a view of Chelsea from the outside,” ungkapnya, lalu menjelaskan bagaimana ia menimbang secara detail sisi positif dan kekhawatiran, sebelum berdiskusi awal dengan para direktur olahraga.
Berita Terkait
Alonso menuturkan, “I could see the positives and my concerns, so I addressed them. We had the same ideas, the same analysis, to start building momentum together. That is why we are taking these steps together and making decisions to build a good team.”
Investasi skuad senior, plus penataan budaya
Visi Alonso juga dibaca lewat belanja yang sudah dilakukan. Ia menyebut perekrutan Morgan Rogers dari Aston Villa seharga ÂŁ117m sebagai bagian penting dari rencana. Rogers menjadi target serangan utama Chelsea, dan pengadaannya dilakukan meski ada ketertarikan dari juara Premier League, Arsenal.
Alonso turut menambahkan Marco Palestra dari Atalanta sebagai penguatan posisi bek sayap penuh. Ia juga membuka kemungkinan pembicaraan untuk opsi sisi kiri, Pep Chavarria dari Rayo Vallecano, yang masih dalam tahap percakapan.
Ketika ditanya soal dukungan yang ia terima, Alonso memilih tidak bersikap berlebihan. “We have taken a few steps but I feel that we can still take a few more,” katanya.
Di sisi struktur klub, Alonso menegaskan perannya sebagai manajer pertama—bukan head coach—dan ia tidak berdiri sendirian di belakang kemudi. Todd Boehly dan Clearlake Capital berada dalam bingkai kepemimpinan, sementara lima direktur olahraga klub memegang tanggung jawab besar, meski semuanya tetap berjalan dalam dialog konstan dengan Alonso dan stafnya.
Di bursa yang sedang berjalan, Chelsea juga menyambut Danny Welbeck, 35 tahun, yang akan bergabung untuk fase pramusim. Welbeck diposisikan sebagai perlindungan pengalaman untuk Joao Pedro, sekaligus membawa pengaruh positif di ruang kerja tim.
Gelandang Jordan Henderson, 36 tahun, juga dijadwalkan datang setelah Chelsea tidak berhasil mengamankan Granit Xhaka—mantan kapten Bayer Leverkusen milik Alonso—dari Sunderland. Henderson diharapkan membantu menaikkan standar, terutama lewat karakter kepemimpinan yang vokal.
Alonso menyebut bahwa bentuk peran tersebut mengingatkannya pada pengalaman ketika ia bekerja di bawah Thomas Tuchel bersama timnas Inggris di Piala Dunia musim panas ini, serta membandingkannya dengan fungsi yang pernah ia jalankan di penghujung kariernya bersama Pep Guardiola di Bayern Munich: membawa level, disiplin, dan “suara” yang diperlukan saat suasana ruang ganti membutuhkan arah.
Menurut Alonso, perubahan yang sedang dibangun adalah revolusi senior untuk tim yang relatif muda di Premier League. Chelsea sebelumnya menghadapi masalah indisiplin, anggapan tentang kerapuhan saat bertahan pada situasi bola mati, dan yang paling penting: kekurangan kepemimpinan serta kultur ruang ganti. Ia menegaskan, “You need the right balance of personalities and stages of maturity, with players in their early 20s, early 30s and everything in between.”
Budaya tidak berhenti di lapangan
Alonso menaruh penekanan besar pada budaya. Ia mengingatkan bahwa di Basque Country, ada rasa kuat tentang tujuan bersama dan kultur kolektif. Baginya, kultur harus melampaui pemain inti di lapangan. Ia juga menceritakan bahwa baru-baru ini ia memberi assist dalam sebuah pertandingan staf, dan tim yang ia bantu menang sebelum keberangkatan tur luar negeri.
Keputusan pindah ke London juga dibawa dengan suasana pribadi yang terasa. Dengan anak-anak berusia 18, 16, dan 12 tahun, keluarga Alonso menyambut langkah tersebut dengan antusias. Walau Chelsea menutup musim lalu di peringkat 10 tanpa trofi, Alonso menilai situasinya tidak seburuk yang terlihat.
“The situation was not as bad as it looked at the end of last season,” ujarnya, sebelum menambahkan, “There is big potential to improve and let’s see how long it takes.”
Satu bulan setelah mulai bekerja, ia mengaku terdorong karena banyak harapan yang mulai terlihat wujudnya. Namun ia juga menyadari ada unsur ketidakpastian ketika mencoba meninggalkan jejak di salah satu klub terbesar Premier League, kali ini sebagai manajer, bukan sebagai pemain.
Dalam cara ia menjelaskan keputusan, Alonso kembali menggunakan isyarat tubuh. “For sure, it had to come a lot from here,” katanya sambil menunjuk ke dadanya, “And also from here,” lanjutnya sambil menunjuk ke perut, seolah menggambarkan bahwa keputusan harus lahir dari “gut”. Ia menutup dengan kalimat yang mengunci niatnya: “I felt it was good timing for the club and good timing for myself. It was a good opportunity and I felt I had the chance to enjoy being a manager.”












