jurnalistik.co.id – Shiho Kuwaki meraih kemenangan dramatis di Women’s Open 2026 setelah mengalahkan Esther Henseleit lewat play-off dua hole. Gelar ini sekaligus membuat pencapaian Kuwaki menjadi momen bersejarah, karena ia menjadi pemain Jepang kedua secara beruntun yang menjuarai turnamen tersebut.
Final berlangsung penuh ketegangan di Royal Lytham & St Annes, dengan rangkaian momen yang saling tarik-menarik. Pada bagian penentuan, terutama di hole ke-18, nasib terasa berjalan naik-turun untuk kedua pemain yang akhirnya harus menyelesaikan laga dengan play-off.
Drama di hole pamungkas
Seiring jalannya ronde di hari Minggu, perhatian langsung tertuju pada peluang siapa yang bisa mempertahankan posisi puncak. Ketika persaingan mengerucut, Henseleit mulai menunjukkan tekanan besar dan berhasil memaksa perpanjangan dengan pukulan yang menentukan.
Henseleit membuat dirinya menyamakan kedudukan setelah memasukkan birdie putt sejauh 45 kaki untuk menarik level pada lima under par. Pada saat yang sama, Kuwaki harus menunggu di clubhouse dengan perasaan yang jelas terbebani oleh ketidakpastian.
Setelah keduanya melalui hole play-off pertama dengan cara yang berbeda, perpanjangan benar-benar membuka lembaran baru. Di hole sudden-death tersebut, mereka sama-sama mencetak par, namun kejadian di fase berikutnya berujung pada kesulitan untuk Henseleit.
Ketika giliran Henseleit di momen kunci datang, drive-nya tidak berjalan mulus. Bola memantul mengenai seorang marshal lapangan, lalu diarahkan ke semak gorse. Dari posisi sulit itu, Henseleit akhirnya tidak mampu menyelamatkan par.
Kondisi tersebut memberi Kuwaki jalan yang lebih terbuka untuk menyegel kemenangan. Dengan dua putt yang memastikan, Kuwaki mengambil trofi dengan hasil yang memastikan play-off berakhir di dua hole.
Hadiah kemenangan yang diraih Kuwaki mencapai £1.11m. Ia juga membawa konteks emosional yang kuat ke turnamen ini, karena hanya 12 bulan sebelumnya ia gagal lolos cut di Royal Porthcawl.
Dalam pernyataannya setelah kemenangan, Kuwaki mengekspresikan rasa tidak percaya dan kebanggaannya. “I just can’t believe it,” said Kuwaki, whose previous five wins as a professional had all arrived on her home tour.
Ia menambahkan bahwa atmosfer dan panggung sebesar ini membuatnya fokus pada detail permainan. “To be on a stage like this is an honour and every hole I was just focused on shot by shot. I just tried to enjoy it as much as I could.
Berita Terkait
Selain itu, ia juga menyebut harapan agar golf Jepang terus bersinar. “It’s an amazing feeling to win again as a Japanese player. I hope as team Japan we can continue to light up the golf world.”
Upaya mengejar dari jajaran papan atas
Sepanjang sore hari, pertanyaan terbesar adalah apakah Yealimi Noh bisa dikejar dan merebut puncak. Namun bagi Noh, peluang tersebut tidak berujung pada kemenangan—ia finis hanya satu pukulan di belakang dan harus menerima hasil yang tertahan.
Bagi Noh, penyelesaian turnamen tetap menyisakan rasa frustrasi karena harapannya untuk meraih kemenangan kedua di level profesional belum menjadi kenyataan. Ia menyelesaikan ronde dengan tertinggal satu pukulan.
Sementara itu, Kuwaki tetap menjadi jawaban utama dalam duel menuju finis. Ia muncul sebagai pemain yang mampu tampil di bawah par dalam kelompok-kelompok terakhir, bersama Henseleit, ketika tekanan makin intens dan margin semakin tipis.
Di sisi lain, Lottie Woad dan Charley Hull berusaha memberi warna pada tantangan dari Inggris, namun upaya mereka tidak cukup untuk menggoyahkan jalur kemenangan yang akhirnya terbentuk. Haeran Ryu, yang memiliki kemampuan untuk bersaing, justru kerap terhambat oleh situasi bunker yang tersebar di sekitar Royal Lytham & St Annes.
Bahkan Nelly Korda, yang berstatus nomor satu dunia, turut menjadi bagian dari cerita kegagalan di momen penting. Ia menyesali hasil double-bogey pada ronde ketiga Sabtu, yang membuat posisinya saat itu tidak cukup untuk menjaga asa menuju grand slam karier.
Walau Korda kemudian membukukan skor tiga under 68 untuk menutup kejuaraan di posisi dua under, hasil dari hari Sabtu tetap membuatnya berada di ambang yang “hanya” sedikit terlambat. Perbedaan tersebut menjadi faktor penentu, karena peluang grand slam karier itu sirna dalam rentang 24 jam berikutnya.
Sebelum drama play-off terjadi, satu ronde Kuwaki juga memberi sinyal kuat. Skor satu under 70 menempatkannya pada posisi ideal untuk menjadi pemain Jepang keempat yang memenangkan turnamen Women’s Open.
Di tengah semua itu, Henseleit memasuki tahap akhir dengan ambisi besar. Ia menargetkan untuk mengikuti jejak Sophia Popov, dengan harapan menjadi perempuan Jerman kedua yang meraih gelar major. Ia menunjukkan keberanian dan ketajaman di green ke-18, namun momen tersebut justru membuat perayaan Kuwaki tertunda hampir satu jam.
Akhirnya, ketika perpanjangan dimulai, peristiwa yang menimpa Henseleit di salah satu hole play-off menjadi titik balik. Dari sana, Kuwaki memastikan dua putt yang menutup cerita—menjadi juara Women’s Open 2026 sekaligus mengukuhkan kelanjutan dominasi pemain Jepang di ajang tersebut.












