Olahraga

Emma Finucane Raih Emas Keempat dan Antar Wales ke Puncak Penutupan Commonwealth Games 2026

×

Emma Finucane Raih Emas Keempat dan Antar Wales ke Puncak Penutupan Commonwealth Games 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: Emma Finucane wins fourth gold and leads Wales into closing ceremony

jurnalistik.co.id – Emma Finucane menorehkan capaian yang nyaris mustahil: merebut emas trek keempat pada Commonwealth Games 2026 dan sekaligus membawa bendera Wales saat penutupan berlangsung di Glasgow. Atlet 23 tahun asal Carmarthen itu menyelesaikan pekan kompetisi dengan cara yang menegaskan statusnya sebagai sosok paling menentukan di lintasan.

Finucane memulai hari itu lebih pagi, tepatnya pada heat pertama cabang keirin di pukul 9 pagi. Setelah belasan jam kemudian, hasilnya datang dengan final yang meyakinkan—ia meraih emas pada hari terakhir nomor-nomor yang dipertandingkan. Dari momen kemenangan itu, tugas berikutnya tidak kalah simbolik: menjadi pembawa bendera Wales di akhir rangkaian acara penutupan Commonwealth Games 2026.

“I don’t think I’ll ever believe I’ve created history here and I can’t believe little me has done this,” ujar Finucane, menggambarkan sulitnya menerima kenyataan saat sejarah benar-benar tercipta. Ia menambahkan, “The 10-year-old Emma is screaming inside about what is going on. I don’t think it’ll sink in probably until the next Commonwealth Games.”

Finucane pun menegaskan bahwa keberhasilan tersebut terasa seperti pencapaian yang melampaui batas yang ia bayangkan sebelumnya. Bagi Wales, momentumnya menjadi lebih berarti karena Finucane menjadi motor penggalangan kemenangan di cabang sepeda trek, sejalan dengan keberhasilan kontingen yang meraih 31 medali di Glasgow.

Sejarah empat emas dalam satu Games

Keberhasilan empat emas lintasan dalam satu Commonwealth Games bukan sekadar rekor baru, melainkan pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Finucane melengkapinya di ajang yang berlangsung di Sir Chris Hoy Velodrome—venue bersejarah yang dinamai menurut legenda Scottish tersebut, yang dikenal sebagai salah satu sprinter trek terbaik dalam sejarah.

Dalam konteks itu, Finucane ditempatkan bersama nama-nama besar yang juga pernah menorehkan dominasi pada Commonwealth Games, seperti Victoria Pendleton, Jason Kenny, Becky North, dan Anna Meares. Meski demikian, ia memilih menempatkan dirinya pada perspektif yang berbeda. “No, I’m nowhere near them,” kata Finucane. “They are icons of the sport. Absolute legends. To even have my name beside them is insane.

“I am not in their class but it’s something you don’t think about as an athlete. We’re in a little bubble in here. I am going to keep doing what I’m doing, go out there and ride with passion and love and see how far I can go in the sport.”

Uraian itu memperlihatkan bagaimana ia memandang pencapaiannya sendiri: bukan sebagai upaya instan untuk mengejar legenda, melainkan hasil dari kerja yang dijalankan secara konsisten. Finucane juga menyatakan bahwa ia tidak serta-merta mengerti perbandingan-perbandingan yang disodorkan, karena ia fokus pada tugas yang harus dijalani di lintasan.

Tekanan tinggi, eksekusi yang rapi

Pada pekan tersebut, tekanan memang berada di pundaknya. Ia datang sebagai favorit yang “jelas berbeda” dari lapangan, bahkan ketika persaingan tetap diisi nama-nama besar, termasuk Ellesse Andrews yang merupakan triple Olympic champion. Namun, di setiap hari perlombaan, Finucane mampu mempertahankan ritme dan kendali.

Setelah merebut kemenangan di team sprint bersama Rhian Edmunds dan Lowri Thomas, ia kemudian tampil dominan di beberapa nomor lainnya. Finucane mencatat keberhasilan di individual sprint, 1,000m time trial, dan keirin, dengan rangkaian performa yang menegaskan bahwa kekuatan fisiknya terlihat jelas di mata penonton sekaligus terbukti dalam ketenangan mental saat menghadapi rangkaian hari yang menuntut.

“I definitely felt the pressure,” ujar Finucane. “Throughout the week, I just rode for my own race and it unfolded how it did. After yesterday, the media were asking can you do four? I wanted to and knew it might be possible.

“In that semi-final I nearly didn’t get through so I just enjoyed that final. I wanted to ride a race I was proud of. I rode it with confidence. I got myself to the front and just went out there and left everything on the track.”

Kalimat-kalimatnya memberi gambaran bahwa ia tidak sekadar “menang”, melainkan mengelola dinamika: dari nyaris gagal di semi-final hingga keputusan untuk menikmati final dan mengunci kendali sejak awal.

Emosi, dukungan keluarga, dan pengabdian untuk Wales

Finucane juga menciptakan sejarah di level nasional dengan menjadi perempuan Welsh paling sukses sepanjang sejarah Commonwealth Games. Ia mengakui bahwa kehormatan mewakili Wales memiliki nilai tersendiri, terutama karena dalam kompetisi besar seperti Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, ia umumnya berlomba untuk Great Britain.

Ia menuturkan bahwa dirinya terinspirasi oleh pidato dari rekan satu timnya, Lewis Oliva, tentang makna representasi negara. “I was crying my eyes out when I heard this,” kata Finucane. “He said this was the reason we do what we do, because you are Welsh. He ignited a fire in me. I was determined to ride for Wales and was going to do it with passion.”

Dominasi Finucane turut membentuk “medal charge” Wales di Glasgow, dengan 11 posisi podium dalam total, meliputi enam emas, tiga perak, dan dua perunggu—catatan yang menjadi penampilan olahraga paling sukses di ajang Commonwealth tersebut.

Ia juga mendengar lagu kebangsaan Wales empat kali dalam hari-hari berurutan, dua kali bersama rekan-rekan tim dan tiga kali secara pribadi. Ia mengaku bahwa justru pada momen terakhir, emosinya paling kuat ketika ia berusaha menerima apa yang telah ia capai. “I was an absolute mess on the podium,” ujarnya. “I saw my family in front of me, the Welsh flag, and then all my team-mates also draped in the red flag.

“Things like this happen once every four years and I wanted to stand on that top set, sing the anthem and live in the moment.”

Di luar dirinya, suasana serupa juga terasa di keluarga. Di tribun, kakaknya tampak meneteskan air mata ketika lagu kebangsaan berkumandang bersama orang tua mereka, sedangkan pacarnya, Matthew Richardson, tetap terhubung dari Jepang.

Finucane sempat dijadwalkan bertanding untuk England sebelum mengalami cedera akibat kecelakaan dalam cabang sepeda, pengalaman lain yang harus ia kelola bersama tuntutan ajang. Ia menyebut dukungan keluarga menjadi penopang utama. “My mum and dad, my sister and partner was here, my brother’s back at home and Matty was on FaceTime,” kata Finucane. “He’s literally in Japan and it’s like 2am and he’s called me. So I have a massive support network network with me and they love me no matter what.

“They’ll text me, if you win or lose and that means everything because they don’t put stress on me.”

Menatap ke depan tanpa meninggalkan momen

Setelah menaklukkan Commonwealth, perhatian kemudian mengarah pada Olimpiade Los Angeles 2028. Namun, Finucane memilih untuk tidak segera memindahkan fokus. “I knew these questions would come, but I want to live in the moment,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa ia memiliki kecenderungan untuk terus melihat tantangan berikutnya, sesuatu yang ia akui belum selalu ia lakukan dengan baik.

Finucane menyebut bahwa ada Kejuaraan Dunia dalam 10 minggu, dan dalam waktu dekat ia akan berlibur bersama kakaknya sebelum memulai persiapan. Tetapi untuk saat ini, ia ingin menyerap seluruh pengalaman itu. “But for now I’ll just soak it in and it probably won’t do that for a long time.”

Sesaat sebelum penutupan, ada tugas lain yang menunggu: menjadi pembawa bendera. Dalam rangkaian wawancara seusai lomba, ia diberi tahu oleh Team Wales chef de mission Gethin Jones bahwa ia akan memegang bendera.

“I’m so honoured and I’m going to wave that flag with so much pride because Wales is amazing,” kata Finucane. “It’s such a beautiful place. We have so much pride, so much passion and so much talent. I feel like I’m living in an absolute dream. I can’t believe I’m going to be the one standing there on television with the flag. It just doesn’t feel real, it probably never will.

“I want to live in that moment, just breathe, realise what I’m doing, and fly the flag as loud and as proudly as I can.”