jurnalistik.co.id – JAKARTA, KOMPAS.com — Penguatan kapasitas guru dinilai menjadi titik awal yang menentukan seberapa cepat talenta kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) bisa lahir di Indonesia. Menurut narasi yang disampaikan para pengelola program, literasi AI yang dimiliki pendidik akan memperluas dan membuat proses pemindahan pengetahuan kepada peserta didik berjalan lebih berkesinambungan.
Di Program IndonesiapandAI yang digelar di Jakarta, Founder serta Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Kader Bangsa Indonesia (YPKBI) Dirgayuza Setiawan menempatkan peran kolaborasi lintas sektor sebagai kunci. Ia menyebut, kemitraan pendidikan dan industri teknologi dapat membantu generasi muda mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat.
“Ketika industri teknologi kelas dunia dan dunia pendidikan bersatu, hasilnya luar biasa. Para guru kini tidak hanya memahami Generative AI, tetapi juga mampu membangun proyek AI mereka sendiri dan mendapat kesempatan meraih sertifikasi AWS AI Practitioner bertaraf internasional,” ujar Dirgayuza dalam keterangannya, Minggu (28/6/2026).
Dirgayuza menambahkan bahwa penguatan kompetensi guru tidak berhenti pada kemampuan individu pendidik. Pengetahuan yang diperoleh, menurutnya, dapat diteruskan kepada siswa maupun tenaga pendidik lainnya sehingga dampaknya berlipat dan lebih luas.
Pandangan itu sejalan dengan arah YPKBI untuk menghadirkan pendidikan berkualitas internasional bagi generasi muda Indonesia. Dalam kerangka tersebut, Program IndonesiapandAI dijalankan sebagai hasil kolaborasi YPKBI bersama Amazon Web Services (AWS).
Pelatihan dan sertifikasi untuk guru dalam ekosistem AI
Kolaborasi YPKBI dan AWS menghadirkan pelatihan gratis yang mencakup komputasi awan (cloud computing) serta AI generatif. Program ini ditujukan bagi para guru dari sekolah-sekolah unggulan yang tergabung dalam jaringan YPKBI.
Sebanyak 22 guru mengikuti pelatihan intensif berbasis praktik (hands-on). Dalam prosesnya, para peserta tidak hanya mempelajari materi, tetapi juga membangun aplikasi AI menggunakan platform PartyRock milik AWS.
Selain rangkaian praktik, para guru juga memperoleh kesempatan untuk mengikuti sertifikasi internasional AWS Certified AI Practitioner. Dengan rancangan seperti itu, kemampuan yang dibentuk di kelas diharapkan berujung pada kesiapan pendidik untuk mengembangkan proyek-proyek AI secara mandiri.
Di saat yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid—yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas YPKBI—menilai investasi pada peningkatan kapasitas guru dapat mempercepat terbentuknya ekosistem AI yang inklusif di Indonesia. Ia menegaskan bahwa AI perlu diposisikan sebagai alat pemerataan kesempatan, bukan faktor pemicu kesenjangan baru.
“AI harus menjadi alat pemerataan kesempatan, bukan sumber kesenjangan baru. Karena itu, pembangunan ekosistem AI Indonesia harus dimulai dari penguatan sumber daya manusia,” kata Meutya.
Meutya juga menyampaikan bahwa kemitraan YPKBI dan AWS melalui Program IndonesiapandAI memperlihatkan bagaimana investasi pada satu guru bisa memunculkan efek yang jauh lebih luas. Ia mengaitkannya dengan potensi jangkauan pembelajaran yang dapat berpindah dari pendidik ke ribuan peserta didik.
“Kolaborasi YPKBI dan AWS melalui Program IndonesiapandAI membuktikan bahwa investasi pada satu guru dapat menghadirkan dampak yang jauh lebih besar bagi ribuan peserta didik,” lanjut Meutya.
Menurutnya, efek berantai dari peningkatan kompetensi guru akan mempercepat lahirnya talenta-talenta digital yang dibutuhkan Indonesia. Talenta tersebut dipersiapkan agar masyarakat mampu bersaing di era ekonomi digital yang terus berkembang.
Ia menambahkan bahwa akses pendidikan dan peluang berinovasi tidak boleh dibatasi oleh lokasi maupun latar. “Setiap anak bangsa, di mana pun berada, harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berinovasi, dan berpartisipasi dalam ekonomi digital masa depan. Dengan cara itulah AI menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi sekaligus kemajuan sosial yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Head of APJ Market Expansion & Strategic Partnerships, Training & Certification AWS Yashinta Bahana menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor memang menjadi prasyarat untuk mempercepat penyiapan talenta AI nasional. Dalam penjelasannya, penguatan tidak cukup hanya datang dari satu pihak, melainkan harus berjalan bersama-sama dengan pendidikan dan pemerintah.
“Kami percaya bahwa ketika industri, pendidikan, dan pemerintah bersatu, akselerasi penyiapan talenta AI Indonesia akan berlipat ganda,” ujar Yashinta.
Yashinta menuturkan bahwa Program IndonesiapandAI juga dirancang agar akses pelatihan cloud dan AI dapat diperluas. Ia menekankan materi disediakan dalam bahasa Indonesia dan bisa dimanfaatkan secara terbuka oleh masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, literasi AI diharapkan menjangkau lebih banyak kalangan dan memperkuat daya saing SDM Indonesia pada masa transformasi digital. Yashinta juga memandang hubungan langsung antara kebutuhan industri dan peran pengajar sebagai cara paling efektif untuk membentuk talenta.
“Kolaborasi ini mempertemukan kebutuhan industri secara langsung dengan para pengajar yang mencetak generasi penerus bangsa, sehingga satu guru yang terampil hari ini dapat menjadi katalis bagi ribuan inovator di masa depan,” tegas Yashinta.











