jurnalistik.co.id – Petinju asal Uganda, Aziz Abdul, didiskualifikasi dari pertarungannya pada Commonwealth Games 2026 di Glasgow setelah diduga melakukan headbutt kepada lawannya dari Inggris, Damar Thomas.
Insiden itu terjadi saat Abdul dan Thomas saling berpegangan pada ronde ketiga. Abdul kemudian terlihat mengangkat kepalanya ke arah dagu Thomas, sebelum akhirnya mendapat sanksi.
Abdul, yang berusia 25 tahun, menerima hukuman pada bagian awal ronde ketiga. Ia menjadi pihak yang lebih dulu dihentikan, sehingga Thomas memastikan kelanjutan turnamen dengan hasil minimal medali perunggu.
Setelah pertandingan, Abdul menyampaikan bahwa ia merasa keputusan wasit dan juri tidak adil. Ia mengatakan soal perlakuan terhadap petinju Inggris dan klaim ketimpangan penilaian.
Ia menuturkan, “When you watch the previous fights of England their boxers create a lot of fouls,” lalu menambahkan, “I land a heavy punch on him, they never count. Instead of counting they deduct me. I am black African. He is in homeland.”
Abdul juga mengaitkan nasibnya dengan identitasnya sebagai “black African” dan menyebut Thomas sebagai “in homeland”. Pernyataan itu muncul setelah ia melihat adanya perbedaan dalam cara penilaian berlangsung sepanjang pertarungan.
Sebelum duel berlangsung, Abdul sebelumnya berbicara kepada BBC mengenai targetnya di ajang tersebut. Ia menyatakan ingin menjadi sosok yang ia sebut sebagai “King of Scotland,” merujuk pada pengumuman Idi Amin pada 1976.
Idiom itu menghubungkan Abdul dengan kisah keluarga yang tidak terlepas dari sejarah panjang rezim Idi Amin. Amin merebut kekuasaan melalui kudeta pada 1971 dan dikenal menjalankan pemerintahan keras dengan perkiraan korban sekitar setengah juta orang.
Amin juga dikenal dengan julukan “Butcher of Uganda.” Abdul sendiri tidak pernah bertemu kakeknya, tetapi ia melanjutkan pengejarannya di ring sebagai bagian dari ambisi olahraga di Commonwealth Games.
Ia juga mengejar peluang meraih medali tinju Commonwealth Games pertama bagi Uganda sejak edisi Auckland pada 1990. Abdul mengungkap bahwa keberhasilan melawan Thomas seharusnya membuka jalan bagi pencapaian yang sudah lama ditunggu tersebut.
Namun pada pertandingan ini, Abdul mendapatkan peringatan pada dua ronde sebelumnya. Dari kacamata penilaian juri, ia juga tertinggal di seluruh kartu skor pada saat insiden ronde ketiga terjadi.
Abdul kemudian merespons pemutusan pertandingan dengan menyatakan ketidakpuasannya. Ia mengatakan, “All I can say about this is the decision is not right, I am not happy,” serta menambahkan penjelasan terkait momen kepala dan kontak yang terjadi.
Berita Terkait
Ia melanjutkan, “He elbowed me. He caught me with the elbow.” Abdul juga menyatakan bahwa gerakan kepala itu bukan niat, dengan mengatakan, “It [the head movement] was not intentional. I was trying to come back.”
Di bagian lain, Abdul menilai bahwa klaim headbutt tidak sesuai dengan niatnya di ring. Ia menuturkan, “How can I headbutt someone? I would not.”
Abdul kemudian menilai adanya aspek yang menurutnya lebih besar dari sekadar teknik bertarung. Ia menyatakan, “He was the person they wanted to win. He was the winner before.”
Ia juga menutup penjelasannya dengan pernyataan mengenai kondisi strategis saat itu. Abdul mengatakan, “I knew if I did not get knockout I could not win the fight.”
BBC Sport menyebut bahwa mereka telah menghubungi penyelenggara Commonwealth Games dan World Boxing untuk menanggapi komentar Abdul. Pada sisi lain, Thomas menyatakan ketidaksukaannya dengan cara kemenangan itu diraih.
Thomas menilai hasil tersebut tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia mengatakan, “I can’t change what happened today but I can control how I box on Friday,” setelah sebelumnya menyebut ini bukan cara yang diinginkannya, yaitu “not the way” dia ingin menang.
Nama Abdul dan Amin kembali mencuat karena jejak hubungan mereka, termasuk ketertarikan Amin pada Skotlandia. Amin, yang juga merupakan petinju, pernah bertugas pada usia dua puluhan di King’s African Rifles, dan pada masa puncak rezimnya dikenal dekat dengan budaya Skotlandia.
Menurut laporan itu, Amin gemar mengenakan kilt dan memainkan bagpipes. Ia bahkan pernah menyatakan dirinya sebagai “King of Scotland” pada 1976.
Beberapa tahun setelahnya, preferensi tersebut ikut melahirkan film yang diakui secara internasional. Film itu adalah The Last King of Scotland yang memenangkan penghargaan Oscar, dibintangi Forest Whitaker dan James McAvoy.
Dalam wawancara sebelumnya, Abdul menyebut bahwa dirinya merasa “inspired” oleh Amin. Meski demikian, rincian apakah inspirasi itu terkait semangat bertinju atau aspek lain tidak dijelaskan sepenuhnya di kesempatan tersebut.
Ketika ditanya apakah ia bangga menjadi cucu seorang diktator, Abdul menolak untuk memberikan jawaban. Ia namun tetap membahas bagaimana perasaannya ketika namanya dikaitkan dengan reputasi yang ia sebut memiliki “such a sinister reputation.”
Pertandingan Abdul melawan Thomas di Glasgow kini menjadi sorotan, baik dari sisi keputusan pertandingan maupun narasi yang menyertainya. Dengan Thomas melaju dan Abdul didiskualifikasi, Commonwealth Games 2026 kembali menegaskan dinamika ketat di setiap ronde serta perhatian publik terhadap cara hasil dibuat.











