Olahraga

Commonwealth Games 2026: Perjalanan Ruby Evans di Glasgow menuju emas final lantai untuk Wales

×

Commonwealth Games 2026: Perjalanan Ruby Evans di Glasgow menuju emas final lantai untuk Wales

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: The Glasgow journey of Wales' golden gymnastic girl Ruby Evans

jurnalistik.co.id – Commonwealth Games 2026 di Glasgow menghadirkan cerita yang terasa seperti menghapus luka lama menjadi sebuah perayaan. Salah satu sorotannya datang dari gimnastik artistik Wales, Ruby Evans, yang pada akhirnya meraih emas nomor lantai dan menorehkan sejarah sebagai juara emas pertama Wales di ajang tersebut.

Di awal pekan, Evans keluar dari Glasgow International Arena dengan air mata pada Minggu malam. Kekecewaan itu muncul setelah pertandingan all-around putri beregu individu yang tidak berjalan sesuai harapan. Hasilnya, ia finis di urutan keenam, sementara banyak pihak—termasuk dirinya dan yang lain—memperkirakan capaian yang lebih tinggi.

Namun, dua hari berselang, wajah Glasgow International Arena berubah. Evans tampil memikat di final lantai dan mengunci kemenangan yang membuat Wales mendapatkan juara pertama di Commonwealth Games 2026 untuk nomor tersebut.

Ini bukan capaian yang datang tiba-tiba. Perjalanan Evans selama beberapa tahun terakhir membentuk dirinya menjadi sosok yang mampu tampil ketika tekanan datang. Ia juga menutup fase penting dalam dua tahun terakhir dengan cara yang layak disebut puncak karier.

Evans sebelumnya pernah berada di panggung Olimpiade. Ia tergabung dalam tim Britania Raya yang finis keempat pada Olimpiade Paris 2024, dan pada usia 17 tahun ia menjadi anggota termuda dari skuad Team GB. Setahun setelahnya, ia juga menunjukkan ketajaman di nomor lantai saat meraih perak di Kejuaraan Dunia 2025 di Jakarta.

Di luar lapangan, ia dikenal sebagai wajah yang cukup mudah dikenali di ekosistem olahraga modern. Evans memiliki lebih dari 117.000 pengikut Instagram, sehingga saat ia datang ke Glasgow sebagai bagian dari Team Wales yang sarat harapan, perhatian terhadap performanya tidak pernah benar-benar hilang.

Meski begitu, ia tidak selalu merasa nyaman dengan posisi sebagai “poster girl”. “I struggled a bit in camp,” kata Evans. “It was like, ‘Ruby Evans, Ruby Evans’, so I knew there was a bit of pressure on me.” Ia menambahkan bahwa untuk bertahan menghadapi tekanan tersebut, ia mencoba memblokir gangguan. “You have to block it out as best as you can. I think I did do that.”

Sejarah panjang itu berangkat dari kebiasaan sederhana sejak usia kecil. Evans mulai menjalani gimnastik sejak umur lima tahun di pusat rekreasi setempat di Cardiff. Ibunya, Leanne, mengingat bagaimana Evans dulu kerap melompat untuk melakukan gerakan akrobat. “She used to somersault off the window sills,” ujar ibunya. Sementara ayahnya, Chris, mengakui bahwa mereka “still did not know anything about gymnastics” pada awalnya.

Momen patah hati sebelum kebangkitan

Minggu yang sama tidak hanya mengubah nasib Evans, tetapi juga merangkum drama yang dialami Wales pada cabang gimnastik artistik selama beberapa hari. Ia menjadi bagian dari tim putri Wales yang hanya berjarak dari medali pada nomor tim. Peran Wales bahkan sempat memimpin kompetisi setelah rotasi kedua, sebelum empat tim terakhir tampil.

Kamera televisi berkali-kali menyorot tim Wales di tribun. Dari sana, para pendukung harus menunggu apakah mereka akan memperoleh medali. Pada akhirnya, harapan itu ditekan oleh kenyataan: Wales ditahan untuk meraih perunggu oleh Inggris.

Keesokan harinya, fokus beralih ke Evans dan harapan individu all-around. Setelah dua dari empat disiplin, ia sempat menempati posisi kedua. Namun, ketika giliran jatuh ke nomor balok (beam), ia mengalami performa yang membuat semuanya bergeser. Dalam rutinitas balok itu, Evans menghadapi awal yang goyah dan bahkan terjatuh di tengah jalan.

Hasilnya, ia turun ke posisi ketujuh. Peluangnya untuk kembali ke papan atas kemudian tinggal bergantung pada lantai, hingga akhirnya ia tetap harus menerima akhir di urutan keenam.

Keputusan untuk bertahan pada kesempatan berikutnya juga berhadapan dengan kondisi fisik. Pada Senin, Evans menarik diri dari nomor palang tak sejajar (uneven bars) karena cedera bahu. “I just watched the competition, had some food and chilled and watched the Love Island final,” ujar Evans, menggambarkan jeda yang ia ambil setelah kekecewaan yang menumpuk.

Namun, dalam tempo yang tidak panjang, suasana Glasgow juga diwarnai kisah lain dari Wales. Di arena yang sama, Emily dan Abigail Roper, saudari kembar identik, memberi rangkaian cerita medali dalam hitungan jam. Abigail mengalahkan Emily untuk posisi podium ketiga di nomor vault, sementara Emily kemudian kembali dari hasil yang sempat mengecewakan—usai finis keempat—untuk meraih perunggu di nomor uneven bars, dengan momen ikonik ketika kakaknya menyemangati dari tribun.

Rangkaian itu menjadi beberapa “yang pertama” dan membentuk memori yang bertahan: vault pertama untuk perempuan Wales dalam 32 tahun, serta medali palang tak sejajar pertama dalam sejarah. Pencapaian tersebut juga membawa eksposur besar bagi kedua saudari muda tersebut—mereka bahkan tidak menyangka akan mendapatkan banyak permintaan wawancara, termasuk dari berbagai penjuru dunia untuk keluarga mereka.

Simbol naga, gaun berkilau, dan lantai yang menentukan

Memasuki hari terakhir kompetisi, Evans kembali menjadi pusat perhatian dengan dua kesempatan meraih medali. Dukungan Wales hadir dari banyak sisi, termasuk chef de mission Gethin Jones dan Team Wales captain Olivia Breen—para sprinter difabel yang meraih perak pada Senin malam.

Langkah pertama Evans pada hari itu adalah nomor balok lagi. Ia datang ketika penonton sudah menunggu, mengingat “nemesis” yang ia hadapi di all-around individu sebelumnya. Ia keluar di bawah sorakan besar dan menampilkan simbol khas naga dari tim Wales, sebelum kemudian tertawa lepas. Kesan yang muncul adalah ketenangan—sesuatu yang memberi tanda bahwa ia sedang menemukan kembali ritme yang hilang dua hari sebelumnya.

Di atas lantai balok, Evans memberikan eksekusi yang lebih stabil dan akhirnya menyelesaikan nomor itu di posisi ketujuh. Hasil tersebut sesuai perkiraan, karena nomor balok pada hari itu terasa seperti pemanasan menuju inti acara satu jam berikutnya: final lantai.

Keputusan kostum juga menjadi bagian dari cerita. Informasi menyebut bahwa busana yang dipakai bukan sekadar perpaduan merah, putih, dan hijau tradisional Wales, melainkan sesuatu yang berkilau. Ketika giliran Evans tiba—ia menjadi final performer dari delapan atlet—lantainya terasa seperti berubah menjadi panggung dengan intensitas yang semakin naik.

Inggris membuka final lewat Abigail Martin, yang langsung menetapkan standar. Enam pesenam lainnya kemudian mencoba menggoyahkan posisinya, tetapi tidak ada yang berhasil melewati ambang yang ia bangun. Setelah itu, barulah Evans tampil, dan gaun emasnya hampir menyatu dengan permukaan lantai.

Penonton sempat menahan napas ketika Evans mengeksekusi salah satu penampilan paling mengesankan sepanjang perjalanan kariernya yang masih tergolong singkat namun sudah penuh kilau. Ia menjelaskan bahwa dalam nomor tandingnya yang khas, ia menggunakan emosi marah sebagai bahan bakar. Rutinitasnya berjalan dengan efektif—dan kata kunci emosional itu tampak menjadi mesin yang menggerakkan eksekusi.

“I feel like I perform better when I have a bit of fire in me,” kata Evans. “It’s like a completely different feeling. I went out there like my dragon was absolutely firing.”

Meski ia yakin dengan rasa yang ia bawa, tetap ada pertanyaan: apakah performa itu cukup untuk mengubah hasil yang sempat menyakitkan pada hari sebelumnya? Potret kembar Roper terlihat di layar besar, menyemangati dan menunggu. Begitu pula semua pendukung Wales di “kantong” tribun—mereka berharap, tetapi juga harus menghadapi penantian yang terasa panjang.

Akhirnya, putusan datang. Wales mengunci emas pertamanya di ajang tersebut. Evans tampak seperti tidak benar-benar percaya. Rangkaian wawancara pun segera menyusul, sebelum lagu kebangsaan dinyanyikan—sebuah momen yang baru terasa setelah lima hari kompetisi berlangsung.

Evans kemudian langsung mendapat respons meriah dari komunitas gimnastik Wales yang masih berada di arena. Ketika ia menunjukkan medali, sorakan terdengar jelas. Ia lalu digeber menuju rumah Team Wales untuk merayakan bersama keluarga dan teman-teman. Sebagai bagian dari rencana perayaan, permainan bowling sepuluh pin (tenpin bowling) masuk dalam agenda.

“I feel relieved it’s done,” tambah Evans. “I can just chill out and know I did something.” Ia menekankan bahwa perasaannya menjadi tenang setelah gelombang emosi yang panjang. “It’s a good feeling and I feel so calm. I’m so chill. My feelings have been everywhere for the past two weeks.”

Di ujungnya, ia merangkum perubahan paling mendasar dari kisahnya selama dua pekan terakhir: “Now I can just feel nothing. I’m just happy to feel nothing.”

Untuk Ruby Evans, satu pekan Commonwealth Games 2026 itu tidak akan mudah dilupakan—karena di dalamnya ada drama, ada kekecewaan, tetapi akhirnya ada sukacita yang menjelma menjadi emas. Dan kini, cerita itu berlanjut dengan target berikutnya, termasuk rencana ia akan bersaing di European Championships akhir tahun ini.