jurnalistik.co.id – Lima bulan setelah menyerukan Sir Keir Starmer mundur, Anas Sarwar kini menuju peran pemerintahan di kabinet Andy Burnham. Ia akan masuk sebagai menteri lewat sebuah kursi di House of Lords, menandai peralihan fokus dari Holyrood ke Westminster.
Pengangkatan ini sekaligus mengangkat tokoh kunci lain dalam rangkaian pergantian kepemimpinan yang berujung pada jatuhnya Starmer sebagai perdana menteri. Dalam narasi politik yang berkembang cepat, Sarwar diposisikan sebagai bagian dari transisi yang lebih luas di tubuh Partai Buruh.
Publik pertama kali menyorot posisi Sarwar pada Februari, ketika ia secara terbuka menyampaikan bahwa Starmer seharusnya mengundurkan diri. Seruan itu kemudian disebut sebagai momen yang “colossal jeopardy” bagi Starmer—sebuah saat ketika otoritasnya terasa berada dalam risiko besar.
Pada fase itu, sempat ada kesan bahwa kekuasaan Starmer bisa runtuh secara segera dan tidak dapat diperbaiki. Namun, respons dari kalangan menteri tidak lama kemudian berubah: satu per satu, anggota kabinet mengunggah dukungan mereka kepada Starmer melalui media sosial.
Secara umum, pesan loyalitas publik dari menteri kepada perdana menteri tidak selalu menjadi berita. Baru menjadi sorotan ketika peluang sebaliknya—yakni kemungkinan terjadinya keruntuhan—terlihat nyata dan dekat.
Kini, lima bulan setelah gelombang politik itu, Sarwar akan “swapping Holyrood for Westminster” dan mengambil jabatan menteri. Langkah ini juga menempatkannya dalam barisan pejabat yang sudah lebih dulu beralih dari pemerintahan Starmer menuju pemerintahan Burnham.
Sarwar akan bergabung dengan Miatta Fahnbulleh di pemerintahan Burnham. Fahnbulleh, yang kini menjadi energy secretary dalam kabinet Burnham, sebelumnya menjadi figur pertama yang mengundurkan diri dari pemerintahan Starmer dengan alasan mengaku kehilangan kepercayaan pada Starmer.
Di sekitar meja kabinet, ada juga Ed Miliband yang kini menjabat sebagai Foreign Secretary. Miliband disebut telah memberi sinyal—dalam periode minggu-minggu terakhir masa jabatan Starmer—bahwa ia mendorong Starmer untuk menerima bahwa waktunya sudah berakhir.
Selain itu, John Healey yang sebelumnya mundur dari posisi defence secretary juga mendapat peran penting dalam kabinet Burnham. Begitu pula Wes Streeting yang mengundurkan diri dari jabatan health secretary pada akhir masa Starmer di Downing Street, lalu kini menempati peran strategis sebagai defence secretary dalam kabinet Burnham.
Perpindahan jabatan-jabatan tersebut menjadi latar bagi komentar Steve Reed, mantan communities secretary yang selama periode krisis tampil sebagai salah satu pembela Starmer di momen-momen paling genting. Reed menulis kepada Burnham saat ia meninggalkan pemerintahan.
Berita Terkait
Dalam surat yang dikutip, Reed menyatakan: “I hope those who did not show loyalty to Keir will now show it to you. I am proud that I acted with integrity at every step over the turbulent past few months.”
Secara langsung, komentar Reed dibaca sebagai pesan etis sekaligus pengingat mengenai garis loyalitas. Namun, pada saat yang sama, isinya juga menggambarkan adanya luka yang tidak sepenuhnya terlihat dari luar.
Di ruang parlemen, dukungan kepada Burnham terlihat sangat kuat di kalangan MPs Partai Buruh. Meski demikian, pernyataan Reed dinilai menjadi petunjuk tentang adanya kepedihan dan kemarahan yang tersimpan di balik layar akibat kejadian pada hari-hari, pekan, dan bulan-bulan terakhir.
Situasi ini juga mengingatkan bahwa tokoh-tokoh yang dibaca dan didengar publik pada akhirnya tetaplah manusia. Mereka mengalami guncangan ketidakpastian selama periode tersebut, lalu—dengan keadaan, pertimbangan, insting, dan penilaian masing-masing—mengambil keputusan yang berbeda tentang bagaimana harus bersikap.
Dalam konteks yang sama, intervensi publik Darren Jones—yang juga digambarkan sebagai ajudan loyal—dinilai perlu dipahami. Ia melayangkan serangan terhadap pendanaan rencana pemotongan VAT pada tagihan listrik domestik yang disiapkan pemerintahan.
Transisi kepemimpinan yang tidak sepenuhnya dramatis
Alih kepemimpinan di tubuh Partai Buruh disebut tidak sejauh dan seramai yang mungkin terjadi. Menurut penilaian itu, tidak ada tantangan kepemimpinan yang formal terhadap Starmer, dan tidak ada lebih dari satu kandidat pengganti yang muncul setelah ia mengumumkan niatnya untuk pergi.
Meski begitu, rangkaian peristiwa yang mencapai klimaks pada pekan ini, serta proses yang dibangun selama berbulan-bulan sebelumnya, tidak datang tanpa biaya atau rasa sakit politik. Sebagian dari dampak itu tampak mulai terlihat sekarang, dan mungkin masih akan muncul dalam waktu dekat.
Bagi banyak pihak, perubahan dari pemerintahan Starmer ke pemerintahan Burnham bukan sekadar pergantian nama jabatan. Ia juga mencakup perubahan posisi, penataan ulang koalisi internal, serta penegasan ulang sikap—yang di beberapa kasus terasa seperti pergeseran yang lebih personal daripada sekadar administratif.
Karena itu, penempatan Sarwar sebagai menteri melalui kursi House of Lords dipandang sebagai bagian dari narasi besar transisi tersebut. Ia membawa momen Februari yang sempat mengancam otoritas Starmer kembali ke permukaan, kini dalam wujud peralihan peran yang lebih permanen di pemerintahan Burnham.
Pada akhirnya, keberlanjutan dukungan publik kepada Burnham mungkin tampak solid, tetapi dinamika batin di antara tokoh-tokoh Partai Buruh tetap menjadi variabel yang menentukan. Komentar Reed dan sikap para figur lain memberi sinyal bahwa “pergantian haluan” ini akan terus diuji oleh ingatan, pertimbangan, dan konsekuensi politik yang belum sepenuhnya mereda.












