Daerah

Bendera Merah Putih 210 Meter Jadi Atap Lorong, Swadaya Warga Sumber Gedhe Tembus Rp 67 Juta

×

Bendera Merah Putih 210 Meter Jadi Atap Lorong, Swadaya Warga Sumber Gedhe Tembus Rp 67 Juta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bendera 210 Meter Jadi Atap Lorong, Swadaya Warga Lampung Timur Capai Rp 67 Juta

jurnalistik.co.id – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, warga Dusun VI, RT 20, Desa Sumber Gedhe, Kecamatan Sekampung, Lampung Timur, mengubah jalan desa menjadi lorong bernuansa kemerdekaan.

Sepanjang 210 meter, lorong tersebut dihias dengan bendera merah putih yang membentang di atas rangkaian bambu, sehingga dari kejauhan tampak seperti atap yang menaungi jalan sekaligus membentuk lorong khusus.

Warga menyebutnya Lorong Merah Putih. Kehadirannya tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga menjadi ruang berkumpul yang memperlihatkan semangat kebersamaan menjelang Agustus.

Lorong sepanjang 210 meter dari swadaya warga

Pengelolaan lorong ini bermula dari inisiatif warga RT 20 untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Alih-alih mengandalkan dana pemerintah, pembangunan dilakukan murni berdasarkan swadaya masyarakat.

Untuk mewujudkannya, lima bentangan kain merah putih dipasang memanjang di atas ratusan rangkaian bambu. Susunan tersebut kemudian dirangkai hingga membentuk jalur yang dapat dinikmati pejalan kaki di dalam kampung.

Selain kain merah putih, lorong juga diperkaya dengan ornamen kemerdekaan, termasuk lukisan para pahlawan. Setiap bagian dibuat dengan tujuan mengingatkan warga pada perjuangan yang melatarbelakangi kemerdekaan.

“Ini memang kemauan dari warga yang ada di RT 20, tepatnya di Desa Sumber Gedhe, Kecamatan Sekampung. Ini memang kesemangatan dan antusias warga dalam rangka memeriahkan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Safari kepada Kompas.com, Kamis (13/8/2026).

Persiapan dimulai 15 Juli, rampung 30 Juli, diluncurkan 1 Agustus

Safari menyampaikan bahwa persiapan sudah berlangsung sejak 15 Juli 2026. Proses pengerjaan kemudian dituntaskan pada 30 Juli 2026, sebelum lorong dibawa ke tahap peresmian.

Lorong Merah Putih akhirnya diluncurkan pada malam 1 Agustus. Dengan waktu yang terukur, warga menyiapkan seluruh ornamen agar siap menyambut rangkaian peringatan HUT RI.

Dalam pelaksanaan, warga menata ulang area jalan agar tata letak rangkaian bambu dan bentangan bendera terlihat rapi dan terhubung menjadi satu lorong.

Menabung sekitar 10 bulan hingga biaya Rp 67 juta

Menariknya, proyek ini tidak menghabiskan anggaran dari pemerintah. Seluruh pembiayaan berasal dari tabungan sukarela warga, yang dikumpulkan lebih dulu dalam jangka waktu panjang.

Warga bahkan menabung selama sekitar 10 bulan untuk memastikan dana cukup sebelum proyek diwujudkan. Total biaya yang terkumpul mencapai Rp 67 juta.

“Ini murni dari warga masyarakat, khususnya RT 20 yang punya antusias, dan kurang lebih menelan biaya sekitar Rp 67 juta,” kata Safari.

Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan pembangunan lorong, termasuk pembuatan bendera serta beragam ornamen yang menghiasi jalur merah putih.

Bendera merah putih, misalnya, dijahit dan dikerjakan oleh warga sendiri. Proses pembuatan dan pemasangannya dilakukan secara gotong royong, sehingga pekerjaan dapat berjalan tanpa membebankan pihak tertentu.

Gotong royong sebagai bagian dari kemeriahan

Dalam pengerjaannya, warga membentuk bentangan bendera sepanjang 210 meter dengan cara menyiapkan rangkaian bambu, lalu menjahit dan memasang bendera secara bersama-sama.

Safari juga menegaskan bahwa ukuran lorong bukan sekadar estetika, melainkan menjadi ukuran yang menunjukkan skala upaya warga dalam membangun suasana kemerdekaan.

“Panjang daripada lorong ini atau bendera yang kita buat ini adalah 210 meter,” katanya.

Bagi warga, proses tersebut tidak berhenti pada hasil akhir yang dipajang menjelang Agustus. Kebersamaan saat mengerjakan, menyiapkan, hingga menyusun ornamen menjadi bagian penting dari kemeriahan yang mereka bangun bersama.

Menjelang peringatan HUT RI ke-81, Lorong Merah Putih pun menjadi pemandangan yang berbeda di lingkungan setempat. Nuansa merah-putih yang membentang di atas lorong membantu menguatkan suasana perayaan, sekaligus menjadi simbol bahwa kemerdekaan dirayakan melalui kerja kolektif.

Dengan panjang 210 meter dan pembiayaan swadaya sekitar Rp 67 juta, proyek ini menunjukkan bahwa antusias warga RT 20 dapat diwujudkan menjadi ruang apresiasi kemerdekaan yang hadir langsung di tengah kampung mereka.