Daerah

Kontroversi minum sambil berdiri di London Tengah: Westminster dibidik soal pembaruan kebijakan lisensi

×

Kontroversi minum sambil berdiri di London Tengah: Westminster dibidik soal pembaruan kebijakan lisensi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why there's a row about standing up while drinking in central London

jurnalistik.co.id – Kontroversi muncul di pusat London setelah Dewan Westminster memulai proses pembaruan kebijakan lisensi yang dinilai berpotensi mengubah praktik minum sambil berdiri di kawasan hiburan. Perdebatan ini bermula dari tuduhan bahwa apa yang disebut “vertical drinking” terancam, meski pihak pengusul kebijakan membantah rencana pelarangan total.

“Vertical drinking” merujuk pada kebiasaan berdiri untuk menikmati minuman, yang sering terjadi di luar bangunan. Westminster sendiri memiliki ekosistem tempat usaha berizin yang padat: sekitar 500 pub, bar, dan wine bar, serta kira-kira 1.750 kafe dan restoran di wilayahnya. Dengan konsentrasi semacam itu, setiap perubahan aturan terkait tata kelola pengunjung kerap langsung menarik perhatian di ruang publik.

Wacana ini mendapat sorotan setelah laporan di halaman tiga surat kabar The Guardian pada Kamis, dengan judul “Time at the bar? Council accused of trying to stop pubs being pubs with ‘no standing’ plan”. Versi daring cerita itu kemudian menyesuaikan tajuknya. Dalam dokumen yang menjadi dasar diskusi, Westminster perlu memperbarui kebijakan lisensi yang berlaku saat ini, yang disusun pada 2021, paling lambat 1 Oktober.

Untuk menyiapkan pembaruan tersebut, Dewan Westminster menerbitkan rancangan usulan yang masuk dalam proses konsultasi publik. Konsultasi itu berakhir pada hari Minggu. Dalam rancangan rencana, Westminster menyatakan ingin “discourage excessive drunkenness and encourage the provision of more seating in premises that serve alcohol for people to sit and enjoy a drink and order food by table service in place of open bar space that caters for high volume vertical drinking”.

Selain itu, satu kebijakan yang menjadi sorotan adalah rencana penolakan penerbitan lisensi untuk pub, bar, fast food, atau tempat musik di area yang dikenal sebagai “West End cumulative impact zone”. Area ini kira-kira membentang antara Oxford Street dan Trafalgar Square, termasuk Leicester Square dan Soho. Dokumen itu juga menekankan bahwa pengenalan langkah untuk mengurangi, atau menghilangkan, kesempatan bagi vertical drinking dapat “address the underlying reasons for the policy”.

Rancangan pedoman yang disebutkan di dokumen mengarah pada model operasional yang lebih banyak tempat duduk. Pengaju lisensi untuk lokasi baru diminta menargetkan “a predominantly seated operation with fixed seating”, dengan layanan pelayan (waiter service) sebagai pengganti praktik minum sambil berdiri. Pedoman tersebut juga memuat pembatasan bagi pelanggan agar tidak mengonsumsi alkohol ketika berdiri.

Menanggapi perdebatan yang berkembang, Dewan Westminster menegaskan tidak ada rencana melarang pengunjung pub di Soho untuk minum sambil berdiri. Pihak dewan bahkan menyebut pemberitaan yang mengarah pada pelarangan semacam itu “utterly ludicrous”, lalu pada Jumat sore memublikasikan respons “myth-busting” untuk menanggapi usulan kebijakan. Tim Barnes, wakil pemimpin WCC dan anggota kabinet yang membidangi pertumbuhan serta perencanaan, menyampaikan, “There is no plan, and never has been, to ban drinking while standing up in a Westminster pub.” Ia menambahkan, “Suggesting otherwise is a wilful misreading of the policy proposals with clauses taken out of context.” Barnes juga menegaskan tujuan yang lebih luas: “We want people to go out in the West End and have a good time. Our guidance is simply about encouraging venues to manage their customers so people don’t pack on to pavements or excessive drinking doesn’t disturb others passing by.”

Dalam konsultasi dari pihak Konservatif, juru bicara pemerintah menanggapi dengan argumen yang menempatkan suasana pub ramai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pernyataan yang dikutip menyebut, “Busy pubs full of people talking to each other is not a public nuisance, it is British life and it is thousands of jobs.” Pernyataan tersebut juga mengungkap perbandingan budaya malam di Soho dengan menyatakan, “Soho did not become world famous by taking last orders early, switching the lights off at 10 o’clock.”

Sementara itu, Wali Kota London dari Partai Buruh, Sir Sadiq Khan, mengkritik pendekatan yang dinilai mengabaikan dinamika hiburan. Ia menyatakan, “can’t run a world-famous nightlife district with a village-hall mindset”. Pihak Partai Konservatif juga meminta agar WCC menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi malam dan kekhawatiran warga.

Dari kalangan pelaku usaha di wilayah tersebut, juru bicara Soho Business Alliance menyampaikan bahwa WCC “don’t want the late-night economy” dan menuduh upaya “trying to reduce the capacities in these venues”. Mereka menambahkan, “It’s been like that for years where people are standing and drinking, it’s not causing crime, it’s not causing issues.” Menurut pernyataan itu, “It’s them trying to change the nature of Soho and it’s quite sad that they’ve gone to such lengths to sanitise the area.”

Di sisi lain, organisasi komunitas Soho Society sebelumnya menekankan pertimbangan dampak kebijakan lisensi terhadap keselamatan. Mereka menyebut bahwa “alcohol-related harm, including risks to women and vulnerable people at night, must be considered”. Organisasi ini juga pernah menyatakan perhatian terhadap “the unmanaged cumulative impact of a high concentration of licensed premises in a small area on Soho’s whole ecosystem”, termasuk soal kejahatan, perilaku anti-sosial, kekhawatiran keselamatan publik, gangguan terhadap kenyamanan warga, dan terhentinya fungsi harian area tersebut.

Perdebatan ini juga terjadi pada momen cuaca mendukung aktivitas di ruang terbuka. BBC menyebut London mengalami lima gelombang panas tahun ini yang mendorong lebih banyak minum di luar ruangan. Dalam konteks itu, soal praktik berdiri—yang oleh sebagian pihak dianggap identitas sosial ruang malam—berhadapan dengan upaya mengarahkan pengunjung ke pola yang lebih banyak duduk serta pembatasan perilaku di ruang publik.

Di tengah berbagai pandangan, konsultasi yang ditetapkan berakhir pada hari Minggu menjadi penentu arah kebijakan yang harus diperbarui sebelum 1 Oktober. Westminster menegaskan fokusnya pada pengelolaan kerumunan dan pengurangan minum berlebihan agar tidak mengganggu warga yang lewat, sementara penentang kebijakan menilai pendekatan itu pada akhirnya akan mengubah karakter Soho. Namun, klaim tentang ancaman “vertical drinking” tetap menjadi titik tarik-menarik, karena satu pihak menyebutnya sebagai misinterpretasi, sementara pihak lain melihatnya sebagai langkah yang dapat mengubah kapasitas dan cara kerja venue di West End.