jurnalistik.co.id – Gangguan listrik berdurasi sekitar 90 detik yang melanda pusat operasi Network Rail di Manchester menjadi contoh langka bagaimana kegagalan sistem skala kecil bisa berujung pada kekacauan besar bagi perjalanan kereta penumpang. Insiden ini muncul setelah komunikasi dan kontrol operasional tidak berfungsi seperti yang semestinya, sehingga layanan membutuhkan penanganan cepat dan perbaikan bertahap.
Manchester Rail Operating Centre merupakan salah satu simpul krusial yang menampung kontrol penting agar kereta dapat bergerak dengan aman di berbagai wilayah. Pusat ini menangani bagian besar jaringan di kawasan North West Inggris. Pada kejadian tersebut, pemadaman terjadi di area pusat operasi dan diselesaikan dalam waktu 90 detik, namun pertanyaan justru bergeser ke respons sistem cadangan serta kualitas pemulihan di tahap berikutnya.
Network Rail kemudian menyatakan telah melakukan penyesuaian dengan cepat, sembari meminta masyarakat mengetahui proses pemulihan yang dilakukan. Namun, dampak operasionalnya tetap terasa luas karena masalah pada sistem persinyalan (signalling) berhubungan langsung dengan pengaturan pergerakan kereta. Ketika persinyalan terganggu—ibarat “lampu lalu lintas” untuk kereta—kereta harus berhenti, lalu perangkat kontrol harus dihidupkan ulang.
Salah satu pernyataan penting datang dari Chris Wright, north-west route director Network Rail, yang kepada BBC menyebut perusahaan tidak mengalami gangguan selama 90 detik sebagaimana yang terjadi pada pemadaman di lokasi. Wright menegaskan, “we didn’t experience a 90-second interruption,” seraya menambahkan bahwa sebagian sistem komunikasi “did not respond how we would have expected, and then needed reconfiguring and replacing”. Ia juga berkata, “We’ve got to work really hard very quickly now to understand why that’s the case,” menekankan bahwa evaluasi mendalam sedang dilakukan untuk memahami akar masalah.
Di sisi lain, laporan menyebut ada kerusakan pada bagian yang mengendalikan signalling. Perbaikan tidak bisa dilakukan seketika karena perlu penggantian komponen tertentu, sehingga pemulihan memakan waktu lebih panjang dibanding sekadar memulihkan listrik. Pada kondisi jaringan yang padat, selisih kecil dalam waktu pemulihan dapat memengaruhi posisi kereta dan kru, lalu efeknya melebar ke rute lain.
Dari perspektif operasional, konteks ini menjelaskan mengapa gangguan singkat dapat berimbas besar. Banyak kereta dan kru dibiarkan “out of position” di berbagai lokasi di North West Inggris dan bahkan wilayah lain. Dalam situasi seperti itu, penjadwalan ulang bukan hanya soal menghidupkan sistem, melainkan juga memastikan alur layanan kembali tertata tanpa menimbulkan risiko keselamatan.
Network Rail menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan serta membuka penyelidikan atas kejadian tersebut. Para bos perusahaan menyatakan para insinyur tengah bekerja keras untuk membangun “tambahan ketahanan” pada sistem persinyalan, agar peristiwa serupa tidak terulang. Di saat yang sama, diskusi publik mengarah pada bagaimana ketahanan sistem cadangan bekerja saat gangguan terjadi, dan apakah prosedur respons sudah benar-benar sesuai skenario.
Berita Terkait
Perusahaan juga disebut tengah bergerak menuju struktur jaringan dengan jumlah pusat operasi yang lebih sedikit namun lebih terpusat. Network Rail mengarah pada 12 Rail Operating Centres di seluruh Great Britain, menggantikan ratusan signal box yang lebih lama. Manchester Rail Operating Centre sendiri dibuka pada 2014, dan pola konsolidasi ini dimaksudkan menjadi hub berteknologi tinggi yang memusatkan kendali jaringan.
Dampak sentralisasi terhadap risiko jaringan
Sejumlah pakar memperingatkan bahwa konsolidasi kendali seperti ini berpotensi membuat dampak gangguan menjadi jauh lebih luas bila satu pusat mengalami masalah serius. Rail writer Christian Wolmar menilai problem yang diciptakan adalah kemungkinan kegagalan sistem yang “menghapus” sebagian besar jaringan. Ia mengatakan, “if one thing goes wrong, it can wipe out, as we saw, quite a lot of the network”. Wolmar menambahkan, mereka perlu mulai mempertimbangkan bukan hanya ketahanan (resilience), tetapi juga apakah memusatkan seluruh signalling dan komunikasi ke tempat yang sangat terbatas merupakan pilihan yang tepat.
BBC juga mencatat bahwa tidak ada kaitan spesifik yang secara langsung menyambungkan insiden ini dengan persoalan lain yang belakangan menimpa penumpang kereta. Misalnya, gangguan seperti pembatasan kecepatan dan kegagalan infrastruktur yang terjadi selama periode panas ekstrem baru-baru ini tidak disebut terkait dengan insiden pemadaman tersebut. Walau demikian, insiden ini tetap berpotensi mengurangi kepercayaan penumpang, mengingat dalam beberapa tahun terakhir mereka menghadapi berbagai masalah, termasuk kinerja operator yang dinilai buruk, pemogokan, serta kenaikan harga tiket.
Dalam konteks tarif, tarif yang diatur pemerintah disebut dibekukan di Inggris pada tahun ini. Selain aspek operasional, artikel juga mengangkat faktor pendanaan dan perubahan sumber daya di tubuh Network Rail. Rail engineer dan penulis Gareth Dennis menghubungkan kejadian tersebut dengan tekanan pendanaan dan pemotongan pekerjaan yang pernah dihadapi perusahaan. Dennis menanyakan, “Are their staff suitably resourced? Are there enough staff to be ensuring that things like those checks of that supply are happening?”. Pertanyaan itu menyoroti apakah kapasitas SDM yang tersedia cukup untuk memastikan pengecekan dan kontrol tetap berjalan sesuai kebutuhan.
Network Rail menerima penyelesaian pendanaan periode lima tahun yang disetujui pemerintah. Kesepakatan terbaru dimulai pada 2024. Dalam strategic business plan 2024-29, pemerintah berkomitmen sebesar ÂŁ44.1bn—naik ÂŁ3bn dibanding periode lima tahun sebelumnya. Namun, kenaikan biaya akibat inflasi serta meningkatnya kejadian cuaca ekstrem membuat pendanaan menghadapi tekanan yang berat, sebagaimana tercermin dari pernyataan Andrew Haines, mantan chief executive. Ia mengatakan bahwa, dengan keterbatasan anggaran, pendanaan “need to go further than ever before”.
Pada akhirnya, kebijakan kereta pemerintah saat ini berfokus pada nasionalisasi operator penumpang yang belum berada dalam kendali publik (sejumlah operator telah dinasionalisasi pada masa pemerintahan Konservatif sebelumnya). Setelah itu, pengoperasian layanan kereta dan infrastruktur akan dibawa di bawah organisasi baru bernama Great British Railways. Network Rail diperkirakan akan dihapus sebagai entitas terpisah, dan sebagai langkah transisi beberapa joint management teams telah dibentuk, misalnya di South West. Di tengah itu, persoalan besar yang tersisa adalah seberapa banyak uang pajak akan dialokasikan untuk mendukung layanan penumpang sekaligus berinvestasi pada infrastruktur, sementara anggaran pemerintah tetap menipis.












