jurnalistik.co.id – Di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Rabu (29/7/2026), puluhan penyandang disabilitas berkumpul untuk menerima bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Kabupaten Semarang dari Pemprov Jateng. Wajah mereka tampak lega dan bersemangat, karena dukungan itu diharapkan bisa membantu mereka melanjutkan usaha yang selama ini dijalani. Salah satu penerima bantuan tersebut adalah Sugeng, warga Kupangsari, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Meski menyandang disabilitas, Sugeng memilih untuk terus bekerja dengan kemampuan yang ia miliki agar kebutuhan hidup tetap bisa tersambung. Kondisi Sugeng membuatnya harus berjalan menggunakan kruk alat bantu. Kedua kakinya mengecil, sehingga aktivitas harian membutuhkan penyesuaian dalam cara bekerja dan bergerak. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya menghentikan produksi kerajinan. Sugeng selama ini bertahan hidup dengan membuat kerajinan jaran kepang yang kemudian menjadi kuda lumping. Ia mengaku sudah lupa kapan pertama kali memulai perajin kuda lumping, tetapi ia masih ingat modal awal yang ia keluarkan. Dari awal yang ia usahakan sendiri itulah, ia membangun rutinitas sampai pada kemampuan produksi yang kini ia tekuni. “Saat itu dengan modal uang sendiri, bisa membuat 30 sampai 50 kuda lumping, tergantung ukuran,” ungkap Sugeng. Ia menjelaskan kemampuan produksi bergantung pada ukuran kuda lumping yang dikerjakan, sehingga jumlah yang mampu dibuat bisa berbeda-beda dalam satu periode tertentu. Bagi Sugeng, kuda lumping buatannya tidak hanya ditujukan untuk dipertunjukkan dalam kegiatan kesenian. Kerajinan itu juga menjadi permainan untuk anak-anak, yang turut memberi nilai guna lebih pada hasil kerja yang ia buat. Baginya, setiap unit kuda lumping yang selesai memiliki penerima dan fungsi yang nyata. Dalam perkembangan usahanya, Sugeng mengungkapkan bahwa produksi yang ia jalani saat ini dapat mencapai target tertentu dalam satu bulan. “Dalam sehari satu sampai dua kuda lumping, tergantung keadaan juga. Saya membuat sendiri, tidak ada yang membantu,” kata Sugeng. Ia menegaskan bahwa proses yang ia kerjakan dilakukan seorang diri, tanpa bantuan tambahan dari orang lain. Dengan pola kerja seperti itu, Sugeng menyebut dalam sebulan ia mampu membuat 50 kuda lumping. Keberlanjutan produksi itu juga berkaitan dengan kondisi fisiknya dan ritme pengerjaan yang ia tentukan sendiri. Saat kebutuhan serta keadaan memungkinkan, ia dapat menaikkan dan menyesuaikan jumlah produksi hariannya. Pada kesempatan menerima bantuan modal dari pemerintah, Sugeng juga menyampaikan rencana penggunaan dana tersebut. Ia mengatakan bantuan akan dimanfaatkan untuk membeli kompresor, bambu, dan cat. Rencana itu ia susun agar proses produksi bisa berjalan lebih efektif dan bahan baku yang dibutuhkan tersedia. “Kuda lumping ini kan bahan utamanya bambu, ijuk, dan cat. Kalau kompresor sebagai alat bantu biar kerjaan cepat selesai,” ujarnya. Dengan kompresor, Sugeng berharap pekerjaan dapat dikerjakan dengan lebih cepat sehingga ia bisa menjaga kesinambungan produksi di tengah keterbatasan yang dialaminya. Sugeng menjadi salah satu contoh penerima bantuan UEP dan KUBE yang berangkat dari kebutuhan untuk bekerja secara mandiri. Ia tetap bertahan melalui kerajinan tangan yang sudah menjadi keahliannya, sambil menata cara kerja agar hasil yang dibuat bisa terus diproduksi. Di lokasi yang sama, bantuan juga diberikan kepada penerima lain yang menjalankan usaha berbeda. Salah satunya adalah Muh Kholil (49), warga Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Kholil sejak tahun 2000 bekerja sebagai perajin rotan yang kemudian dirakit menjadi kursi. Ia menjelaskan bahwa proses kerjanya tidak dimulai dari menanam atau menyiapkan bahan baku sendiri, melainkan dari tahap merakit. “Saya hanya membuat kursi, rotan beli dari toko, lalu saya rakit menjadi kursi,” ungkap Kholil. Kholil menyampaikan pekerjaannya dilakukan dengan pola yang sudah ia jalani bertahun-tahun, termasuk saat ia menggunakan kursi roda. Hasil kursi rotan buatan Kholil dijual melalui pemesanan online. Cara pemasaran itu ia jalankan untuk menjangkau pembeli dari berbagai tempat. “Ya saya posting-posting gitu, nanti ada yang pesan lalu dikirim. Kalau yang pesan dari mana-mana, tapi kebanyakan dari sekitar kecamatan,” kata Kholil. Melalui program UEP dan KUBE, penerima bantuan di Kabupaten Semarang diarahkan untuk mengembangkan usaha yang sesuai kemampuan masing-masing. Di tengah perbedaan jenis pekerjaan dan keterbatasan fisik, mereka tetap mencari jalan supaya kegiatan ekonomi dapat bertahan. Bagi Sugeng, bantuan yang ia terima bukan hanya soal tambahan modal, tetapi juga langkah untuk memperlancar proses produksi kuda lumping yang selama ini ia kerjakan sendiri. Ia mengaitkan rencana penggunaan dana pada kebutuhan alat bantu dan ketersediaan bahan utama, sehingga kerja bisa lebih cepat selesai dan produksinya tetap berjalan sesuai ritme yang dapat ia lakukan. Dengan demikian, kisah Sugeng memperlihatkan bagaimana keterampilan yang bertumbuh dari modal awal dan kerja mandiri kemudian dipertahankan dari waktu ke waktu. Di hari penerimaan bantuan, ia berdiri sebagai perajin yang terus membuat kuda lumping demi menyambung hidup, meski harus menyesuaikan cara bekerja dengan kondisi yang ia alami.
Demi Menyambung Hidup, Sugeng Difabel Ambarawa Tetap Membuat Kuda Lumping
Redaksi4 min baca







