jurnalistik.co.id – Memeriahkan Hari Jadi Klaten ke-222, seorang petani di Juwiring menata hamparan sawahnya hingga membentuk lukisan wajah Bupati Klaten. Karya itu dibuat dengan teknik tanbo art dan baru tampak jelas dari pandangan atas.
Prihatnyo Ruli Hermawan (39), petani dari Kecamatan Juwiring, memanfaatkan lahan pertaniannya untuk menggambar sosok Hamenang Wajar Ismoyo. Selain potret bupati, hamparan padi tersebut juga memuat tulisan “Sahita Hamemayu Raharja” sebagai tema hari jadi ke-222 Klaten.
Ruli menjelaskan bahwa ia membutuhkan waktu 10 hari untuk menyusun lukisan tanbo art. Menurutnya, pilihan ikon yang ditampilkan merupakan upaya untuk menghadirkan representasi Klaten pada momen perayaan.
“Jadi kita pilih tokoh yang mewakili Klaten. Nah pada kesempatan ini Mas Bupati menjadi ikon Klaten. Makanya kita gambar Mas Bupati dan tema ulang tahun Kabupaten Klaten,” kata Ruli.
Dua varietas padi untuk membentuk pola
Dalam prosesnya, Ruli menggunakan dua varietas padi agar pola yang dibentuk memiliki perbedaan warna. Ia menanam padi black madras yang memiliki daun berwarna ungu, serta padi cibatu dengan daun hijau.
Tanaman tersebut mulai ditanam pada 16 Juni 2026. Saat karya dilihat pada Rabu (29/7/2026), padi sudah berumur 43 hari, sementara masa panen baru dapat dilakukan setelah tanaman mencapai umur 100 hari.
Ruli juga menegaskan bahwa prinsip pembentukan pola dalam tanbo art disiapkan sejak awal. Ia menyebut proses tersebut selayaknya menggambar peta, bukan sekadar menebar benih tanpa ukuran.
“Prinsipnya seperti kita menggambar peta. Kita menggunakan koordinat. Jadi kita sketsa dulu di kertas dengan foto beliau. Kita skala kemudian kita membuat koordinat dengan di sumbu vertikal horizontal di sawah kita sesuaikan,” ungkapnya.
Koordinat dan sketsa jadi kunci
Langkah pertama dimulai dari sketsa di kertas berdasarkan foto Bupati Klaten. Setelah ukuran disesuaikan, barulah Ruli memindahkan rancangan tersebut ke hamparan sawah dengan membuat koordinat pada sumbu vertikal dan horizontal sesuai kebutuhan pola.
Pendekatan berbasis koordinat ini membuat lukisan yang terbentuk memiliki susunan yang terukur. Pada akhirnya, perpaduan dua warna dari varietas padi yang berbeda menghadirkan kontras yang membuat wajah bupati dan angka perayaan hari jadi dapat terbaca dari atas.
Berita Terkait
Rancangan yang dipasang juga diarahkan agar selaras dengan tema peringatan. Karena itu, selain gambar wajah, hamparan sawah turut memunculkan angka 222 sebagai penanda Hari Jadi Klaten.
Ketika bupati datang meninjau lokasi, Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan kekagumannya atas hasil yang sempat viral. Ia menilai perubahan hamparan sawah tampak seolah dibuat berdasarkan pandangan dari ketinggian.
“Hari ini berkunjung ke sini karena beberapa hari ini viral di media sosial. Kok ada sawah yang dirubah seolah-olah dari atas itu sehingga muncul angka 222 sekaligus ada gambar (wajah) saya. Intinya hari jadi Kabupaten Klaten,” kata Hamenang Wajar Ismoyo.
Tak merusak tanaman, hanya mengolah perbedaan varietas
Menurut bupati, daya tarik tanbo art tidak hanya terletak pada tampilannya, tetapi juga pada cara mengolah tanaman agar tetap tumbuh. Ia membandingkan pola tanbo art dengan gagasan lain yang berpotensi merusak tanaman.
“Kalau crop circle itu merusak tanaman nggih (ya). Kalau ini memainkan varietas padi yang warnanya berbeda. Sehingga dibentuk pola dan menghasilkan pola-pola tertentu dalam hal ini beliau memberikan hari jadi Kabupaten Klaten ke-222,” ujarnya.
Hamenang menilai inovasi tersebut menjadi kejutan bagi perayaan. Ia juga mengapresiasi upaya yang dilakukan petani milenial dari Juwiring yang berani mengubah sawah menjadi media ekspresi sekaligus peringatan.
Bagi Hamenang, lukisan di lahan pertanian tidak sekadar tampilan musiman. Teknik yang diterapkan justru menggambarkan kreativitas dalam mengelola varietas padi dengan cara yang terencana, sehingga menghasilkan pola tertentu tanpa harus mengorbankan pertumbuhan tanaman.
“Ini luar biasa. Awalnya tak kira crop circle tanamannya dirusak. Ini memainkan dua varietas tanaman padi. Satu warna padanya hijau dan satunya ungu,” imbuh Hamenang.
Harapan untuk generasi muda
Di akhir kunjungan, bupati menyinggung harapan agar teknik seperti ini dapat menggugah semangat generasi muda. Ia berharap lebih banyak anak muda tertarik menjadi petani milenial.
Melalui cara pandang yang lebih kreatif, Ruli memperlihatkan bahwa pertanian bisa dipadukan dengan gagasan seni dan perayaan. Hamparan sawah yang dibentuk berangkat dari koordinat, sketsa, dan pemilihan varietas, lalu akhirnya memberi ruang bagi Klaten untuk menandai hari jadi ke-222 dengan cara yang berbeda.
Dalam konteks perayaan, karya tanbo art di Juwiring menjadi simbol kolaborasi antara pengetahuan bertani dan kreativitas. Dari lahan yang sedang tumbuh, muncul gambar wajah bupati serta angka peringatan, sekaligus pesan bahwa pertanian dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan momen penting daerah.












