jurnalistik.co.id – Kekeringan yang melanda Desa Gentan, Kecamatan Karanggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, membuat warga harus mencari air bersih ke wilayah lain. Untuk mendapatkan pasokan tersebut, sejumlah penduduk bahkan menempuh jarak sekitar 10 kilometer.
Di Desa Gentan, kondisi ini membuat aktivitas harian ikut terdampak, terutama kebutuhan air rumah tangga. Warga memusatkan pengambilan air dari titik tertentu yang letaknya berada di pinggir jalan.
Ruwadi, salah satu warga Dusun Kalimayung, terlihat membawa lima galon air minum sambil mengendarai sepeda motor. Pagi itu, Rabu (29/7/2026), ia mendatangi keran yang airnya berasal dari sumber di Desa Sanggrahan.
“Sudah 15 hari ini saya ngangsu (ambil air) di sini,” kata Ruwadi. Ia menjelaskan, selama dua pekan terakhir warga terus mengandalkan pola pengambilan air yang sama.
Menurut Ruwadi, sekitar 40 kepala keluarga di dusunnya saat ini bergantung pada pasokan dari keran tersebut serta kiriman air bersih dari sejumlah instansi. Dalam praktiknya, kombinasi antara pengambilan langsung dan distribusi membantu warga menutup kebutuhan yang terus berjalan.
Kerja bersama, menunggu air dari pengeboran
Selain memaksimalkan titik keran, warga Kalimayung juga berupaya menambah sumber air melalui pengeboran sumur. Upaya itu dilakukan secara swadaya dengan menghimpun dana dari masyarakat.
Ruwadi menuturkan pengeboran sudah mencapai kedalaman 50 meter, tetapi air belum keluar. “Warga Kalimayung sekarang lagi nge-bor sumur. Sudah sampai (kedalaman) 50 meter, tapi belum keluar air. Swadaya terkumpul uang Rp 50 juta,” tuturnya.
Ia mengatakan, proses yang belum menghasilkan membuat warga harus tetap bertahan dengan cara lain sambil menunggu hasil pengeboran. Di tengah keterbatasan, warga terlihat beradaptasi agar kebutuhan minimal tetap terpenuhi.
Berita Terkait
Ambil lebih jauh karena kebutuhan volume besar
Tak semua warga mengambil air dengan cara yang sama. Slamet Rahayu, warga Kalimayung lainnya, menceritakan bahwa ia bahkan mengambil air hingga ke wilayah yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat tinggalnya.
Menurut Slamet, pilihan itu muncul karena ia mengambil air dalam jumlah besar untuk ditampung. Ia menempatkan stok air agar rumah tangga dan kebutuhan usaha bisa berjalan tanpa terlalu sering bolak-balik.
Untuk menampung air, Slamet menggunakan toren berkapasitas 1.100 liter dan tong berkapasitas 50 liter. Pola penyimpanan ini membuat ia bisa mengatur pemakaian air ketika pasokan dari titik awal tidak lagi mencukupi.
“Air cuma cukup dua hari untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha. Paling enggak aku ambil seminggu dua kali,” kata warga berusia 52 tahun tersebut. Ia menyebut telah mengambil air ke wilayah Pakitan sejak awal Juli 2026.
Proses pengambilan air tersebut, lanjut Slamet, tidak dilakukan secara cuma-cuma. Ia mengungkapkan toren dikenakan tarif Rp 10.000, sedangkan tong dipatok Rp 5.000.
Dengan skema tersebut, biaya menjadi salah satu pertimbangan warga saat harus memenuhi kebutuhan yang terus berulang setiap beberapa hari. Meski begitu, pilihan tetap diambil karena kondisi setempat belum memungkinkan warga memperoleh pasokan yang stabil dari sumber yang ada.
Dalam keseharian, perbedaan cara memperoleh air tampak menonjol antara warga yang cukup dengan keran tertentu dan warga yang perlu volume lebih besar. Namun, keduanya sama-sama menghadapi tantangan yang berakar pada berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.
Situasi ini menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya memengaruhi ketersediaan air, tetapi juga membentuk kebiasaan baru dalam distribusi dan penyediaan harian. Upaya pengeboran sumur yang masih menunggu hasil, sementara warga terus bergerak mencari air dari titik lain.
Meski ada upaya swadaya dan bantuan distribusi dari instansi, warga tetap perlu waktu untuk melihat perubahan. Sampai air dari pengeboran benar-benar tersedia, pengambilan air jarak menengah dan penampungan stok menjadi strategi yang paling mungkin dilakukan oleh masyarakat Desa Gentan.












