jurnalistik.co.id – Pengguna Halte Transjakarta Pasar Kebayoran di Jakarta Selatan harus menempuh 65 anak tangga untuk mencapai Skywalk Kebayoran Lama pada Jumat (10/7/2026), setelah lift penghubung di lokasi itu tidak beroperasi.
Akibat kondisi tersebut, akses yang semestinya lebih praktis berubah menjadi rute naik-turun yang cukup menantang. Kompas.com menjajal langsung tangga dari halte menuju skywalk untuk melihat seperti apa kondisi di lapangan.
Tangga yang digunakan berbentuk zig-zag. Pada beberapa titik, pengguna juga dihadapkan pada dua platform lebar yang mengharuskan berbelok hingga 180 derajat sebelum melanjutkan perjalanan ke arah yang berlawanan.
Lebar tangga disebut sekitar dua meter dan dibagi menjadi dua sisi. Di bagian tengah, terdapat pembatas berupa rantai berwarna kuning yang memisahkan jalur pergerakan.
Selama perjalanan, pengguna merasakan perubahan ritme napas di sekitar pertengahan. Saat menaiki puluhan anak tangga itu, udara terasa lebih “berat” dan membuat langkah perlu diatur agar tidak terlalu cepat kehilangan tenaga.
Dalam kondisi tidak terlalu ramai, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak skywalk kurang lebih satu menit. Meski singkat, perjalanan tetap menyisakan rasa lelah setelah menapaki rangkaian anak tangga yang berjenjang.
Begitu tiba di bagian atas, keringat mulai mengucur setelah menuntaskan rute tersebut. Bagi sebagian orang, pengalaman ini mengingatkan bahwa akses alternatif melalui tangga tidak selalu ideal untuk semua kelompok pengguna.
Hal serupa juga dialami Silvi (55). Setelah menyelesaikan kenaikan, ia memilih berjalan lebih pelan sembari menyiapkan minum dari botol kecil yang berada di samping tasnya.
“Capek tangganya terlalu curam. Biasanya kan ada lift, kalau kayak gini yang udah tua capek,” ucap Silvi kepada Kompas.com pada Jumat.
Berita Terkait
Menurutnya, keberadaan lift sebelumnya membuat mobilitas lebih terasa ringan. Ketika lift tidak berfungsi, pengguna harus mengandalkan tenaga sendiri, terutama pada bagian yang menanjak dan diatur oleh pergantian arah di platform-platform tertentu.
Silvi juga berharap perbaikan bisa dilakukan segera. Ia menekankan bahwa kondisi tangga yang curam akan lebih menyulitkan, terutama bagi kelompok prioritas yang membutuhkan akses yang lebih ramah.
“Ya secepatnya lah kalau bisa dibenerin, capek beneran deh. Kemarin-kemarin tuh masih nyala jadi enak,” ucapnya.
Harapan serupa pada dasarnya mengarah pada pemulihan fungsi lift penghubung agar perjalanan dari halte ke skywalk tidak kembali bergantung pada tangga. Dengan lift yang beroperasi, pengguna dapat memilih rute yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Kendati rute tangga tetap dapat dilalui, pengalaman “menjajal” 65 anak tangga memperlihatkan bahwa desain tangga zig-zag dan platform yang mengharuskan perubahan arah membuat perjalanan terasa lebih intens. Pada akhirnya, pengguna menilai perbaikan lift sebagai langkah penting untuk mengembalikan kenyamanan akses di area Skywalk Kebayoran Lama.
Di sepanjang jalur tersebut, bentuk zig-zag membuat perhatian tidak hanya tertuju pada pijakan, tetapi juga pada momen saat pengguna harus berpindah arah dari satu segmen ke segmen berikutnya. Pada beberapa titik, ruang berbentuk platform yang lebih lebar memaksa pengguna melakukan putaran sebelum melanjutkan langkah ke arah yang berlawanan.
Pembagian ruang di tangga juga turut memengaruhi cara orang bergerak. Dengan lebar sekitar dua meter dan pembatas rantai berwarna kuning di bagian tengah, arus pergerakan dipilah sehingga pengguna perlu menyesuaikan ritme langkah sejak awal, termasuk ketika berjalan melewati bagian yang lebih menanjak.
Ketika perjalanan mencapai pertengahan, perubahan sensasi fisik mulai terasa. Udara yang terasa lebih “berat” membuat pengguna lebih berhati-hati dalam mengatur kecepatan agar tenaga tidak cepat terkuras, meski waktu menuju puncak tetap relatif singkat saat tidak ramai.
Bagi orang yang mengalami keterbatasan mobilitas, pengalaman itu dapat terasa lebih berat. Silvi (55) misalnya, mengutarakan rasa lelah setelah menuntaskan rute tersebut, lalu melanjutkan dengan tempo yang lebih pelan sambil menyiapkan minum dari botol kecil di dekat tasnya.
Situasi ini juga mempertegas harapan agar perbaikan lift penghubung dilakukan secepat mungkin. Dengan lift yang kembali berfungsi, pengguna tidak harus selalu mengandalkan tangga untuk menjangkau skywalk, sehingga akses bisa lebih sesuai kebutuhan, terutama bagi kelompok yang membutuhkan jalur lebih ramah dan mudah.












