Daerah

Lapak UD Senang Anak di Kalibata: Kenangan Masa Kecil Tetap Hidup Lewat Mainan Kayu

×

Lapak UD Senang Anak di Kalibata: Kenangan Masa Kecil Tetap Hidup Lewat Mainan Kayu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lapak Mainan Kayu Kalibata Menjaga Kenangan Masa Kecil

jurnalistik.co.id – Di Jalan TMP Kalibata, Jakarta Selatan, ada sebuah lapak yang membuat orang berhenti sejenak bukan karena ramai promosi, melainkan karena bentuk-bentuk kecil yang terasa akrab: miniatur kendaraan berbahan kayu.

Papan bertuliskan UD Senang Anak tampak mulai menua, namun etalasenya masih menyuguhkan deretan truk, bus, dan mobil bak yang disusun rapi di rak bertingkat.

Setiap unit dicat dengan warna-warna mencolok, lalu dibungkus plastik bening agar terhindar dari debu kendaraan yang terus melintas di sekitar jalan.

Tak banyak yang benar-benar masuk ke lapak. Sesekali, pengendara memperlambat laju untuk menoleh ke dalam etalase, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Bagi penerus usahanya, kondisi seperti itu bukan tanda akhir. Sukma Jaya (63) melihat lapak sederhana yang bertahan dari hari ke hari sebagai cara merawat sesuatu yang tak hanya dijual, tetapi juga dikenang.

Jejak usaha sejak era 1970-an

Sukma mengatakan usahanya telah berdiri sejak era 1970-an. Saat kakaknya, Umar, berhenti, Sukma melanjutkan pekerjaan yang selama puluhan tahun membuat mainan kayu tetap hadir di kawasan tersebut.

Pada masa ketika lapak-lapak masih lebih banyak, Jalan TMP Kalibata pernah dihuni empat penjual dengan jenis barang yang sejenis. Kini, hanya UD Senang Anak yang tersisa.

Di masa kejayaannya, pilihan mainan yang tersedia lebih beragam dibanding saat ini. Sukma menyebut dulu ada kereta api, bus, hingga pesawat, dengan berbagai bentuk lain yang bisa dipilih pembeli.

“Dulu lengkap. Ada kereta api, bus, pesawat, macam-macam,” kata Sukma saat ditemui di lapaknya pada Rabu (8/7/2026).

Namun perubahan selera pasar membuat sebagian produk perlahan menghilang. Salah satu yang paling terasa ialah miniatur pesawat, yang sudah lama berhenti diproduksi karena peminatnya semakin sedikit.

Jika dulu etalase bisa menampilkan berbagai jenis kendaraan, sekarang fokusnya lebih sempit: miniatur truk dan mobil bak mendominasi rak-rak yang ada.

Stok mengikuti permintaan dan ritme perajin

Menurut Sukma, kendaraan darat masih menjadi jenis mainan yang paling banyak dicari pembeli. Meski begitu, ketersediaannya tidak selalu sama dari waktu ke waktu.

Beberapa model, misalnya bus antarkota dan Transjakarta, terkadang kosong. Sukma menjelaskan kondisi itu terjadi karena stok dari perajin belum datang.

Dalam praktiknya, perubahan terbesar bukan hanya pada jumlah pedagang di sekitar jalan, melainkan pada pola konsumsi masyarakat. Mainan yang dulu akrab di tangan anak-anak kini harus bersaing dengan produk pabrikan modern yang lebih mudah ditemui.

Di tengah gempuran mainan plastik, gim digital, dan perangkat elektronik, lapak UD Senang Anak seperti penanda bahwa permainan tradisional belum sepenuhnya lenyap.

Dari produksi mandiri ke kerja sama perajin

Sukma juga menuturkan bahwa berbeda dengan puluhan tahun lalu, mainan-mainan yang dijual sekarang tidak lagi dibuat seluruhnya di Kalibata.

Untuk memenuhi kebutuhan stok, ia menggandeng perajin dari Karawang dan Lampung. Menurutnya, membuat semua produk sendiri sudah tidak lagi memungkinkan karena keterbatasan tenaga dan waktu.

Proses pembuatan miniatur tetap mempertahankan ciri khas mainan kayu, tetapi dengan pendekatan yang membuat hasil lebih ringan. Sukma menyebut penggunaan kombinasi kayu dan tripleks agar bobotnya lebih mudah dipindahkan dan tetap kuat digunakan.

Beberapa bagian juga dirancang menyerupai kendaraan asli. Contohnya, bak truk dapat dibuat bisa dibuka dengan engsel, sehingga detailnya memberi kesan lebih hidup saat disentuh atau dimainkan.

Di balik detail-detail tersebut, yang paling nyata terlihat adalah ketekunan yang tidak mudah tergantikan. Mainan yang dibuat dengan cara seperti ini mungkin tidak selalu menjadi pilihan utama setiap saat, tetapi tetap punya penggemar.

Sukma memandang ketertarikan pembeli pada miniatur kayu sebagai hasil dari perpaduan bentuk, warna, dan ketelitian pengerjaan—sesuatu yang membuat produk tradisional terasa “berbeda” dibanding sekadar replika sederhana.

Di lapak yang berdiri di pinggir jalan, miniatur kendaraan itu bukan hanya benda kecil. Ia menjadi jejak perjalanan sebuah usaha yang berpindah dari generasi ke generasi, sekaligus jembatan antara kenangan masa kecil dan cara masyarakat memilih hiburan hari ini.

Selama masih ada orang yang menoleh, bertanya harga, atau tersenyum saat melihat deretan truk dan bus kayu, UD Senang Anak akan terus menjalankan perannya: menjaga agar kenangan tetap hidup, lewat bentuk-bentuk yang dibuat untuk dimainkan.