Internasional

Di Tengah Upaya Damai, AS Bombardir Kapal Iran yang Diduga Menebar Ranjau

0
×

Di Tengah Upaya Damai, AS Bombardir Kapal Iran yang Diduga Menebar Ranjau

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nyaris Damai, AS Malah Bombardir Kapal Penebar Ranjau Iran

jurnalistik.co.id – Amerika Serikat melancarkan serangan militer pada Senin (25/5/2026) ke lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran yang disebut sedang berupaya menebar ranjau di Selat Hormuz. Washington menyebut tindakan itu sebagai serangan defensif di tengah berlangsungnya gencatan senjata dan pembicaraan damai antara kedua negara.

Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM mengatakan operasi tersebut dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman militer Iran. Di saat yang sama, serangan itu juga disebut terjadi ketika negosiasi damai antara Washington dan Teheran mulai menunjukkan perkembangan positif.

Serangan yang diklaim defensif

Juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, mengatakan pasukan AS melakukan serangan bela diri terhadap target-target di Iran selatan. “Pasukan AS melakukan serangan bela diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran,” kata Hawkins dalam pernyataan yang dikutip Reuters.

Menurut pejabat senior AS yang dikutip The Telegraph, dua kapal Iran diduga tertangkap saat menebar ranjau di Selat Hormuz. Pasukan AS kemudian disebut menghancurkan kedua kapal tersebut. Selain itu, AS juga menyerang lokasi peluncur rudal darat-ke-udara di Bandar Abbas yang diduga menargetkan pesawat tempur Amerika.

Bandar Abbas sendiri merupakan kota pelabuhan penting di Iran selatan. Kota itu menjadi lokasi pangkalan angkatan laut Iran yang berada dekat Selat Hormuz, jalur strategis yang kerap menjadi sorotan dalam ketegangan kawasan.

Seorang pejabat AS mengatakan serangan itu merupakan “serangan defensif” dan tidak menunjukkan bahwa gencatan senjata yang dinegosiasikan bulan lalu telah berakhir. Dengan kata lain, Washington menegaskan operasi militer tersebut tidak dimaksudkan sebagai tanda bahwa upaya perundingan yang sedang berjalan telah kandas.

Di tengah pembicaraan damai

Serangan militer AS berlangsung saat pembicaraan damai antara Washington dan Teheran mulai digelar. Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa negosiasi dengan Iran berjalan positif. “Negosiasi dengan Republik Islam Iran berlangsung dengan baik!” tulis Trump.

The Telegraph melaporkan Trump bahkan membatalkan rencana bermain golf di New Jersey dan tidak menghadiri pernikahan putranya demi tetap tersedia untuk pembicaraan damai tingkat tinggi. Langkah itu disebut menunjukkan betapa seriusnya Washington mengikuti perkembangan perundingan dengan Teheran.

Di waktu yang hampir bersamaan, delegasi Pakistan yang dipimpin Panglima Angkatan Darat Asim Munir dilaporkan tiba di Teheran pada Jumat untuk membantu mediasi pembicaraan. Delegasi Qatar juga disebut ikut menggelar perundingan terkait proposal perdamaian terbaru dari Washington.

Kehadiran para pihak tersebut menandai bahwa jalur diplomasi masih terus dibuka, meski di lapangan AS justru mengambil tindakan militer terhadap target yang disebut mengancam pasukannya. Situasi ini membuat dinamika antara serangan, gencatan senjata, dan negosiasi damai berlangsung nyaris bersamaan.

Dalam perkembangan itu, serangan AS terhadap kapal yang diduga menebar ranjau serta lokasi peluncur rudal di Iran selatan menjadi sorotan baru di tengah upaya meredakan ketegangan. Washington menegaskan langkah tersebut bersifat defensif, sementara pembicaraan damai yang sedang berlangsung tetap diklaim berjalan ke arah positif.

Rangkaian peristiwa itu menunjukkan bahwa ketegangan di lapangan dan jalur diplomasi berjalan dalam dua arah yang berbeda, tetapi tetap saling memengaruhi. Di satu sisi, AS menekankan perlunya melindungi pasukan dari ancaman langsung. Di sisi lain, Washington tetap membuka ruang perundingan dan menggambarkan pembicaraan dengan Iran masih berada pada jalur yang menjanjikan.

Karena itu, serangan terhadap target di Iran selatan tidak hanya dibaca sebagai respons militer, tetapi juga sebagai bagian dari upaya AS menjaga posisi tawarnya di tengah proses damai. Situasi ini membuat Selat Hormuz, Bandar Abbas, dan dinamika negosiasi terbaru terus menjadi titik perhatian utama dalam perkembangan hubungan kedua negara.