Hukum & Kriminal

Dokumenter BBC Ungkap Praktik Spycams: Perempuan Direkam Diam-diam lalu Rekamannya Dibagikan Online

×

Dokumenter BBC Ungkap Praktik Spycams: Perempuan Direkam Diam-diam lalu Rekamannya Dibagikan Online

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BBC documentary found spycams secretly filming women online

jurnalistik.co.id – Praktik penyalahgunaan kamera pengintai—ketika pelaku merekam tanpa persetujuan lalu membagikan rekamannya di kanal daring—diungkap dalam dokumenter terbaru BBC berjudul Hunting the Spycammers. Tayangan ini menyoroti cara kerja jaringan yang memanfaatkan teknologi murah untuk menyasar ruang-ruang paling privat.

Presenter Jess Davies menceritakan bahwa ia menemukan banyak kasus ketika yang direkam bukan orang asing, melainkan pasangan sendiri: istri, pacar, maupun orang terdekat yang seharusnya dilindungi. Dalam investigasi tersebut, pelaku juga tak jarang bertindak sambil “berbangga”, seolah rekaman itu adalah bentuk hiburan atau kemenangan.

Davies menyebut beberapa orang menargetkan perempuan secara acak. Salah satu modus yang ia temui adalah penyembunyian kamera di jalur pejalan kaki, dengan harapan bisa menangkap momen ketika seorang perempuan sedang buang air—sebuah tindakan yang dilakukan tanpa izin dan jelas melanggar batas privasi.

Dokumenter ini membahas bagaimana penyaringan perangkat pengintai dilakukan di balik layar. Kamera dapat dipasang di tempat seperti kamar tidur, kamar mandi, ruang ganti, hingga area lain yang mestinya memberi rasa aman bagi korban.

Pusat perhatian Davies adalah kekerasan berbasis teknologi yang dampaknya melebar setelah rekaman dibuat. Ia menegaskan, “Yang benar-benar mengganggu adalah seberapa banyak pelaku memfilmkan dan membagikan konten orang—kebanyakan perempuan—yang merupakan orang-orang terkasih mereka.” Menurut Davies, situasi ini memperlihatkan bahwa siapa pun bisa menjadi sasaran bahaya semacam itu.

Selama penelusurannya, Davies juga memaparkan beragam perangkat yang tersedia dengan biaya terjangkau. Ia menyebut kamera disamarkan sebagai benda sehari-hari, misalnya pulpen, pengharum ruangan, dan colokan listrik.

Topik ini memiliki kaitan personal bagi Davies. Ia tumbuh di Aberystwyth, Ceredigion, dan saat berusia 15 tahun, gambar dirinya dalam pakaian dalam pernah tersebar di wilayah tempat tinggalnya. Saat itu, ia pernah bertukar foto dengan seorang lelaki yang ia sukai, lalu foto-foto tersebut diteruskan ke pihak lain tanpa persetujuannya.

Davies menggambarkan pengkhianatan itu sebagai pengalaman yang merusak martabat. Ia mengatakan, “Rasanya sangat melanggar, berpikir bahwa seseorang yang Anda sayangi bisa melakukan hal itu kepada Anda. Hal itu membuat Anda merasa tidak berharga.”

Ia menuturkan bahwa melihat kemiripan gambar korban lain di forum yang ia selidiki membuat perasaan yang sama kembali muncul. Davies mempertanyakan kemungkinan bahwa foto dirinya bisa berakhir di komunitas yang sama, sehingga ia kembali berhadapan dengan rasa kehilangan kendali atas jejak digitalnya.

Dalam wawancara yang dikutip dokumenter, Davies juga menyinggung bagaimana sebagian orang menyepelekan dampak tindakan tersebut. Ada yang menganggapnya tidak berbahaya atau sekadar “candaan” belaka.

Namun, bagi sebagian pelaku, logikanya berbeda: jika korban tidak pernah mengetahui dirinya direkam tanpa persetujuan, pelaku merasa tidak ada masalah. Davies menyebut pandangan semacam ini menunjukkan betapa seringnya tindakan kekerasan online dan penyalahgunaan gambar dianggap remeh.

Ia menegaskan bahwa di balik setiap video atau foto, selalu ada manusia yang harus hidup dengan pengkhianatan itu. “Di balik setiap gambar atau video ada seseorang yang harus menanggung pengkhianatan itu sepanjang hidupnya,” ujarnya.

Untuk keperluan dokumenter, Davies bekerja bersama jurnalis investigasi Liam Connell, yang sebelumnya pernah menyusup ke jaringan daring rahasia. Mereka memperoleh akses ke sebuah situs voyeur—sebuah pusat yang menghubungkan pengguna ke kelompok percakapan terenkripsi.

Dari penelusuran itu, mereka menemukan pertukaran kiat mengenai cara merekam secara diam-diam, serta kebiasaan membanggakan rekaman yang dibuat tanpa izin. Davies menggambarkan pola ini sebagai siklus yang tidak berhenti: “Ini adalah siklus tanpa akhir dari distribusi massal konten non-konsensual terhadap perempuan.”

Ia juga menyebut dampak emosionalnya serupa dengan perburuan. “Rasanya perempuan-perempuan ini diburu dan diperlakukan sebagai mangsa,” kata Davies.

Dalam proses investigasi, Davies juga berhadapan dengan pemilik forum yang ia masuki. Ia menuturkan bahwa pemilik tersebut mengatakan secara rutin memeriksa konten dan menurunkan materi non-konsensual. Meski begitu, Davies menilai dari bukti yang mereka temukan, perhatian terhadap kerusakan jangka panjang pada korban tampak minim.

Davies menyimpulkan bahwa orang-orang yang merekam tanpa persetujuan sering kali menganggap korban tak perlu diberi ruang persetujuan. Ia menekankan bahwa justru “ketiadaan persetujuan” yang mendorong banyak pelaku melakukan tindakan tersebut.

Selain itu, dokumenter ini membawa pesan kesadaran: kekerasan melalui kamera tersembunyi perlu dipahami sebagai serangan terhadap privasi. Davies berharap tayangan ini memperkuat gagasan bahwa penyalahgunaan berbasis persetujuan yang tidak pernah diberikan tidak boleh dinormalisasi.

Dari sisi konteks hukum di Inggris, perekaman seseorang tidak otomatis menjadi tindak pidana. Dalam ruang publik, orang umumnya diizinkan merekam apa yang terlihat secara wajar.

Namun, rekaman diam-diam dapat berubah menjadi pelanggaran hukum jika memenuhi sejumlah alasan. Di antaranya ketika tindakan itu tergolong voyeurisme, dilakukan di area yang membuat orang yang direkam dapat mengharapkan privasi, atau dilakukan dengan tujuan menimbulkan perundungan maupun rasa takut.

Organisasi amal Refuge, seperti yang dikutip dalam laporan ini, mendorong regulasi yang lebih ketat untuk perangkat pengawasan tersembunyi serta pelatihan aparat agar mampu mengenali dan menyelidiki penggunaan perangkat tersebut. “Yang sangat mengkhawatirkan adalah betapa mudah dan terjangkaunya perangkat-perangkat ini, sehingga memberi ruang lebih luas bagi pelaku untuk menjadikannya alat kontrol,” ujar Bo Bottomley, manajer kebijakan dan urusan publik Refuge.

Refuge juga melaporkan kenaikan 78% pada rujukan kasus kekerasan yang difasilitasi teknologi selama satu tahun terakhir. Meski begitu, organisasi ini menekankan bahwa hampir setiap penyintas yang didukungnya mengalami bentuk kekerasan berbasis teknologi dalam variasi tertentu.

Refuge juga menyatakan bahwa laporan tentang kamera dan mikrofon tersembunyi di rumah meningkat. Ia menekankan bahwa kerusakan tidak berhenti pada proses rekaman awal, sebab gambar dan video yang kemudian dibagikan dapat memberi dampak yang sangat berat.

Seorang juru bicara Welsh Women’s Aid menilai pengawasan terselubung semacam ini dapat mengikis rasa privasi dan rasa aman seorang individu. Pihaknya juga memperingatkan bahwa bahaya tersebut melebar jauh melampaui momen awal, bahkan membuat korban merasa tidak aman di lingkungan rumahnya sendiri.

Welsh Women’s Aid menambahkan bahwa bentuk kekerasan seperti ini sulit diukur. “Bentuk kekerasan ini sangat menantang untuk dikuantifikasi. Banyak penyintas tidak mengetahui bahwa hal itu terjadi pada mereka,” demikian pernyataan yang dikutip.

Organisasi tersebut meminta perusahaan teknologi bertindak cepat untuk menghapus rekaman spycams yang telah dibagikan dan menyediakan informasi kepada polisi guna membantu mengidentifikasi pelaku. Pemerintah Inggris juga diminta memberikan komentar terkait isu ini.

Dokumenter Hunting the Spycammers akan tersedia di kanal YouTube BBC dan BBC iPlayer pada Rabu, 15 Juli.