Internasional

WHO Minta Obat Ebola Dibatasi untuk Uji Klinis

2
×

WHO Minta Obat Ebola Dibatasi untuk Uji Klinis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: WHO Minta Obat Ebola Dibatasi dengan Alasan Uji Klinis - Gaya Hidup

jurnalistik.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO meminta obat-obatan yang sedang dikembangkan untuk mengobati dan mencegah infeksi virus Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dibatasi penggunaannya. Menurut para penasihat WHO, produk-produk itu sebaiknya hanya diberikan sebagai bagian dari uji klinis, bukan sebagai pengobatan massal.

Rekomendasi tersebut membuat pasien dan suspek Ebola di dua negara itu berpotensi tidak memperoleh akses ke obat-obatan yang tengah diuji. WHO menilai, pendekatan berbasis uji klinis menjadi pilihan yang paling tepat untuk memastikan data yang dihasilkan kuat dan proses penelitian berjalan aman, etis, serta efektif.

Pembatasan di tengah wabah yang sulit diprediksi

WHO menyebut pengembangan obat Ebola memang sangat sulit. Wabah virus ini kerap muncul secara sporadis, sering terjadi di wilayah terpencil, dan dapat membunuh pasien dalam waktu sangat cepat. Kondisi tersebut membuat pengumpulan data klinis menjadi jauh lebih rumit dibandingkan dengan penyakit lain yang lebih mudah dipantau.

Untuk menilai obat-obatan potensial yang beredar saat ini, WHO mengumpulkan beberapa kelompok penasihat ahli. Fokusnya adalah strain Bundibugyo yang sedang beredar. Dari evaluasi itu, para penasihat merekomendasikan agar semua produk “digunakan secara eksklusif dalam uji klinis untuk menghasilkan data yang kuat dan memastikan penelitian yang aman, etis, dan efektif,” kata WHO.

Dengan kata lain, WHO ingin memastikan penanganan Ebola tidak dilakukan secara luas tanpa dasar penelitian yang memadai. Bagi badan kesehatan dunia itu, uji klinis tetap menjadi jalur utama agar efektivitas dan keamanan obat dapat dipastikan sebelum dipakai lebih luas.

Meski demikian, rekomendasi ini diperkirakan tidak akan berjalan mulus. Dalam laporan itu disebutkan bahwa langkah WHO kemungkinan akan mendapat penolakan, terutama karena ada rencana dari Amerika Serikat untuk menyediakan antibodi monoklonal bagi warga AS yang terinfeksi.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan perawatan tersebut akan tersedia di fasilitas di Kenya untuk merawat warga AS yang terpapar virus. Pernyataan itu disampaikan dalam panggilan dengan wartawan pada Kamis, dan menjadi salah satu tanda bahwa pendekatan di lapangan bisa berbeda dengan rekomendasi WHO.

Para penasihat kesehatan masyarakat menilai pengobatan yang sedang dikembangkan oleh Mapp Biopharmaceutical Inc., Regeneron Pharmaceuticals Inc., dan Gilead Sciences Inc. cukup menjanjikan. WHO menyebut produk-produk itu “cukup menjanjikan sehingga layak diprioritaskan untuk dievaluasi dalam uji klinis,” menurut email organisasi tersebut.

Dengan penilaian itu, WHO tidak menutup kemungkinan penggunaan obat-obatan tersebut. Namun, badan itu menekankan bahwa prioritasnya tetap pada pengujian terkontrol agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam situasi wabah yang bergerak cepat dan tidak selalu muncul di lokasi yang mudah dijangkau, pendekatan semacam ini dianggap paling aman untuk jangka panjang.

Di sisi lain, dilema akses dan pembuktian ilmiah tampak makin menonjol. Satu pihak ingin respons cepat untuk pasien yang membutuhkan, sementara pihak lain menekankan perlunya bukti yang lebih kuat sebelum terapi dipakai secara luas. WHO memilih jalur yang lebih ketat dengan alasan mutu data, keselamatan pasien, dan etika penelitian.

Karena itu, pembahasan soal obat Ebola di Kongo dan Uganda tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan terapi. Lebih jauh, ini juga menyangkut cara dunia medis menguji obat untuk penyakit yang muncul tidak menentu, bergerak cepat, dan sering menyerang wilayah yang sulit dijangkau. Dalam konteks seperti ini, uji klinis tetap diposisikan sebagai dasar utama sebelum sebuah terapi dianggap layak digunakan di luar lingkup penelitian.