jurnalistik.co.id – Dua warga negara Rumania dijatuhi hukuman penjara di Inggris setelah menyerang seorang jurnalis Iran International di Wimbledon, London, pada Maret 2024. Pengadilan menyebut serangan itu dilakukan demi “membungkam” tokoh yang kritis terhadap pemerintah Iran.
Pouria Zeraati, yang bekerja untuk kanal berbahasa Persia Iran International, menjadi sasaran penusukan saat ia berjalan menuju mobilnya dekat tempat tinggalnya. Lokasinya hanya beberapa langkah dari All England Lawn Tennis Club.
Di persidangan, pengadilan menyatakan bahwa Nandito Badea, 21 tahun, dan George Stana, 25 tahun, menyerang Zeraati dalam konteks yang terkait kepentingan rezim Iran. Putusan menyebut motif tersebut terkait upaya “silencing” terhadap jurnalis.
Stana divonis 12 tahun penjara, sedangkan Badea mendapat hukuman delapan tahun. Keduanya dinyatakan bersalah atas tindak penyerangan dengan niat melukai dengan tujuan menyebabkan cedera tubuh berat.
Serangan pisau itu membuat Zeraati harus menjalani perawatan medis dan mendapatkan jahitan akibat tiga luka tusuk di kaki. Di laporan perkara, Stana diketahui mengemudikan mobil Mazda sebagai kendaraan yang digunakan untuk melarikan diri.
Pengadilan juga mencatat peran masing-masing pelaku di tempat kejadian. Zeraati menyampaikan bahwa Badea yang memegang pisau, sementara satu orang lain, David Andrei, menahan Zeraati saat penusukan berlangsung.
David Andrei, yang disebut terlibat dalam proses penyerangan, hingga saat ini masih berada di Rumania. Informasi keterlibatan Andrei disampaikan dalam rangkaian keterangan di pengadilan.
Dalam putusan, Mrs Justice Cheema-Grubb menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan untuk atau atas manfaat kekuatan asing. Hakim menyatakan: “I am sure that this was an attack for – or for the benefit of – a foreign power.”
Hakim juga menilai target Zeraati bukan pilihan acak. Pernyataan tersebut berbunyi: “The victim Pouria Zeraati was not selected at random.”
Menurut pertimbangan pengadilan, Zeraati sebelumnya telah menghadapi ancaman. Hakim menyebut bahwa di ibu kota Tehran terdapat poster yang memuat foto Zeraati dan kata-kata “Wanted. Dead or alive”.
Cheema-Grubb kemudian menilai pengetahuan pelaku. Ia menyimpulkan bahwa Stana “knew or should have known” serangan dilakukan atas perintah atau untuk kepentingan Iran, namun ia tidak yakin apakah Badea memiliki tingkat pengetahuan yang sama.
Dalam persidangan, pengadilan juga mendengar bahwa serangan itu direncanakan jauh hari. Pengadilan menyatakan serangan tersebut disusun setidaknya selama “at least one year” dengan pengawasan yang luas terhadap rumah Zeraati di Wimbledon.
Vonis dan dampak bagi korban
Zeraati menyampaikan dampak serangan melalui pernyataan dampak korban (victim impact statement) yang dibacakan di pengadilan. Ia mengatakan insiden tersebut menyebabkan dirinya mengalami “significant sleeplessness”.
Ia juga mengungkapkan ketakutan dan kecemasan setelah peristiwa tersebut. Dalam keterangannya, Zeraati menyatakan: “The incident has left me scared and anxious”.
Berita Terkait
Zeraati mengatakan ia harus pindah alamat beberapa kali. Ia mengaku takut keluar sendirian, sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit.
Dalam keterangannya, ia menjelaskan perubahan perilaku yang muncul karena rasa waspada. Ia menyampaikan bahwa ia merasa sulit pergi ke restoran karena khawatir diikuti.
Ia menuturkan, “I find it difficult to go to restaurants for fear of being followed,” sebelum menambahkan, “I am always looking over my shoulder.” Kalimat-kalimat itu menggambarkan situasi psikologis yang masih ia rasakan setelah penyerangan.
Hakim pada akhirnya menjadikan pertimbangan tersebut sebagai bagian dari konteks penjatuhan pidana. Namun, rincian perencanaan dan keterkaitan dengan kekuatan asing tetap menjadi poin utama dalam penilaian pengadilan.
Argumentasi pembelaan
Pengacara kedua terdakwa menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan terkait dengan Iran. Poin pembelaan ini disampaikan sebagai ketidakpahaman atas keterlibatan atau perintah yang diduga berasal dari kekuatan asing.
Untuk Stana, pengacara Peter Caldwell KC menyampaikan bahwa kliennya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami konteks serangan. Ia menegaskan: “He did not know it and could not know it.”
Peter Caldwell KC juga menambahkan bahwa Stana tidak dianggap sebagai sosok yang memahami informasi terkini. Ia menyatakan: “He is not a sophisticated person. He is functionally illiterate. He is not aware of current affairs.”
Sementara itu, untuk Badea, David Spens KC menyampaikan pendirian yang berbeda namun tetap berbasis pada unsur pengetahuan. Ia mengatakan, “I do not dispute that the prosecution has established that the attack was carried out on behalf of a foreign power.”
Namun, Spens kemudian menegaskan tidak ada bukti yang dapat dipakai untuk menyimpulkan bahwa Badea mengetahui hal-hal tersebut. Pernyataan lengkapnya berbunyi: “But, he said, ‘There is no evidence from which it can be inferred Mr Badea had knowledge of those matters.’”
Dengan mempertimbangkan perbedaan tingkat pengetahuan yang dinilai oleh hakim, vonis yang dijatuhkan akhirnya menghasilkan angka yang berbeda untuk kedua terdakwa. Stana menerima 12 tahun, sedangkan Badea delapan tahun.
Pengadilan juga menempatkan detail teknis peristiwa sebagai unsur yang memperkuat penilaian keseluruhan. Serangan terjadi ketika Zeraati berjalan menuju mobilnya di dekat kediaman, lalu pisau melukai kaki hingga memerlukan jahitan.
Dalam rangkaian tindakan, Stana disebut mengemudikan mobil Mazda, sementara peran Badea sebagai pengendali pisau disebut oleh Zeraati. Adapun Andrei disebut menahan Zeraati selama serangan berlangsung.
Keputusan tersebut memperlihatkan bagaimana persidangan menghubungkan kasus penusukan dengan dugaan kepentingan kekuatan asing. Dengan menyebut adanya ancaman, poster di Tehran, serta rencana yang dipersiapkan selama setidaknya satu tahun, pengadilan menyimpulkan keterkaitan yang lebih luas dari sekadar serangan individu.
Saat Zeraati menghadapi dampak lanjutan seperti ketakutan keluar rumah dan perubahan alamat, putusan di Old Bailey menjadi penutup dari proses hukum yang berangkat dari rangkaian bukti di persidangan. Kini, dua terdakwa menjalani masa hukuman sesuai putusan pengadilan tersebut.












