Hukum & Kriminal

Pria Yunani Divonis 10 Tahun atas Pembunuhan Jean Hanlon di Kreta

×

Pria Yunani Divonis 10 Tahun atas Pembunuhan Jean Hanlon di Kreta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Greek man found guilty of murdering Scottish woman in Crete

jurnalistik.co.id – Seorang pria asal Yunani dinyatakan bersalah atas pembunuhan Jean Hanlon, perempuan asal Skotlandia, di Pulau Kreta. Vonis penjara 10 tahun dijatuhkan setelah persidangan yang berlangsung empat hari di Lasithi Law Courts, Neapoli.

Jean Hanlon ditemukan tewas pada perairan di luar Heraklion, Kreta, pada Maret 2009. Usianya 53 tahun saat dinyatakan hilang, dan jenazahnya ditemukan pada 13 Maret 2009, empat hari setelah dilaporkan menghilang.

Pria berusia 54 tahun itu dinyatakan bersalah dan diputus bersalah serta dijatuhi hukuman 10 tahun. Di bawah hukum Yunani, namanya tidak akan dipublikasikan sampai proses pengadilan selesai termasuk tahap banding.

Pengadilan juga menetapkan bahwa pria tersebut memiliki tanggung jawab yang berkurang karena kondisi kesehatan mental. Ia baru akan menjalani masa penahanan setelah bandingnya didengar.

Kasus sempat dinilai kecelakaan, lalu dibuka kembali Pada awalnya, otoritas Yunani menyimpulkan kematian Jean sebagai akibat kecelakaan. Namun keluarga korban tidak menerima penjelasan tersebut dan mendorong agar perkara diselidiki ulang.

Investigasi berikutnya menemukan adanya cedera yang konsisten dengan dugaan adanya pergulatan. Pada 2023, keluarga Jean mempekerjakan penyelidik swasta yang menyusun laporan dengan seorang tersangka bernama, lalu menyerahkannya kepada pihak berwenang.

Selama persidangan, jaksa menilai pria itu berada bersama Jean pada malam saat kematian terjadi dan bertanggung jawab atas kematian tersebut. Meskipun tidak ada bukti fisik yang menghubungkan keduanya pada malam itu, juri yang terdiri dari anggota masyarakat dan hakim tetap memutuskan pria tersebut bersalah.

Pengadilan mendengar bahwa tersangka sempat menjalin hubungan singkat dengan Jean di awal 2009. Setelah Jean mengakhiri hubungan, jaksa menyatakan tersangka tidak menerima keputusan tersebut dan mulai melakukan penguntitan.

Jean terakhir kali dilihat bersama seorang pria di Marina Cafe, Heraklion. Tiga hari setelah ia dilaporkan hilang, tepat pada 13 Maret 2009, jenazahnya ditemukan di luar wilayah tersebut.

Kondisi kesehatan mental jadi pertimbangan vonis Sidang juga memuat keterangan mengenai diagnosis tersangka, yakni skizofrenia dan gangguan bipolar. Ia disebut sedang mengonsumsi obat setiap hari.

Suster tersangka menyampaikan kepada pengadilan bahwa ia akan menjadi agresif jika tidak meminum obatnya. Di sisi lain, jaksa berpendapat tersangka tidak menjalani pengobatan saat menjalin hubungan dengan Jean.

Pengadilan lalu mengakui tanggung jawab yang berkurang karena kondisi-kondisi kesehatan mental itu. Dengan pertimbangan tersebut, vonis yang dijatuhkan tetap memberikan hukuman penjara, namun pelaksanaannya menunggu hasil banding.

Bukti medis diperkenalkan melalui keterangan dari seorang ahli forensik yang terlibat dalam perkara sejak 2019. Elena Krantoni menelaah laporan pemeriksaan pascamati dan bukti foto, namun ia tidak memeriksa tubuh Jean secara langsung.

Krantoni menyatakan Jean meninggal akibat robekan tidak lengkap pada batang otak. Ia mengatakan cedera fatal kemungkinan besar disebabkan oleh pukulan kuat di bagian belakang leher dengan benda tumpul, dan menilai luka tersebut tidak konsisten dengan skenario jatuh.

Menurut Krantoni, ia meyakini Jean ditempatkan ke dalam laut ketimbang dilemparkan. Ia juga menyebut Jean kemungkinan masih hidup ketika masuk ke air.

Kesaksian tiga putra, termasuk catatan harian Persidangan turut mendengar keterangan dari tiga putra Jean yang datang dari Dumfries ke Kreta. Mereka adalah Robert Porter, Michael Porter, serta David Porter.

Robert Porter menyampaikan bahwa ibunya menyimpan sebuah buku catatan harian yang menyebut nama tertuduh. Ia menyatakan catatan itu merujuk pada hubungan yang disebutnya “steady relationship”.

Robert mengatakan Jean mengakhiri hubungan dengan cara yang “polite”, namun tersangka terus “bully” Jean. Ia juga menyampaikan bahwa catatan harian tersebut adalah “voice” dari ibunya dan ada bukti penting yang dinilai tidak mendapat perhatian yang cukup.

Michael Porter mengatakan dalam catatan harian, Jean menegaskan bahwa ia berupaya menghentikan komunikasi dengan pria itu. Michael juga menyebut pria tersebut terus datang ke rumah dan tempat kerja Jean, meminta uang, serta mengikuti pergerakan Jean.

Jean, menurut persidangan, tinggal di Kato Gouves, sebuah desa sekitar 12 mil (19 km) dari Heraklion, selama beberapa tahun sebelum kematiannya. Ia bekerja di beberapa bar dan tavernas setempat di area tersebut.

Setelah putusan, Michael menyampaikan kepada BBC Scotland bahwa proses penantian selama 17 tahun terasa sangat panjang namun seperti terjadi kemarin. Ia mengatakan untuk pertama kalinya, “suara” sang ibu didengar di ruang yang penuh orang asing.

Michael menambahkan bahwa ibunya akhirnya bisa “bebas” namun menilai hal itu tetap membuat frustrasi karena tersangka tidak akan menjalani hukuman penjara sebelum proses banding selesai. Ia menekankan bahwa hasil putusan memberi kejelasan yang selama ini mereka cari, meski masa menunggu masih harus dilalui.