jurnalistik.co.id – Emma Raducanu memasuki persiapan Wimbledon dengan satu tekad yang ia sampaikan berulang kali kepada timnya dan media: ia tetap berniat tampil meski cedera di kaki masih menjadi pertimbangan besar jelang laga pembuka.
Petenis berusia 23 tahun itu mengatakan she “plans to play” pada hari Senin, meski partisipasinya “put into serious doubt” karena cedera kaki.
Keputusan tersebut lahir setelah ia menjalani sesi latihan berdurasi sekitar satu jam di All England Club pada Minggu. Dari sana, fokusnya kembali ke pemulihan dan manajemen kondisi agar pertandingan pertama bisa dijalani.
Raducanu, yang berstatus unggulan ke-30, dijadwalkan memulai kampanyenya melawan Antonia Ruzic dari Kroasia di Court One pada pukul 13:00 BST.
Dalam konferensi pers, Raducanu menekankan bahwa rencananya dijalankan bersama tim. Ia menyatakan, “I’m going to do everything with my team in terms of treatment,” lalu menambahkan tanpa menyebut peluangnya secara persentase: “The plan right now is to play.”
Keseriusan situasi Raducanu mulai terlihat lebih jelas dalam sepekan terakhir. Ia terlihat memakai pelindung boot pada Rabu, lalu tidak bisa berlatih pada Kamis dan Jumat karena kondisi yang diyakini sebagai masalah di tulang kering.
Gangguan tersebut kemudian diuji lagi pada Sabtu, saat ia kembali ke lapangan. Saat sesi itu berlangsung, ia menggunakan strapping di bagian kaki kanan bagian bawah sebelum memulai latihan yang bersifat lebih ringan bersama tim.
Namun, latihan itu tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana penuh. Raducanu memendekkan sesi latihan lainnya saat menghadapi Anna Kalinskaya, ketika keduanya memainkan set latihan, dan ia berhenti 10 menit sebelum waktu tersisa habis.
Itu menjadi hambatan tambahan bagi Raducanu dalam perjalanan karier yang belakangan berulang kali diwarnai masalah cedera. Dalam musim ini, ia juga sempat terganggu oleh viral illness yang membuatnya hanya tampil dalam enam pertandingan sejak awal Februari hingga awal periode Queen’s pada awal bulan ini.
Meski begitu, Raducanu menemukan kembali kepercayaan diri setelah melaju ke final Queen’s. Hasil itu meningkatkan optimisme bahwa ia bisa menjalani Wimbledon dengan baik, terutama mengingat ia pernah mencapai babak keempat di Wimbledon pada 2021 dan 2024.
Di Wimbledon pada Minggu, Raducanu menyebut masalah shin tersebut sebagai “niggle” yang sudah ia tangani sekitar satu bulan. Ia menjelaskan, “I’ve been managing it. Queen’s, maybe, was a lot of load for me,” sebelum menambahkan, “Five matches after having not competed for a while, it was just a lot.”
Ia kemudian menegaskan strategi pengelolaan kondisinya. “But I’m just managing it with my team as best as I possibly can, exhausting all options and doing what we can,” ujarnya.
Dari pantauan latihan pada Minggu pagi, ada tanda perbaikan meski tidak berarti risiko hilang sepenuhnya. Raducanu terlihat sedikit lebih berani saat berhadapan dengan Alexis Canter, khususnya ketika ia melakukan dorongan menggunakan kaki kanan pada sisi forehand.
Tetapi ia tetap belum mendapatkan pengujian pergerakan yang setara dengan yang ia terima ketika berlatih melawan Kalinskaya. Dengan kata lain, evaluasi kebugaran menjelang laga pembuka masih terus berlangsung dari sesi ke sesi.
Situasi ini juga memperlihatkan dilema yang harus ia hadapi kurang dari 24 jam sebelum memulai kampanye Wimbledon terbarunya. Secara publik ia berusaha menyampaikan pesan positif di hadapan media pada Minggu sore sekitar pukul 15:30 BST, meski di dalam dirinya ia tetap menunggu kepastian apakah cedera shin akan menghalanginya saat menghadapi Ruzic.
Raducanu, seperti petenis tuan rumah lainnya di Inggris, tidak ingin melewatkan Wimbledon. Ia memiliki gaya bermain yang terasa cocok untuk rumput dan dapat berkembang dengan dukungan besar yang diterimanya di All England Club.
Karena itulah, ia memilih untuk mendorong batas kemampuan dirinya, mengambil lebih banyak risiko dalam pengelolaan cedera, demi mendapatkan kesempatan tampil di Wimbledon.












