Bisnis & Ekonomi

EasyJet Sepakati Akuisisi £5,7 Miliar oleh Apollo setelah Pesaing Mundur

×

EasyJet Sepakati Akuisisi £5,7 Miliar oleh Apollo setelah Pesaing Mundur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: EasyJet agrees to £5.7bn takeover by US firm

jurnalistik.co.id – EasyJet menyepakati rencana akuisisi bernilai £5,7 miliar oleh perusahaan asal AS, Apollo, setelah salah satu pesaing menarik diri dari persaingan. Apollo menyatakan tidak berencana memangkas pekerjaan dalam 12 bulan pertama setelah kesepakatan selesai, sehingga layanan penumpang diperkirakan tetap relatif sama.

Kesepakatan itu diumumkan setelah perusahaan investasi AS, Castlelake, yang sebelumnya mengajukan sejumlah tawaran untuk maskapai tersebut, menyatakan mundur dari “pertempuran” penawaran. Setelah itu, Apollo mengambil alih jalur negosiasi sebagai pihak yang akan melanjutkan proses akuisisi.

Apollo mengatakan ingin membantu EasyJet tumbuh serta mempertahankan arah strategis perusahaan. Menurut rencana tersebut, penumpang dapat mengharapkan pengalaman yang tidak berubah secara drastis pada awal masa kepemilikan baru.

EasyJet merupakan salah satu maskapai terbesar di Eropa. Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 19.000 karyawan dan mengoperasikan sekitar 1.200 rute di 35 negara di Eropa.

Maskapai ini didirikan oleh Sir Stelios Haji-Ioannou pada 1995 dengan tujuan menawarkan tarif penerbangan murah ke berbagai destinasi di Eropa dari Inggris. Penerbangan perdana berangkat pada November 1995 dari Luton menuju Glasgow dan Edinburgh, sementara penerbangan internasional pertamanya dilakukan pada tahun berikutnya.

Sir Stelios dan keluarganya masih memiliki sekitar 15% bisnis tersebut. Dalam pernyataan yang ia sampaikan, ia menyatakan keluarganya mendukung rencana Apollo agar EasyJet “to create more growth” dan menegaskan, “My family and I intend to remain invested as long-term major shareholders of EasyJet for the next chapter in the company’s journey.”

Harga dan respons analis Di bawah penawaran Apollo, pemegang saham EasyJet akan menerima £7,15 per saham. Danni Hewson, kepala analisis keuangan AJ Bell, menilai harga yang ditawarkan berada jauh di atas posisi perdagangan saham sebelum “Iran war”, namun tetap “still woefully short of the company’s pre-pandemic highs”.

Apollo menyebut pihaknya “highly supportive” terhadap strategi yang saat ini dijalankan EasyJet. Perusahaan itu juga menilai ada “a significant opportunity to accelerate the operational and commercial ambitions” untuk Grup EasyJet.

Alex van Hoek, partner dan European private equity lead di Apollo, mengatakan EasyJet telah membangun posisi pasar yang terdiferensiasi melalui proposisi pelanggan yang menarik, jaringan yang luas, serta merek yang kuat. Ia memposisikan Apollo sebagai mitra yang dapat mempercepat ambisi operasional sekaligus komersial tersebut.

Perubahan peta tawaran Masa depan kepemilikan EasyJet sebelumnya sempat tidak pasti sejak akhir Mei ketika Castlelake mulai mempertimbangkan tawaran. Castlelake sempat mengajukan sejumlah pendekatan, tetapi penawaran awalnya ditolak karena EasyJet menuduh perusahaan AS itu berusaha membeli “on the cheap”.

Pada awal Juli, EasyJet dan Castlelake menyatakan telah mencapai kesepakatan dalam prinsip. Setelah itu, Apollo yang juga memiliki The Restaurant Group—pemilik Wagamama—masuk dengan tawaran yang lebih tinggi sehingga dinamika persaingan berubah.

CEO EasyJet, Kenton Jarvis, menyampaikan, “We welcome Apollo’s commitment to our business and our people, and believe that its experience in the aviation sector makes it a strong partner for EasyJet.”

Persetujuan regulator dan dampak pekerjaan Rencana akuisisi ini tetap bergantung pada persetujuan otoritas pengatur, termasuk di Uni Eropa. Aturan di kawasan tersebut mensyaratkan pemilik EasyJet harus mayoritas berasal dari basis UE.

Apollo menilai persyaratan itu dapat dipenuhi melalui struktur kepemilikan yang membuat keluarga Haji-Ioannou dan pemegang saham berbasis UE lainnya memegang sekitar setengah dari bisnis tersebut. Dengan demikian, komposisi pemilik diharapkan tetap sesuai ketentuan regulasi UE.

Pihak Apollo menyatakan tidak ada pemotongan staf untuk setidaknya 12 bulan setelah kesepakatan berjalan. Namun jika transaksi selesai dan EasyJet delisting dari bursa untuk menjadi perusahaan privat, Apollo mengingatkan sejumlah pekerjaan yang terkait dengan pemeliharaan status perusahaan publik berpotensi berkurang.

Menurut Apollo, hal tersebut “a limited number of roles in specific areas.” Hewson dari AJ Bell juga menilai potensi berkurangnya nama besar lain di pasar London dapat dipandang sebagai pukulan.

Ia menambahkan, “Air travel might not be as sexy as space travel, but retail investors understand it and names like EasyJet can’t easily be replaced.”