Bisnis & Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi RI 5,3%: Asing Masih Melepas Saham Big Caps

×

Pertumbuhan Ekonomi RI 5,3%: Asing Masih Melepas Saham Big Caps

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ekonomi RI Tumbuh 5,3 Persen, Mengapa Investor Asing Masih Jual Saham Big Caps?

jurnalistik.co.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,3 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal II-2026 belum otomatis mengubah sikap investor di pasar modal.

Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, investor asing justru masih mencatat aksi jual bersih pada sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya memandang laju pertumbuhan sebagai momentum yang benar-benar berkelanjutan.

Pada perdagangan tahun berjalan, aksi jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp 95,01 triliun (year to date/YTD).

Seiring itu, IHSG juga terkoreksi 26,55 persen.

Bahkan pada Rabu (5/8/2026), investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 187,59 miliar.

Dari sisi analis, pertumbuhan 5,3 persen pada kuartal II-2026 dipandang sebagai sinyal positif bagi perekonomian nasional.

Namun, menurut PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, reaksi pasar masih bersifat selektif karena kualitas pertumbuhan dinilai perlu terus diuji.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai reli indeks memang berlanjut, tetapi tidak disertai penguatan yang merata.

“IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas,” ujar Rully lewat keterangan pers, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara saham berfundamental besar belum menjadi pendorong utama.

Dalam pengamatan Mirae Asset, investor asing masih mencatat net sell pada sejumlah saham big caps seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Rully menambahkan bahwa tekanan pada saham-saham berfundamental kuat tersebut terlihat meskipun produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat lebih baik dari ekspektasi pasar.

“Kami melihat pasar saat ini tidak hanya memperhatikan besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut,” paparnya.

Dengan kata lain, pasar belum menjadikan angka pertumbuhan sebagai katalis tunggal investasi.

Selama arus dana asing belum kembali dan big caps belum menunjukkan penguatan yang lebih konsisten, pelaku pasar cenderung mempertahankan sikap selektif.

Pandangan ini muncul dari fakta bahwa meski IHSG berada dalam fase penguatan, saham-saham yang menjadi barometer fundamental justru masih berada di bawah tekanan.

Rully juga menyoroti faktor nilai tukar rupiah yang menguat dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, penguatan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal ketimbang kondisi domestik.

Ia menjelaskan penguatan yen Jepang setelah adanya intervensi terkoordinasi antara Jepang dan Amerika Serikat menekan penguatan dollar AS, sehingga turut mendukung mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Kami masih melihat reli IHSG perlu dicermati secara selektif hingga saham-saham berkapitalisasi besar dan arus dana asing menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten,” pungkas dia.

Senada dengan itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih mencatat kinerja yang solid dengan pertumbuhan 5,3 persen secara tahunan (YoY).

Namun demikian, ia menilai kualitas pertumbuhan tetap perlu dicermati karena kenaikannya turut didorong oleh stimulus fiskal.

Menurut Novani, basis belanja pemerintah dinilai rendah, selain itu pertumbuhan juga memiliki faktor musiman yang ikut memengaruhi.

Dengan komposisi dorongan yang berasal dari beberapa unsur tersebut, pasar kemudian menilai kemungkinan keberlanjutan pertumbuhan pada periode berikutnya.

Jika sumber pertumbuhan belum menunjukkan penguatan yang lebih solid, investor cenderung menahan posisi pada saham-saham besar dan menunggu tanda-tanda perbaikan yang lebih konsisten, termasuk dari arus dana asing.

Di tengah dinamika tersebut, pembacaan pasar menjadi lebih berorientasi pada kualitas dan kesinambungan pertumbuhan ketimbang sekadar melihat angka tahunan.

Investor asing yang masih net sell pada big caps, sementara IHSG menguat, mempertegas bahwa reli indeks tidak otomatis berarti perbaikan menyeluruh pada saham berfundamental.

Bagi pelaku pasar, periode pengamatan berikutnya menjadi penentu apakah pertumbuhan 5,3 persen benar-benar diikuti oleh perbaikan kualitas ekonomi dan konsistensi aliran modal.