jurnalistik.co.id – Harga emas dunia melemah pada akhir perdagangan Senin (29/6/2026) waktu setempat, atau Selasa (30/6/2026) pagi WIB, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Tekanan geopolitik itu ikut mengerek kekhawatiran terhadap inflasi serta memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Di tengah suasana yang makin tidak pasti, pelaku pasar juga menilai pergerakan komoditas cenderung dipengaruhi oleh kombinasi dua faktor: risiko dari Timur Tengah dan respons kebijakan moneter AS. Kondisi tersebut membuat logam mulia kehilangan daya tariknya pada sesi terakhir.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,7 persen menjadi 4.020,68 dollar AS per ons. Pada saat yang sama, harga kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun 1,4 persen menjadi 4.038,90 dollar AS per ons.
Menurut Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Kepala Strategi Logam Zaner Metals, pasar sangat responsif terhadap perkembangan di kawasan tersebut. Ia menyampaikan, βPasar sangat memperhatikan perkembangan di Timur Tengah. Ketegangan kembali meningkat pada akhir pekan, sementara investor juga masih menyesuaikan diri dengan sikap The Fed yang semakin hawkish ,β
Ketegangan meningkat setelah Iran pada Minggu meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Kejadian itu muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran jika tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian damai final.
Dampak langsung dari eskalasi tersebut terlihat pada pergerakan komoditas energi. Serangan yang dilaporkan mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent, sehingga sentimen pasar ikut bergeser.
Ketegangan menggeser ekspektasi inflasi
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven), kenaikan harga energi akibat konflik justru memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Ketika risiko inflasi meningkat, peluang kebijakan suku bunga yang lebih ketat dinilai makin terbuka.
Hal ini pada akhirnya menekan emas, karena kenaikan suku bunga umumnya membuat daya saing logam mulia berkurang. Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi, sehingga saat suku bunga berpotensi lebih tinggi, minat pasar terhadap emas dapat melemah.
Di bulan ini, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, para pembuat kebijakan masih memperkirakan akan ada satu kali kenaikan suku bunga lagi di tahun ini, dengan pertimbangan inflasi masih berada di atas target 2 persen.
Selain faktor suku bunga, dolar AS juga menjadi penentu penting bagi harga emas. Laporan pasar menyebut mata uang AS berada di jalur menuju kenaikan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun.
Penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Akibatnya, permintaan terhadap emas cenderung menurun, terutama ketika pelaku pasar memperhitungkan kombinasi suku bunga yang lebih tinggi dan mata uang yang lebih kuat.
Menunggu katalis data tenaga kerja
Di luar isu geopolitik, pasar juga mengarahkan perhatian pada rilis data ekonomi AS yang akan datang. Pelaku pasar menantikan rilis data ketenagakerjaan swasta versi ADP pada Rabu, lalu diikuti data nonfarm payrolls pada Kamis.
Harapan terhadap data tenaga kerja tersebut relevan bagi penilaian jalur kebijakan The Fed ke depan. Bagi investor, hasil survei dan indikator berikutnya dapat memengaruhi arah ekspektasi suku bunga, yang pada gilirannya berdampak pada pergerakan emas.
Dengan latar ketegangan AS-Iran, kekhawatiran inflasi, serta posisi dolar AS yang menguat, pasar tampak tetap berhati-hati. Dalam kondisi seperti ini, perubahan kecil pada sinyal kebijakan moneter maupun data ekonomi dapat segera tercermin pada harga emas global.











