jurnalistik.co.id – Senin, 29 Juni 2026, pergerakan Bitcoin masih menunjukkan kecenderungan melemah dan belum mampu keluar dari zona merah. Pada perdagangan pukul 08.32 WIB, harga BTC bergerak di bawah tekanan sentimen global yang turut diwarnai memanasnya ketegangan geopolitik serta aksi jual pelaku pasar besar.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat turun 1,44 persen. Namun, dalam rentang 1 jam terakhir, harga sempat menguat 0,41 persen, meski pemulihan tersebut belum cukup untuk membalikkan arah tren harian.
Jika dilihat dari perspektif mingguan, Bitcoin masih berada dalam fase koreksi. Dalam sepekan terakhir, harga turun 8,23 persen hingga menyentuh 59.230,32 dollar AS (sekitar Rp 1,05 miliar dengan kurs Rp 17.952).
Secara nilai, kapitalisasi Bitcoin hari ini mencapai 1,18 triliun dollar AS (setara Rp 21.047 triliun). Pada basis rerata per 24 jam, BTC juga mengalami penurunan 1,47 persen, menandakan tekanan jual masih lebih dominan dibanding dorongan beli.
Pergerakan harga menuju sesi pagi
Sejak Minggu (28/6/2026) pukul 11.45 WIB, pergerakan Bitcoin terlihat terus meluncur lebih rendah. Saat itu harga berada di 59.542,8 dollar AS (sekitar Rp 1,06 miliar), lalu berlanjut berada di wilayah merah.
Pada pagi ini, harga kemudian bergerak di 59.230,32 dollar AS. Pola pergerakan yang cenderung turun dengan jeda reli singkat itu membuat investor menilai peluang keluar dari tekanan belum terlihat.
Dalam rentang 24 jam, Bitcoin juga masih mencatat penurunan 0,87 persen menjadi 59.415,91 dollar AS. Di saat yang sama, pergerakan pasar yang lebih luas digambarkan stagnan, sehingga tekanan pada BTC tampak lebih menonjol dibanding sebagian aset kripto lain pada momen tersebut.
Beberapa sinyal teknis ikut menjadi perhatian. BTC disebut sulit berbalik arah setelah menembus area yang dipandang sebagai support teknis jangka panjang yang kritis, sehingga aksi jual cenderung berlanjut.
Sentimen hawkish dan arus dana sebagai penahan
Kepemilikan posisi yang melemah tidak hanya dipicu kondisi internal pasar kripto, tetapi juga dipengaruhi kebijakan moneter yang cenderung ketat. Bitcoin disebut jatuh dan tak mampu keluar dari zona merah karena kebijakan hawkish The Fed.
Selain itu, arus keluar dana disebut terus terjadi dari ETF (Exchange-Traded Fund) Bitcoin spot AS. Kondisi ini memperlihatkan bahwa minat pada instrumen berbasis Bitcoin di pasar tradisional belum sepenuhnya mendukung pemulihan harga.
Di sisi kebijakan, The Fed disebut mempertahankan suku bunga dengan nada hawkish. Dalam teks sumber, disebutkan keputusan tersebut berada di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh, yang kemudian dinilai berimbas buruk bagi BTC.
Dengan kombinasi faktor tersebut, pergerakan Bitcoin menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi sentimen. Selama tekanan dari kebijakan moneter dan dinamika arus dana ETF masih dominan, peluang konsolidasi di zona merah diperkirakan tetap berlanjut.
Hingga saat pembaruan pukul 08.32 WIB, harga yang bergerak di kisaran 59 ribu dollar AS tetap menjadi penanda bahwa pasar belum menemukan pemicu kuat untuk berbalik arah. Investor yang memantau pergerakan hari ini cenderung menunggu sinyal lanjutan, apakah tekanan jual mulai mereda atau justru menguat kembali.
Pelaku pasar juga menilai bahwa pemulihan yang sempat muncul dalam jangka pendek tidak cukup menjadi pijakan untuk mengubah sentimen harian. Ketika pergerakan tetap berada di bawah area yang sebelumnya dipantau, peluang untuk keluar dari zona merah cenderung masih tertahan, sehingga kondisi cenderung menunggu konfirmasi lanjutan.
Di tengah koreksi mingguan, fokus perhatian berikutnya berada pada apakah tekanan jual terus mendominasi atau mulai bergeser. Mengingat BTC disebut sempat menembus support teknis jangka panjang yang kritis, keputusan arah pasar dinilai sangat bergantung pada respons harga setelah area tersebut diuji kembali, termasuk dalam sesi pagi.
Selain faktor teknis, arus dana dari ETF spot AS dan nada kebijakan moneter yang hawkish turut menjadi penahan pemulihan. Selama kombinasi kebijakan ketat dan berlanjutnya arus keluar masih kuat, pergerakan berpotensi lebih mengarah pada konsolidasi dalam rentang merah, sambil menunggu tanda bahwa dorongan beli mulai kembali nyata.












