Bisnis & Ekonomi

IHSG melemah 2,48%: asing tarik dana, net sell Rp 85,96 triliun

×

IHSG melemah 2,48%: asing tarik dana, net sell Rp 85,96 triliun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Terkapar 2,48 Persen, Asing Cabut dari Bursa Rp 85,96 Triliun

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh pada awal perdagangan Selasa (30/6/2026), menunjukkan tekanan jual yang masih mendominasi bursa. Pada pukul 10.17 WIB, IHSG berada di level 5.676,640 atau turun 144,149 poin (2,48 persen) dibanding penutupan hari sebelumnya.

Perdagangan dibuka di area 5.801,454 dan sempat bergerak naik hingga menyentuh puncak 5.811,669. Namun, setelah itu indeks terus melemah hingga menyentuh level terendah 5.638,574 sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian.

Dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten terkoreksi. Sebanyak 582 saham berada di zona merah, sementara 80 saham menguat dan 125 saham bergerak stagnan.

Aktivitas transaksi juga memperlihatkan intensitas perdagangan yang cukup tinggi. Hingga pukul yang sama, volume tercatat 8,857 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,614 triliun dari 614.877 kali transaksi.

Aksi jual asing menjadi pemicu utama

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan IHSG tidak lepas dari aksi jual bersih atau net sell investor asing. Secara akumulasi, net sell asing sepanjang tahun ini mencapai Rp 85,96 triliun.

Di saat yang sama, IHSG masih terkoreksi 32,68 persen secara year to date (YTD). Pada perdagangan awal pekan saja, net sell asing tercatat mencapai Rp 854,10 miliar.

Dalam penjelasannya, Nafan menyebut saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan menjadi sasaran utama. Ia mengatakan, โ€œInvestor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 854 miliar pada kemarin, dengan saham Big Banks seperti BBCA dan BMRI menjadi target jualan utama,โ€ ujar Nafan kepada Kompas.com.

Rupiah ditopang intervensi, tetapi tetap melemah

Meskipun tekanan dari arus modal asing menjadi penekan utama, ada faktor domestik yang berpotensi menahan laju koreksi. Salah satunya adalah nilai tukar rupiah yang mendapat dukungan melalui intervensi moneter Bank Indonesia (BI) lewat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Namun, di pasar spot, rupiah masih melemah dan nyaris menyentuh level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, per pukul 10.20 WIB kurs rupiah terdepresiasi 56 poin atau 0,31 persen ke posisi Rp 17.907 per dollar AS.

Nafan berharap kondisi tersebut bisa menjadi penahan agar koreksi IHSG tidak berkembang terlalu dalam. Dengan adanya dukungan bagi kurs, sentimen pasar terkait pergerakan saham turut diharapkan tidak jatuh lebih jauh.

Sentimen global masih diawasi, termasuk keputusan MSCI

Dari sisi sentimen global, terdapat catatan yang memberi jeda pada kekhawatiran pelaku pasar. Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market dinilai dapat meredam risiko penurunan status menjadi frontier market untuk sementara waktu.

Hal tersebut, menurut Nafan, seharusnya menjadi katalis positif bagi IHSG. Dengan kata lain, keputusan MSCI menjadi faktor yang menepis kekhawatiran downgrade dalam waktu dekat.

Meski demikian, perhatian pasar juga masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Perubahan situasi di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi risiko investor global yang kemudian turut berdampak pada pasar modal.

Menanti data makro awal Juli

Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu serangkaian rilis data makroekonomi pada awal Juli. Rangkaian indikator tersebut meliputi Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia, inflasi, hingga neraca perdagangan.

Jika realisasi data mengarah lebih baik dibanding ekspektasi pasar, sentimen terhadap IHSG diperkirakan dapat membaik. Dengan demikian, arah pergerakan indeks dalam periode berikutnya akan sangat ditentukan oleh respon investor terhadap hasil-hasil data tersebut.

Secara keseluruhan, IHSG pada sesi awal perdagangan memperlihatkan kombinasi tekanan dari arus dana asing dan ketidakpastian sentimen global. Di sisi lain, dukungan pada nilai tukar rupiah serta jeda kekhawatiran terkait keputusan MSCI memberi ruang bagi pasar untuk mempertimbangkan potensi pemulihan terbatas, sambil menunggu data makroekonomi yang akan dirilis.