Internasional

AS Lakukan Serangan Balasan ke Iran usai Serangan Drone ke Kapal Dagang Kedua di Selat Hormuz

×

AS Lakukan Serangan Balasan ke Iran usai Serangan Drone ke Kapal Dagang Kedua di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US conducts retaliatory strikes on Iran after second shipping attack

jurnalistik.co.id – Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap Iran setelah serangan drone yang terjadi pada kapal dagang kedua di Selat Hormuz. Langkah itu diumumkan oleh Komando Pusat AS (Centcom) sebagai respons langsung atas “continued Iranian aggression against commercial shipping”.

Centcom menyebut serangan baru dilakukan pada hari Sabtu, menyusul serangan drone terhadap sebuah kapal tanker yang berbendera Panama di kawasan Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menyebut beberapa target di Iran menjadi sasaran.

Menurut Centcom, serangan menargetkan perangkat militer, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, serta fasilitas penyimpanan drone. Centcom juga menegaskan tindakan itu dilakukan sebagai “direct response” terhadap agresi berkelanjutan terhadap pelayaran komersial.

Dalam rilisnya, Centcom mengatakan Iran “was given a chance to honor the ceasefire agreement but elected not to” setelah melancarkan serangan drone “one-way” yang mengenai MT Kiku. Nama kapal yang disebut adalah MT Kiku, dengan keterangan kapal berbendera Panama.

Centcom menambahkan bahwa kapal-kapal niaga tetap beroperasi di Selat Hormuz. Pada saat yang sama, Iran belum memberikan komentar mengenai serangan terbaru tersebut.

Serangan balasan yang diumumkan AS ini muncul kurang dari satu hari setelah serangan balasan sebelumnya. Centcom menyatakan langkah tersebut juga terkait serangan drone terhadap MV Ever Lovely pada 25 Juni, ketika kapal berbendera Singapura menjadi target.

Centcom menggambarkan serangan AS terhadap Iran pada periode tersebut sebagai “a powerful response” terhadap serangan ke kapal kargo. Pernyataan itu juga menyebut tindakan AS merupakan respons terhadap “unwarranted aggression against commercial shipping by Iranian forces” yang “clearly violated the ceasefire”.

Pihak Teheran, melalui penilaiannya, menyatakan kapal yang diserang menggunakan rute yang tidak mendapat otorisasi untuk transit melalui jalur perairan Teluk. Dari sudut pandang Iran, serangan balasan yang dilakukan AS termasuk pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.

Menjelang Sabtu pagi, Kementerian Luar Negeri Iran merilis pernyataan bahwa pihaknya melakukan serangan tambahan terhadap target yang dinilai terkait dengan kekuatan Amerika. Dalam pernyataan itu, Iran menyalahkan “treaty-breaking US regime” atas situasi yang terjadi.

AS dan Iran sebelumnya sepakat pada 17 Juni untuk mengakhiri permusuhan melalui memorandum pemahaman berbasis 14 poin. Kesepakatan itu juga menyebut Iran diminta menggunakan “best efforts for the safe passage of commercial vessels with no charge for 60 days”.

Selat Hormuz merupakan jalur air penting bagi pengiriman minyak dan gas. Dalam periode yang disebut berhubungan dengan eskalasi akhir Februari, Teheran secara efektif menutup jalur tersebut setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Penutupan jalur kritis itu disebut berdampak pada lonjakan harga minyak global serta menghambat pengiriman komoditas penting lain, termasuk pupuk. Dengan demikian, dinamika di Selat Hormuz tidak hanya terkait keselamatan kapal, tetapi juga menyangkut arus perdagangan energi dan kebutuhan industri.

Di hari-hari belakangan, sejumlah pejabat AS termasuk Trump menyatakan perundingan berjalan baik. Mereka menegaskan Iran telah meninggalkan isyarat tentang penerapan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Pada unggahan di Truth Social pada Rabu, Trump menyatakan Iran memberitahu AS bahwa “no tolls, no insurance costs and no other charges of any kind being sought or received”. Trump juga menambahkan, “If this is false information, negotiations would end, immediately,”

AS juga mengutuk laporan yang menyebut Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melewati selat tersebut. Banyak pihak menilai skema pungutan apa pun akan bertentangan dengan hukum maritim internasional.

Selasa lalu, pejabat Iran dan Oman menggelar pembicaraan di ibu kota kesultanan itu, Muscat, untuk membahas “the future management of navigation”. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, menyatakan kedua negara berkomitmen pada “toll-free safe passage”.

Namun, juru runding utama Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menyampaikan kepada media yang terafiliasi negara bahwa “everyone should know that the administration of the Strait of Hormuz will never go back to the way it was before the war.” Pernyataan tersebut menempatkan perbedaan sikap mengenai pengaturan masa depan di Selat Hormuz.

Dalam konteks serangan-serangan yang saling dibalas itu, AS menempatkan tindakan terhadap Iran sebagai respons terhadap serangan terhadap pelayaran komersial, sementara Iran menilai serangan balasan AS sebagai pelanggaran gencatan senjata. Dengan serangan terbaru yang diumumkan Centcom, ketegangan kembali menyoroti rapuhnya kesepakatan 14 poin yang disepakati sebelumnya.