Internasional

Uganda Resmikan Patung Yonatan Netanyahu, Saudara PM Israel yang Gugur di Misi Entebbe

×

Uganda Resmikan Patung Yonatan Netanyahu, Saudara PM Israel yang Gugur di Misi Entebbe

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Uganda unveils statue of Israel PM's brother who died in Entebbe rescue mission

jurnalistik.co.id – Uganda meresmikan sebuah patung yang mengenang Yonatan Netanyahu, kakak dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang tewas dalam misi penyelamatan sandera di Entebbe pada 50 tahun lalu. Patung itu berdiri di luar terminal bandara lama, lokasi peristiwa yang menjadi salah satu episode paling dikenal dalam sejarah penyanderaan.

Panglima Angkatan Bersenjata Uganda, Jenderal Muhoozi Kainerugaba, mengatakan monumen tersebut menegaskan keberanian dan pengabdian tanpa pamrih Yonatan. Dalam sambutannya, ia menyebut operasi tersebut sebagai “one of the most significant episodes in modern history” sekaligus menggambarkan perjalanan hubungan Uganda-Israel kini sebagai “remarkable journey”.

Menurut keterangan yang disampaikan, Yonatan Netanyahu merupakan satu-satunya prajurit Israel yang gugur dalam penggerebekan di Entebbe. Operasi itu berujung pada penyelamatan lebih dari 100 sandera, setelah sebuah pesawat Air France yang lepas dari Tel Aviv dibajak oleh dua orang warga Palestina dan dua orang Jerman, lalu dialihkan ke bandara internasional Uganda.

Dalam perjalanan peristiwa, ada pula korban dari kalangan sandera. Selama operasi, tiga sandera—Jean-Jacques Mimouni, Pasco Cohen, dan Ida Borochovitch—dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, Dora Bloch kemudian dibunuh di rumah sakit di ibu kota, Kampala, saat ia tengah menerima perawatan.

Jenderal Kainerugaba juga menyoroti jumlah korban di sisi militer Uganda. Ia menyebut bahwa dalam pertempuran melawan pasukan Israel, setidaknya 45 prajurit Uganda turut tewas. Ia turut mengakui kematian para prajurit tersebut, namun menempatkannya dalam konteks keyakinan pada “misi yang mereka anggap dibenarkan”.

“Mereka telah bertempur dengan gagah… dalam apa yang mereka yakini sebagai sebuah tujuan yang adil. Tentu saja, hari ini kita tahu bahwa pemerintah Idi Amin, yang mereka layani, adalah kediktatoran brutal yang tidak mewakili rakyat Uganda,” ujar Kainerugaba.

Dalam peristiwa pembajakan, pesawat yang membawa rombongan menuju Paris sempat melakukan singgah di Athena. Di titik itulah para pembajak—yang dikaitkan dengan Popular Front for the Liberation of Palestine—naik ke pesawat dan mengambil alih kendali, sebelum memaksa pesawat itu berbelok ke Libya untuk pengisian bahan bakar. Setelah itu, Airbus A300 terbang menuju Uganda, dan saat mendarat, pesawat tersebut disambut oleh Idi Amin.

Para pembajak menyampaikan tuntutan, termasuk permintaan dana sebesar $5 juta serta pembebasan 53 militan yang dipenjara di Israel, Prancis, Jerman, Swiss, dan Kenya. Sebagian sandera dilepaskan pada 30 Juni dan 1 Juli, tetapi sejumlah sandera lain—termasuk warga Israel dan Yahudi—masih tetap berada dalam penguasaan pembajak.

Pada 3 Juli, setelah perjalanan dari Israel lewat Kenya, pasukan komando elit mendarat di Entebbe dan memulai operasi yang berlangsung kurang dari 90 menit. Penggerebekan yang singkat namun intens itu akhirnya disertai konfirmasi bahwa para pembajak dan tiga orang yang bergabung membantu mereka di Uganda juga tewas.

Sementara itu, keberadaan patung digambarkan langsung merefleksikan sosok Yonatan Netanyahu. Monumen tersebut memperlihatkan Netanyahu berjalan maju sambil menggenggam senapan mesin. Patung itu ditempatkan di luar terminal bandara lama tempat penyelamatan berlangsung, menjadikannya semacam penanda ruang historis peristiwa tersebut.

Dalam pernyataannya, Kainerugaba menyampaikan pesan penghormatan untuk seluruh korban. “May their memories continue to inspire future generations in the pursuit of peace, justice and human dignity,” katanya, sejalan dengan upaya menjaga ingatan agar menjadi pelajaran di masa mendatang.

Hubungan diplomatik yang kini berjalan, menurut Kainerugaba, tidak lepas dari pembacaan ulang peristiwa masa lalu. Ia menyebut apa yang terjadi setengah abad lalu sebagai “a painful chapter in our history”, tetapi menegaskan bahwa relasi Uganda dan Israel telah berkembang menjadi “partnership characterised by mutual trust, respect and co-operation”.

Di sisi lain, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pernah mengunjungi Entebbe satu dekade lalu. Dalam kunjungannya, ia mengatakan: “I learned from my brother that you need two things to defeat the terrorists: clarity and courage.” Ucapan tersebut kembali menegaskan bahwa sosok Yonatan Netanyahu ditempatkan bukan hanya sebagai figur militer, tetapi juga sebagai referensi moral dalam cara memahami operasi tersebut.

Peresmian patung ini, dengan demikian, menjadi penanda dua lapis sejarah: satu sisi tentang operasi penyelamatan yang menelan korban dari banyak pihak, dan sisi lain tentang bagaimana Uganda menafsirkan kembali peristiwa itu sambil menggarisbawahi hubungan yang terbentuk setelahnya.