jurnalistik.co.id – Ed Sheeran tengah menghadapi kontroversi terbesar sepanjang kariernya. Peristiwa ini berawal dari keputusan untuk menjatuhkan salah satu pengisi acara pendukungnya pada rangkaian tur stadion di Amerika Serikat.
Masalah mulai menguat setelah rapper Macklemore dicopot dari tur tersebut menyusul komentar pro-Palestina yang ia sampaikan di panggung. Keputusan itu kemudian memicu gelombang reaksi dari musisi lain, pemilik venue, hingga sorotan publik yang lebih luas.
Di sisi lain, nama Sheeran selama ini melekat pada citra “Mr Nice Guy” yang ramah dan tidak mengancam. Ia dikenal sebagai figur yang berpakaian dan bersikap seperti penggemar biasa, bukan sebagai selebritas yang jauh dari kerumunan.
Sheeran juga lama membangun persona yang menenangkan. Ia pernah mendonasikan seluruh pakaiannya kepada toko donasi pada 2014, mengadopsi seekor anak kucing bernama Graham, serta menjalankan program amal pemberian pelajaran musik untuk anak di bawah 18 tahun di kampung halamannya, Suffolk.
Dalam banyak kesempatan, Sheeran berusaha menghindari ranah politik. Ia menyatakan ia hanya sesekali terlibat untuk isu tertentu seperti perlindungan hak cipta dan persoalan ticket touting, maupun kekhawatiran dampak Brexit terhadap aktivitas tur.
Namun latar belakang itu kini tampak berantakan di mata publik. Ia pernah menyampaikan dukungan kepada pemimpin Partai Buruh saat itu, Jeremy Corbyn, pada 2017, seraya tidak memosisikan diri secara langsung dalam kampanye.
Sheeran mengutip pandangannya dalam sebuah wawancara, “People thought that, because I didn’t put myself behind him, I wasn’t a Corbyn supporter,” lalu menambahkan, “If you knew me as a person, and listened to my music, you would be able to make a pretty educated guess that he would be the kind of person I really dig.”
Ketika membahas isu non-musikal, Sheeran juga menjelaskan ia lebih memilih sikap hati-hati. Ia mengatakan musik seharusnya menjadi penghubung, dan konsernya ia pandang sebagai “place of safety and sanctuary” yang dibangun di atas kemanusiaan yang sama.
Kontroversi minggu ini meruntuhkan argumen itu dalam pengamatan banyak orang. Pasalnya, tur Sheeran ikut terseret ke isu yang sangat terbelah.
Inti ceritanya adalah Macklemore semula dipilih menjadi opening act di tur AS Sheeran. Pada malam pertama, ia menyampaikan pidato “Free Palestine” dan menampilkan gambar kehancuran di Gaza.
Keesokan malamnya, Macklemore kembali mengangkat isu tersebut dengan menyebut jumlah kematian sebagai genocide. Pernyataan itu disebut sebagai klaim yang ditolak oleh Israel.
Publik kemudian menyaksikan gelombang kecaman. Organisasi StopAntisemitism menuduh Macklemore melakukan “ambushing” terhadap audiens.
Di saat yang sama, para pemilik stadion memberi tekanan agar Sheeran dan promotor menjatuhkan Macklemore dari tur. Disebutkan bahwa peran penting datang dari Robert Kraft, miliarder pemilik New England Patriots.
Setelah satu pekan diskusi di balik layar, akhirnya keputusan tersebut dijalankan. Pada hari Selasa, Sheeran mengeluarkan pernyataan bahwa keputusan itu dibuat oleh para promotor, bukan olehnya.
Sheeran mengatakan ia telah berupaya membangun jembatan di antara pihak-pihak yang bertikai, tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Ia juga menyatakan dirinya “not complicit,” dengan berargumen bahwa pilihannya untuk tidak ikut memperdebatkan masalah Timur Tengah di ruang publik bukan bukti bahwa ia “didn’t care”.
Pernyataannya mencakup kalimat: “I am appalled by the conflict between Israel and Palestine,” seraya menambahkan, “The suffering and pain caused on both sides is a human tragedy. There are too many wars across the world causing immeasurable pain, none of which should be tolerated.”
Sheeran melanjutkan, “There is a reason I do not use my professional platform for politics – my audience includes young people, often children, of all backgrounds.” Ia menempatkan alasan itu sebagai dasar pertimbangannya.
Namun, bagi para pengkritik, nada tersebut tidak cukup meyakinkan. Mereka mempertanyakan bagaimana Sheeran bisa berbicara tentang perhatian pada anak-anak, tetapi tidak menyebut ribuan anak yang terbunuh di Gaza.
Berita Terkait
Sejumlah pihak lain juga menilai abstinensinya terhadap politik tidak sepenuhnya konsisten. Sheeran diketahui pernah mengenakan kaus bertuliskan “justice for Grenfell” di Stadion Wembley pada 2018 setelah tragedi kebakaran Grenfell Tower.
Ia juga tampil dalam acara Concert For Ukraine pada 2022. Selain itu, ia merekam lagu protes mengenai perang Ukraina bersama U2 pada awal tahun ini.
Di tengah itu, hubungan Sheeran dengan Robert Kraft turut menjadi pertanyaan. Disebutkan bahwa Sheeran bernyanyi pada pernikahan bisnis pria tersebut pada 2022, dan di sebuah wawancara berikutnya memanggilnya “super sweet”.
Musik jurnalis Jeffrey Ingold menilai respons Sheeran dapat dibaca sebagai bentuk ketidakberanian. Ia berkata kepada BBC Radio 5 Live bahwa Sheeran memiliki pengaruh dan leverage, tetapi seperti “washed his hands” dengan menyatakan “this is not my responsibility.”
Ingold juga mengemukakan Sheeran sebenarnya punya opsi: ia bisa memberi penegasan kepada promotor dan pemilik venue, termasuk Robert Kraft, “You know what, we’re not going to do the shows there. If you’re not going to let us all perform, we’re not going to do it”.
Hanya beberapa jam setelah pernyataan Sheeran muncul, tur justru masuk ke krisis. Semua tiga pengisi acara pendukung untuk sisa pertunjukan—Finneas, Aaron Rowe, dan Lukas Graham—mundur dan menyatakan dukungan pada Macklemore.
Beoga, yang mendukung Sheeran untuk memainkan lagu-lagu seperti Galway Girl dan Nancy Mulligan, juga ikut mengundurkan diri. Banyak dari mereka menilai pemecatan Macklemore di tangan sekelompok pemilik venue miliarder menciptakan efek menakut-nakuti terhadap kebebasan berbicara.
Respons lintas dunia musik dan publik juga ikut bermunculan. Pink, bintang pop yang diketahui beragama Yahudi, mengunggah ulang meme anti-Macklemore lalu menambahkan pesan sendiri yang menjelaskan alasan kritiknya atas komentar rapper tersebut.
Dengan cepat, Sheeran mendadak menjadi pusat badai politik untuk salah satu isu paling memecah belah di dunia. Meski ia berusaha menjaga jarak, kejadian ini justru menempatkannya dalam pusaran yang sulit dihindari.
Soal cara menghadapi situasi
Secara spesifik, artikel ini menilai Sheeran sebenarnya bisa menangani momen itu dengan cara yang berbeda. Dalam pernyataannya, Sheeran menyebut ia ingin tur tetap berjalan agar tidak mengecewakan para penggemar dan kru yang menggantungkan penghasilan dari konser-konsernya.
Jika ia mengancam membatalkan pertunjukan, itu bisa ditafsirkan sebagai protes terhadap kebebasan berbicara. Akan tetapi, interpretasi seperti itu pun tetap berisiko dibaca sebagai dukungan terhadap pernyataan Macklemore.
Dengan kata lain, Sheeran terjebak dalam dilema yang tidak mudah keluar. Citra “nice guy”-nya disebut mengalami kerusakan besar, dan nada “not my responsibility” dinilai tidak membantu meredakan situasi.
Ingold menambahkan bahwa cara pandang publik kemungkinan berubah setelah kejadian ini. Ia menyatakan, “I think it will change the way people look at him and see him from this point forward. He has said he’s not complicit, but he actually is incredibly complicit in what’s happening [on this tour].”
Jem Aswad, executive music editor Variety, melihat insiden ini sebagai bukti bahwa sikap netral tidak selalu mungkin. Ia menyebut, episode ini menunjukkan “you can’t be neutral on this issue,” meski ia juga menekankan bahwa banyak orang tidak datang ke konser Sheeran untuk diingatkan pada Gaza, melainkan untuk berhenti berpikir dan menikmati hiburan.
Aswad meragukan kontroversi ini akan merusak karier Sheeran secara besar. Ia menilai kritik yang muncul tidak semuanya datang dari penggemar Sheeran, melainkan dari orang-orang yang keberatan atas cara Sheeran bertindak dalam situasi tersebut, dan ia tidak yakin bahwa mereka benar-benar penggemar.
Publik akan menunggu bagaimana kelanjutan tur saat Sheeran tampil berikutnya di Philadelphia pada hari Sabtu. Ada kemungkinan sebagian orang menyampaikan pendapatnya secara lantang, tetapi tidak sedikit pula yang akan tetap datang semata untuk menikmati musik.
Masalah kehilangan band pendukung juga tidak otomatis berarti bencana. Pada tur-tur sebelumnya, Sheeran pernah menjadi satu-satunya artis di atas panggung dengan menyertai dirinya sendiri lewat loop pedal, tanpa terlalu bergantung pada musisi lain.
Namun ketika rangkaian konser ini berakhir di Meksiko pada Desember, langkah berikutnya perlu perencanaan yang matang. Pada era ketidakpuasan yang cepat meledak, disebutkan bahwa tetap berada di luar pusaran mungkin tidak lagi mudah.












