Entertainment

Peran “Mr Nice Guy” Ed Sheeran jadi bahan yang memperburuk krisis terbesar kariernya

×

Peran “Mr Nice Guy” Ed Sheeran jadi bahan yang memperburuk krisis terbesar kariernya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ed Sheeran's persona as music's Mr Nice Guy worsened the biggest crisis of his career

jurnalistik.co.id – Krisis terbesar karier Ed Sheeran kini tidak lagi soal karya, melainkan gelombang kritik yang muncul dari cara ia menjaga jarak dari politik—dan dari keputusan untuk melepas Macklemore sebagai penyanyi pembuka tur stadion AS-nya.

Kontroversi ini meledak setelah serangkaian pernyataan di panggung yang berkaitan dengan konflik Israel–Palestina, lalu berujung pada langkah promotor untuk mengubah susunan acara. Menurut laporan, badai tersebut membuat citra publik Sheeran sebagai “Mr Nice Guy” terlihat retak.

Di satu sisi, Sheeran selama ini dikenal sebagai sosok yang menenangkan—seperti sosok penonton biasa yang bisa ditemui di perjalanan pulang dari Glastonbury. Ia bahkan pernah membangun persona “everyone welcome”, termasuk mendonasikan seluruh lemari pakaiannya ke toko-toko amal pada 2014.

Pada tahun yang sama, ia juga mengadopsi seekor anak kucing berusia “one-month-old” dan menyelamatkannya dari euthanasia, lalu menamai kucing itu Graham. Kini ia menjalankan yayasan yang memberi pelajaran musik untuk anak dan remaja di bawah 18 tahun di wilayah Suffolk, tempat ia tinggal.

Sheeran sering menyatakan preferensinya untuk tidak terlalu masuk ke isu politik. Alasan yang ia sampaikan, musik seharusnya menyatukan orang, dan konser baginya adalah “place of safety and sanctuary” yang dibangun dari kemanusiaan bersama.

Namun, seperti yang kini terjadi, argumentasi tersebut justru runtuh ketika konflik yang sensitif masuk ke panggung turnya. Pada momen ini, kontroversi bukan sekadar soal satu ujaran, melainkan efek domino yang menyeret reputasi dan arah karier.

Dari “Mr Nice Guy” ke badai politik di tur

Kasusnya bermula ketika Macklemore ditunjuk sebagai pembuka dalam tur stadion AS Sheeran. Pada malam pertama, Macklemore membuat pidato dengan kalimat “Free Palestine” dan menampilkan gambar kehancuran di Gaza.

Keesokan harinya, ia kembali merujuk pada korban jiwa dengan menyebutnya sebagai “a claim that Israel rejects” ketika membahas jumlah kematian sebagai “genocide”. Pernyataan itu memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk organisasi StopAntisemitism yang menuduh Macklemore “ambushing” audiens.

Di tengah tekanan tersebut, dikatakan bahwa pemilik stadion turut berperan. Laporan menyebut figur kunci adalah Robert Kraft—seorang miliarder yang terkait New England Patriots—yang diduga memimpin dorongan agar Sheeran dan promotor menjatuhkan Macklemore dari tur.

Setelah perundingan selama satu minggu, keputusan akhirnya dijalankan. Pada hari Selasa, Sheeran mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa pilihan tersebut dibuat oleh promotor, bukan olehnya.

Dalam pernyataan itu, ia menyebut dirinya berusaha “build bridges between the parties, to no avail”. Ia juga menegaskan “not complicit”, sembari menganggap sikapnya yang memilih diam dalam debat publik Timur Tengah bukan bukti bahwa ia “didn’t care”.

Ia menulis: “I am appalled by the conflict between Israel and Palestine,” dan melanjutkan, “The suffering and pain caused on both sides is a human tragedy. There are too many wars across the world causing immeasurable pain, none of which should be tolerated.”

Sheeran juga menegaskan, “There is a reason I do not use my professional platform for politics – my audience includes young people, often children, of all backgrounds.” Kalimat itu menjadi salah satu titik yang kemudian diperdebatkan balik oleh para pengkritiknya.

“Jika ia peduli anak, mengapa tidak menyebut Gaza?”

Begitu pernyataan Sheeran beredar, kritik datang dari berbagai arah. Sejumlah komentator menanyakan mengapa ia tidak menyebut “the thousands of children killed in Gaza” ketika menyatakan bahwa audiensnya mencakup anak-anak.

Di sisi lain, ada pula catatan bahwa sikapnya untuk tidak berpolitik tidak sepenuhnya konsisten. Sheeran pernah mengenakan kaus “justice for Grenfell” di Wembley Stadium pada 2018, tampil dalam “Concert For Ukraine” pada 2022, dan merekam lagu protes tentang perang Ukraina bersama U2 “earlier this year”.

Pertanyaan juga diarahkan pada hubungan Sheeran dengan Robert Kraft. Ia dikabarkan bernyanyi pada pernikahan pengusaha itu pada 2022, lalu dalam wawancara setelahnya menyebut Kraft “super sweet”.

Jurnalis musik Jeffrey Ingold menilai penerimaan Sheeran terhadap keputusan promotor tampak seperti “cowardice”. Ingold mengatakan, “He is one of the biggest musicians in the world,” serta menambahkan bahwa Sheeran punya kuasa dan pengaruh, sehingga seolah-olah “washed his hands” dan menyatakan bahwa itu bukan tanggung jawabnya.

Menurut Ingold, Sheeran sebenarnya punya pilihan: “He could have said to the promoters and the owners of the venues, including Robert Kraft, ‘You know what, we’re not going to do the shows there. If you’re not going to let us all perform, we’re not going to do it’. He could have found alternate venues.”

Tur berubah jadi krisis setelah pernyataan Sheeran

Hanya beberapa jam setelah pernyataan Sheeran diterbitkan, turnya masuk fase krisis. Diberitakan bahwa seluruh tiga artis pembuka untuk sisa pertunjukan—Finneas, Aaron Rowe, dan Lukas Graham—memutuskan mundur.

Mereka menyatakan dukungan kepada Macklemore. Selain itu, Beoga—yang selama ini mengangkat lagu-lagu Sheeran seperti Galway Girl dan Nancy Mulligan—juga mengakhiri kerja sama untuk tur tersebut.

Banyak dari mereka menyebut pemecatan Macklemore oleh sekelompok pemilik venue yang merupakan miliarder sebagai bentuk “a chilling effect on free speech”. Dampaknya tidak hanya berhenti di lingkaran musik, tetapi merambat ke ruang publik yang lebih luas.

Penyanyi pop Pink, yang menurut laporan beragama Yahudi, mengunggah ulang meme anti-Macklemore lalu menambahkan pesannya sendiri tentang alasan ia mengkritik rapper tersebut. Dalam sekejap, Sheeran—tanpa menginginkannya—berada di pusat badai politik atas salah satu isu paling memecah belah di dunia.

Cacat citra “nice guy” dan pertanyaan tentang netralitas

Bagian yang disorot berikutnya adalah apakah Sheeran bisa menangani situasi ini dengan lebih baik. Dalam pernyataannya, ia menyatakan ingin tur tetap berjalan agar tidak mengecewakan penggemar dan kru yang menggantungkan hidup dari konser.

Namun, laporan menyebut bahwa jika ia mengancam menarik acara, langkah itu mungkin bisa dibingkai sebagai protes terhadap kebebasan berekspresi. Meski begitu, keputusan seperti itu tetap berpotensi terbaca sebagai dukungan atas pernyataan Macklemore.

Dengan kata lain, Sheeran masuk ke situasi yang serba salah. Persona “Mr Nice Guy” mengalami kerusakan besar, dan nada “not my responsibility” dalam pernyataannya disebut tidak membantu meredakan persepsi publik.

Menurut Ingold, episode ini kemungkinan akan mengubah cara orang melihat Sheeran ke depannya. Ia menilai, “He has said he’s not complicit, but he actually is incredibly complicit in what’s happening [on this tour].”

Jem Aswad, executive music editor dari Variety, mengatakan kejadian ini menunjukkan bahwa “you can’t be neutral on this issue.” Ia juga menambahkan bahwa sebagian besar orang tidak datang ke konser Sheeran untuk diingatkan pada isu seperti Gaza, tetapi untuk “stop thinking about it and be entertained”.

Aswad meragukan kontroversi ini akan menyebabkan kerusakan besar pada karier. Ia menyampaikan bahwa kritik yang muncul tidak sepenuhnya datang dari penggemar Sheeran, melainkan dari orang-orang yang keberatan dengan cara ia bersikap dalam situasi tersebut.

Ke depan, dinamika ini akan terlihat ketika Sheeran tampil berikutnya di Philadelphia pada hari Sabtu. Mungkin akan ada kelompok yang menyuarakan penolakan, tetapi banyak penonton lain tetap datang demi menikmati musik.

Di sisi lain, kehilangan band pendukung tidak otomatis berarti bencana besar. Pada tur-tur terdahulu, Sheeran sering tampil sebagai satu-satunya musisi di panggung, mengiringi dirinya sendiri dengan loop pedal tanpa bergantung pada pemain lain.

Ketika rangkaian konser ini berakhir di Meksiko pada bulan Desember, langkah selanjutnya perlu direncanakan lebih hati-hati. Dan dalam era ketidakpuasan yang sedang memanas, laporan menyimpulkan bahwa tetap “above the fray” mungkin saja tidak lagi mungkin.