jurnalistik.co.id – Derek McInnes berpeluang hadir di Old Firm pertama Rangers sebagai manajer, setelah jadwal sidang bandingnya ditetapkan pada 31 Agustus. Langkah itu terkait larangan touchline selama empat pertandingan, dengan satu laga di antaranya berstatus skorsing.
McInnes berpotensi menyaksikan pertandingan tersebut dari tribun setelah proses bandingnya mencapai tahap penjadwalan. Pengajuan tersebut dilakukan untuk melawan sanksi touchline yang dijatuhkan pada bulan Juli.
Sanksi itu berawal dari masa jabatan McInnes di Hearts musim lalu. Saat itu, ia mengomentari keputusan yang berujung hadiah penalti terlambat kepada Celtic pada laga melawan Motherwell di Mei, yang ia sebut “disgusting”.
Kejadian penting dalam pertandingan tersebut berlangsung pada menit-menit akhir di Fir Park. Penalti untuk Celtic berawal dari insiden handball, dan Kelechi Iheanacho kemudian mengeksekusinya hingga Celtic menang 3-2 pada 13 Mei.
Menurut rangkaian musimnya, hasil itu membuat Celtic hanya tertinggal satu poin dari Hearts. Hearts kemudian memastikan gelar beberapa hari setelahnya lewat laga penentuan di hari terakhir kompetisi.
Rangers menyatakan bahwa pernyataan McInnes “directed at the decision, rather than representing any broader criticism of officials” ketika mengumumkan niat mereka untuk mengajukan banding atas larangan tersebut. Mereka menilai fokus kritik berada pada keputusan, bukan pada otoritas secara umum.
McInnes sendiri menyampaikan bahwa ia tidak setuju dengan sanksi yang dijatuhkan kepadanya. Ia menegaskan: “I don’t agree with it and the club don’t agree with it. I’m glad that we’re going to appeal against that.”
Dalam penuturannya, ia juga menambahkan bahwa sebagai manajer ia berulang kali berada dalam situasi di mana pertanyaan muncul dari keputusan-keputusan yang dinilai kontroversial. McInnes berkata, “I’ve been a manager for 19 years and you know you’re going to be asked about contentious decisions and all the rest of it.”
Ia menekankan bahwa niatnya tidak bertujuan personal. “I’ve never wanted to make it personal. For me, the decision was wrong. I feel as though I made my points at the hearing.”
McInnes turut mengaitkan persoalan itu dengan cara reaksi manajer disiarkan kepada publik. “Broadcasters pay a lot of money to hear managers’ reactions. We’ve got to be careful that we don’t have managers and players who have to be really sure of themselves and check themselves before answering a question.”
Menurutnya, suasana saat itu tidak diciptakan olehnya. Ia menyatakan: “At no point was I wanting to inflame a situation. The situation was already being discussed before I did my press. It was quite a big moment in the season and there was a lot of emotion, but I felt as though what I said was controlled.”
Sebelum sidang banding itu, Rangers dan McInnes tetap akan menghadapi beberapa pertandingan yang berbeda tingkatannya. Setelah jadwal sidang 31 Agustus, laga lanjutan di Liga Utama Skotlandia berlangsung segera.
Berita Terkait
Pertandingan tandang melawan Falkirk dijadwalkan pada 2 September. Selanjutnya, Rangers akan menjamu Motherwell pada 5 September di kandang.
Adapun kunjungan ke markas Celtic pada 13 September masuk dalam babak perempat final Piala Liga. Laga tersebut menjadi momen yang membuat peluang McInnes hadir di Old Firm pertama sebagai manajer Rangers semakin menjadi perhatian.
Dalam wawancara pascalaga, McInnes pernah mengulas insiden yang memicu kritiknya. Ia berbicara kepada Sky Sports setelah kemenangan Rangers atas Falkirk di Tynecastle pada malam yang sama ketika Celtic juga meraih kemenangan di Fir Park.
Ia menggambarkan suasana saat mendengar adanya penalti di penghujung pertandingan. “When you heard Celtic got a 96th-minute penalty that was going to VAR and they were checking it, you just assume what’s happened is they get the penalty.”
Namun setelah melihat ulang, ia menilai keputusan itu tidak tepat. McInnes menyebut, “Having seen it again, it’s disgusting. It is. I don’t think it’s a penalty kick.”
Ia kemudian menegaskan bahwa timnya harus berhadapan dengan keadaan yang dirasa tidak berpihak. “But we’re up against it. We’re up against everybody.”
Di sisi lain, Scottish FA melalui kepala of referees Willie Collum kemudian memberikan dukungan atas keputusan tersebut. Collum merujuk pada “clear evidence” terkait posisi tangan dan lengan Sam Nicholson yang disebut “in an unnatural position,” serta kontak yang terjadi dinilai sebagai “a punishable handball”.
Rangkaian kasus ini juga memuat konsekuensi di luar lapangan. Nama dan rincian kontak Beaton disebut telah diposting secara online, sementara kepolisian menempatkan rumahnya dalam pengawasan.
Dalam perkembangan berikutnya, seorang remaja kemudian didakwa “in connection with a data protection offence”. Proses hukum itu menjadi bagian dari tindak lanjut atas situasi yang berkembang di tengah publik.
Rangers turut merilis pernyataan yang menekankan prinsip keterbukaan dalam sepak bola. Dalam rilis itu, klub menyatakan: “Respect for officials and legitimate scrutiny are not competing principles.”
Klub juga menyampaikan bahwa manajer, pemain, dan klub harus memiliki ruang untuk berbicara secara jujur terkait keputusan-keputusan besar. Rangers menegaskan: “Managers, players and clubs must be able to speak honestly about major decisions if Scottish football is serious about raising standards and maintaining trust.”
Penutup pernyataan tersebut menekankan bahwa pengawasan dan akuntabilitas dianggap sebagai elemen untuk meningkatkan standar, bukan ancaman. “Scrutiny, transparency and accountability should be seen as part of improving standards, not as a threat to them.”












