jurnalistik.co.id – Gelombang panas terparah sepanjang masa yang melanda Eropa dilaporkan mulai mereda. Namun, proyeksi terbaru menyebut sekitar 95 juta orang masih harus berhadapan dengan suhu ekstrem minimal 35°C pada Selasa (30/6/2026).
Perkiraan itu disusun kantor berita AFP dengan merangkum hasil perhitungan berbasis prakiraan cuaca dan data kepadatan penduduk. Kendati intensitas gelombang panas sudah melunak, dampak cuacanya masih diperkirakan bertahan di banyak wilayah.
Suhu tinggi yang muncul sejak awal musim panas dinilai menjadi pukulan berat bagi sejumlah negara Eropa yang umumnya tidak terbiasa menghadapi kondisi setara. Ketika suhu mendekati atau menembus ambang ekstrem, aktivitas luar ruang cenderung ikut terganggu.
Dalam laporan AFP, dampak gelombang panas juga mulai terlihat nyata melalui berbagai indikator. Di antaranya, lonjakan angka kematian, penutupan sekolah, serta pembatalan sejumlah aktivitas yang berlangsung di ruang terbuka.
Menurun, tapi masih mencakup puluhan juta penduduk
Walau angka 95 juta termasuk kategori tinggi, jumlah tersebut disebut sudah menurun dibandingkan hari Senin (29/6/2026). Pada awal periode yang sama, lebih dari 130 juta orang sempat diperkirakan terpapar suhu serupa.
Perubahan cakupan ini berkaitan dengan pergeseran pergerakan gelombang panas. AFP menyebut, setelah menekan Eropa Barat pada pekan lalu, gelombang panas kemudian bergerak ke arah timur.
Akibat pergeseran itu, AFP memperkirakan dua dari lima orang di Eropa—dengan pengecualian Turkiye—masih berpotensi mengalami suhu di atas 30°C pada Selasa. Dengan kata lain, efek gelombang panas tidak berhenti, melainkan berpindah wilayah.
Di bagian timur dan selatan benua, konsentrasi populasi terdampak juga disebut lebih dominan. Wilayah-wilayah tersebut diproyeksikan mempertahankan suhu pada level yang mengkhawatirkan selama hari Selasa.
Hungaria jadi salah satu titik paling ekstrem
Di Hongaria, hampir seluruh penduduk diperkirakan akan merasakan suhu hingga 35°C. Proyeksi semacam ini menempatkan Hongaria sebagai salah satu negara dengan risiko paparan panas paling tinggi pada periode tersebut.
Kenaikan suhu yang melampaui ambang batas juga diproyeksikan terjadi di sejumlah negara lain. AFP menyebut proyeksi mencakup Slovakia, Moldova, Ukraina, Romania, Serbia, serta Kroasia.
Sementara itu, di Eropa Selatan, jutaan warga dilaporkan tetap terdampak oleh gelombang panas. Spanyol dan Italia disebut masih menghadapi suhu tinggi dalam periode yang sama.
Dipicu faktor perubahan iklim, menurut ilmuwan
Selain memetakan jumlah terdampak, laporan ini juga menyinggung penjelasan ilmiah terkait kemunculan gelombang panas. Kelompok ilmuwan dari World Weather Attribution menyatakan fenomena tersebut berkaitan dengan kerusakan lingkungan global.
Mereka menilai gelombang panas yang terjadi pada Juni nyaris mustahil muncul tanpa adanya faktor perubahan iklim. Penegasan itu menempatkan peningkatan suhu dalam konteks yang lebih luas, bukan sekadar kejadian cuaca musiman.
Klaim metodologi: proyeksi bisa kurang tepat untuk wilayah urban
AFP menghitung angka terdampak menggunakan metodologi yang dinilai serupa dengan pendekatan yang dipakai lembaga swadaya masyarakat (LSM) asal Austria, Klimadashboard. Meski demikian, data yang dipublikasikan Klimadashboard menyebut proyeksi masih bisa lebih tinggi dibanding kenyataan di lapangan.
Melalui situs web European Heat Tracker milik mereka, Klimadashboard menilai angka proyeksi mungkin belum mampu menghitung jumlah orang yang benar-benar terdampak di daerah perkotaan padat penduduk. Salah satu persoalan yang disoroti adalah keterbatasan metode analisis dalam menangkap anomali suhu di area urban secara menyeluruh.
“Hal ini karena analisis ini tidak sepenuhnya menangkap efek pulau panas perkotaan—ketika kota-kota jauh lebih hangat daripada daerah pedesaan di sekitarnya,” kata perwakilan Klimadashboard, David Jablonski, kepada AFP.
Bagaimana perhitungan jumlah terdampak disusun
Untuk menghasilkan data, AFP menggabungkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan pada pukul 03.00 GMT oleh layanan cuaca nasional Jerman, Deutscher Wetterdienst (DWD). Perhitungan itu dipadukan dengan data kepadatan penduduk dari Joint Research Centre.
Dalam kerangka pemodelan, penduduk di suatu daerah akan dimasukkan dalam hitungan jika prakiraan menyebut suhu di lokasi mereka melampaui 30°C atau 35°C pada waktu kapan pun sepanjang hari Selasa. Dengan pendekatan seperti ini, jumlah terdampak mencerminkan potensi paparan pada jam-jam tertentu, bukan hanya rata-rata suhu harian.
Meski demikian, perbedaan cara menangkap karakter perkotaan tetap menjadi catatan penting. Klimadashboard menekankan bahwa wilayah urban memiliki dinamika suhu sendiri, terutama efek pulau panas, yang tidak selalu terukur secara utuh oleh model.
Bagi masyarakat, implikasinya adalah kebutuhan untuk tetap waspada meski gelombang panas mulai mereda di beberapa area. Proyeksi 95 juta orang yang masih berada di bawah ancaman suhu ekstrem menegaskan bahwa fase terpapar belum benar-benar berakhir.












