Internasional

“No one move!”: Keheningan mencekam saat tim penyelamat Venezuela mencari tanda hidup

×

“No one move!”: Keheningan mencekam saat tim penyelamat Venezuela mencari tanda hidup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'No one move!': The agonising silence as Venezuela rescuers listen for survivors

jurnalistik.co.id – Di La Guaira, suara hilang seketika saat tim penyelamat berdiri di atas tumpukan reruntuhan yang tak stabil, terbuat dari beton, besi, dan debu. Puluhan orang mengais kemungkinan di sela puing, berharap masih ada yang bernapas—atau setidaknya ditemukan dengan cepat.

Di Mariola dan Maribel Residences, kompleks yang sebelumnya ramai menikmati pantai pada masa sebelum gempa Rabu, pencarian berubah menjadi momen tegang. Dua menara di lokasi itu, salah satunya masih berdiri namun miring dan terlihat bisa roboh kapan saja, sementara menara lainnya seperti ditelan tanah.

Pekerjaan awal berjalan dengan gerak serempak: orang-orang menyingkirkan material, sementara penyelamat mencoba menangkap sinyal dari bawah. Namun ketika beberapa orang tiba-tiba bereaksi—ada teriakan, orang-orang berlari, lalu saling memeluk—harapan kembali menyala.

Saat seorang penyelamat merasa mendengar suara dari balik reruntuhan, reaksi langsung menyebar cepat di antara warga. Seorang perempuan menangis “Oh my God, thank you,” sebelum yang lain bertanya dengan nada tak percaya, “Really?”

Ketika keyakinan itu mulai menyebar, perintah untuk menjaga kemungkinan hidup menjadi sama pentingnya dengan alat penyelamat. Di jalan utama kompleks, beberapa penyelamat memberi isyarat agar mesin dimatikan, crane berhenti, dan bor dihentikan.

Tak lama kemudian, kebisingan mereda hingga benar-benar menghilang. Tim lalu naik ke area puing, berlutut, dan menundukkan kepala—seolah seluruh lingkungan diminta berpaling pada satu tujuan: mendengarkan.

“Please, let us listen. Don’t make noise! It seems like there’s someone here,” seru seseorang dari tempat yang lebih tinggi. Pesan itu bergulir berantai: “Shhh… silence, please.”

Di sela upaya itu, orang-orang menahan napas. “Menenangkan suara” terasa seperti satu-satunya cara yang mereka miliki untuk ikut membantu korban yang mungkin masih terjebak.

Harapan tetap ada bahwa seorang penyintas bisa diselamatkan. Tetapi proyeksi waktu bekerja melawan, apalagi pada hari sebelumnya masih ada catatan bahwa pada Sabtu lalu 33 orang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup.

Seiring jam berjalan, udara mencari informasi justru dipenuhi permohonan putus asa. Seseorang berteriak, “Say something so we can hear you, please,” meminta jawaban dari orang yang tertutup ribuan ton beton.

“We are a rescue team!” adalah kalimat yang memecah keheningan yang bagi sebagian orang sudah terasa seperti hampir sakral. Selama sekitar 10 menit, waktu seolah berhenti, dan tak ada bunyi lain yang muncul dari reruntuhan.

Ketika para profesional menyatakan “false alarm,” perubahan suasana terjadi secara drastis. Wajah-wajah tampak runtuh dari harapan menjadi kecewa, sementara tetangga segera menghubungi tim profesional terdekat.

Mereka tiba dalam hitungan menit, tetapi pergi dengan cepat pula. Di tempat yang sama, warga kembali hanya menjadi saksi atas jeda yang singkat—namun menyakitkan—antara kemungkinan dan kepastian.

Di tengah kelelahan, Ronnie Navarro tetap memilih untuk tidak berhenti. Ia tiba pada Sabtu dari Puerto La Cruz, sekitar 350 km dari La Guaira, dengan tujuan membantu menarik pamannya dari reruntuhan.

Ronnie terlihat sangat kehabisan tenaga saat memandang rekan-rekannya yang terus menyingkirkan material. Ia mengatakan, “There are bodies there, trapped. The relatives of those who lived there are helping because the government doesn’t want to help.”

Ia melanjutkan kritik yang terdengar seperti penuturan yang berulang: “The authorities say nothing. They pass by, take a quick look, and leave. Since they don’t have relatives there…” Ia menegaskan hingga saat itu belum ada kabar bahwa pamannya sudah berhasil dikeluarkan, dan suaranya sempat bergetar saat berkata, “They haven’t pulled him out.”

Beberapa menit sebelumnya, harapan yang muncul tiba-tiba kini berubah menjadi frustrasi. Di La Guaira, frustrasi itu tumbuh menjadi amarah, terutama karena warga merasa waktu penyelamatan berjalan tanpa percepatan yang layak.

Di antara mereka ada Zuly MarĂ­n, perempuan berusia 66 tahun yang sudah tinggal lebih dari satu dekade di Mariola dan Maribel Residences. Ia selamat karena sebelum gempa terjadi, ia sempat keluar belanja lalu memutuskan mengunjungi ayahnya ketimbang kembali ke rumah.

Namun keselamatan itu tidak menghapus kehilangan. Zuly mengatakan, “I lost my niece and my brother-in-law,” lalu menyebut proses penyelamatan mengalami keterlambatan.

“There has been a delay in the rescue process. I think that if [the authorities] had arrived sooner, many people would have been saved,” ungkapnya. Menurutnya, keputusan soal waktu dan respons menjadi faktor yang menentukan siapa yang masih sempat diselamatkan.

Di lokasi lain, Belkys Valecillo berdiri menyaksikan alat berat beroperasi di jalan utama dan di bangunan sekitar. Ia menyebut keluarga yang tertimpa berada di satu menara: “My brother, my nephew, and my sister-in-law are on the first floor of that tower, buried.”

Belkys mengatakan ia diberi tahu bahwa alat berat seharusnya digunakan hanya setelah operasi pencarian dan penyelamatan dihentikan. “It’s only been four days,” katanya, menekankan bahwa waktu masih terlalu singkat untuk menyerah.

Di kompleks Caribe yang bersebelahan, bangunan saudara Belkys dinyatakan hancur total. Meski demikian, tiga keluarga tetap menggali untuk mencoba menemukan orang-orang yang mereka cintai.

“They’ve already pulled out several bodies, and there are more,” kata Belkys, menggambarkan bahwa pencarian masih menyimpan temuan—sekaligus beban duka. Di malam hari, mesin bekerja bergantian dengan tenaga manusia yang tak kalah ulet, memindahkan debu dan pecahan.

Saat gelap turun, energi seolah kembali untuk sementara. Di atas hamparan puing yang dahulu menjadi Caribe residential complex, orang-orang bergerak lebih cepat, sementara yang lain berlari meminta agar semua orang menjaga keheningan.

Sejumlah perawat mendekat, dan suasana di sekitar mereka memperjelas bahwa semua orang ingin membantu dengan cara mereka masing-masing. Seorang pemuda mengatakan ia mendengar ada seseorang di dalam reruntuhan.

Untuk memperkuat upaya, teriakan muncul dari kerumunan: “Water, water! Bring water for the rescuers!” Sejumlah pria lalu bekerja cepat, namun harapan kembali diuji ketika “false alarm” lain dinyatakan.

Setengah jam kemudian, di kedalaman reruntuhan, sesuatu yang terlihat mengubah semuanya. Ada dua tubuh yang ditemukan dalam keadaan tak bergerak, menjadi penanda keras bahwa waktu dan jarak antara suara dan kenyataan bisa sangat menentukan.