Bisnis & Ekonomi

Eropa Siaga Tinggi Kebakaran Hutan Setelah Gelombang Panas Rekor dan Hujan Minim

×

Eropa Siaga Tinggi Kebakaran Hutan Setelah Gelombang Panas Rekor dan Hujan Minim

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Purbaya Janji Akan Tindak Lanjuti 11 Temuan BPK di LKPP 2025 - Market

jurnalistik.co.id – Gelombang panas yang memecahkan rekor dan curah hujan yang minim membuat kondisi hutan serta lahan di Eropa berubah menjadi sangat rawan terhadap kebakaran. Otoritas terkait pun menaikkan kesiapsiagaan ke level siaga tinggi seiring prakiraan cuaca yang menunjukkan kondisi ekstrem diperkirakan masih berlanjut.

Di Prancis bagian tengah, lebih dari 800 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang mulai terjadi pada Rabu. Kebakaran itu menyebar dan menghanguskan sekitar 12 kilometer persegi di departemen Herault, Aude, dan Bouches-du-RhĂ´ne, yang berada di wilayah selatan negara tersebut.

Dampaknya terasa langsung bagi aktivitas warga. Ratusan orang dievakuasi, sementara sejumlah jalan harus ditutup, dan layanan kereta yang menghubungkan Marseille dengan Miramas dihentikan, menurut operator transportasi SNCF.

Kondisi ini juga mengingatkan pada catatan tahun sebelumnya, ketika wilayah yang sama mengalami kebakaran hutan terburuk dalam 70 tahun. Pada peristiwa itu, lebih dari 170 kilometer persegi wilayah terbakar dan menghancurkan kebun anggur serta lahan pertanian.

Para ilmuwan iklim menilai pola cuaca ekstrem saat ini menjadi bagian dari musim kebakaran terburuk yang pernah tercatat secara global. Kekeringan dan panas yang berkepanjangan, ditambah minimnya hujan, menciptakan kombinasi yang mempercepat penyalaan serta memperlebar jangkauan api di bentang alam.

Dalam skala yang lebih luas, hampir 9.000 kilometer persegi lahan di Eropa saja telah terbakar, sekaligus mencatat angka tertinggi dalam dua dekade terakhir. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebakaran bukan lagi peristiwa lokal, melainkan fenomena yang meluas dan konsisten dengan tren cuaca ekstrem.

Ke depan, peringatan belum mereda. Fenomena El Niño yang sedang berkembang diperkirakan dapat membawa kondisi yang lebih parah pada akhir musim panas tahun ini, sehingga risiko kebakaran dipandang akan tetap tinggi bila tidak ada perubahan signifikan pada cuaca.

Dengan demikian, upaya pemadaman di lapangan berjalan beriringan dengan langkah kesiapsiagaan yang terus ditingkatkan. Saat musim berjalan dan prakiraan tetap menunjukkan cuaca ekstrem, otoritas dan tim darurat menjaga respons cepat, mengingat kebakaran dapat kembali meluas ketika hutan dan lahan tetap kering.

Situasi ini juga menjadi pengingat bahwa tahun dengan panas berkepanjangan dan hujan yang tidak memadai dapat mengubah lanskap, membuat vegetasi mudah terbakar, serta meningkatkan tekanan pada layanan tanggap darurat. Dari jumlah lahan yang terbakar hingga gangguan pada transportasi dan evakuasi warga, rangkaian dampaknya memperlihatkan seberapa besar gelombang panas yang memecahkan rekor tersebut berpengaruh terhadap keselamatan publik.

Selain memadamkan api, otoritas juga harus mengatur lalu lintas darurat dan mengalihkan aktivitas masyarakat agar tidak masuk area terdampak. Penutupan sejumlah jalan serta penghentian layanan kereta dari Marseille ke Miramas menunjukkan bagaimana api dapat mengganggu mobilitas sehari-hari, termasuk rencana perjalanan warga dan logistik yang biasanya berjalan rutin.

Catatan kebakaran besar pada tahun sebelumnya memberi gambaran bahwa dampak tidak berhenti pada titik api. Saat wilayah yang sama pernah mengalami kebakaran hutan terburuk dalam 70 tahun, lebih dari 170 kilometer persegi wilayah terbakar dan menyasar kebun anggur serta lahan pertanian. Artinya, kondisi cuaca ekstrem hari ini berpotensi menimbulkan konsekuensi lanjutan bagi lanskap dan aktivitas ekonomi setempat.

Dengan prakiraan yang masih menempatkan cuaca pada tingkat ekstrem, peningkatan kesiapsiagaan tidak hanya bersifat sesaat. Ketika kekeringan, panas berkepanjangan, dan minimnya hujan terus bertahan, potensi penyalaan ulang dan perluasan area terbakar tetap ada, sehingga respons di lapangan perlu berjalan bersama pemantauan risiko secara berkelanjutan. Perkembangan El Niño yang diprediksi dapat memperparah kondisi pada akhir musim panas ikut menambah urgensi untuk mempertahankan kewaspadaan.