Bisnis & Ekonomi

Emas Global Menguat Lebih 2% berkat Data Ketenagakerjaan Swasta AS

×

Emas Global Menguat Lebih 2% berkat Data Ketenagakerjaan Swasta AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Emas Dunia Naik Lebih dari 2 Persen, Data Tenaga Kerja AS Jadi Pendongkrak

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia mencatat kenaikan tajam pada perdagangan terakhir, ditopang data ketenagakerjaan swasta Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan dan sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda.

Kenaikan itu terjadi pada akhir perdagangan Rabu (1/7/2026) waktu setempat atau Kamis (2/7/2026) pagi WIB. Sejumlah pelaku pasar menilai kombinasi sentimen tersebut mendorong minat terhadap aset lindung nilai di tengah ekspektasi kebijakan moneter yang masih dipantau ketat.

Menurut Reuters, harga emas spot naik 1,6% menjadi 4.071,04 dollar AS per ons. Pada sesi sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah sejak November.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,1% ke level 4.082,40 dollar AS per ons. Pergerakan harga tersebut mencerminkan respons pasar terhadap laporan ekonomi terbaru dan komunikasi pejabat bank sentral.

Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan kenaikan emas berawal dari data ADP yang lebih rendah dari perkiraan. Setelah itu, komentar Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh mengenai meredanya risiko inflasi membuat imbal hasil obligasi turun dan turut mengangkat pasar emas yang sebelumnya lesu.

Tai Wong menambahkan bahwa ia melihat emas telah membentuk dasar untuk jangka pendek. Namun, ia menekankan pengecualian bila data nonfarm payrolls AS pada hari berikutnya keluar sangat kuat.

Laporan ketenagakerjaan nasional dari ADP menunjukkan lapangan kerja sektor swasta AS bertambah 98.000 pada Juni. Angka tersebut lebih kecil dibanding kenaikan 122.000 pada Mei dan juga berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yakni 118.000 pekerjaan baru.

Di sisi lain, Kevin Warsh menyatakan ekspektasi inflasi dan risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, ia menegaskan The Fed tetap berkomitmen menurunkan inflasi hingga mencapai target 2 persen.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Akan tetapi, kenaikan suku bunga dapat menekan daya tarik logam mulia karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September saat ini diperkirakan sekitar 65 persen. Penanda tersebut membantu pelaku pasar menyusun skenario terkait waktu dan arah kebijakan moneter ke depan.

Sentimen geopolitik ikut memengaruhi pasar

Di ranah geopolitik, AS dan Iran menggelar pembicaraan teknis di Doha pada Rabu. Pertemuan tersebut membahas kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sekaligus upaya untuk mendorong gencatan senjata yang lebih permanen.

Sementara emas menguat, logam mulia lainnya juga turut bergerak positif. Harga perak spot naik 2,5% menjadi 60,01 dollar AS per ons, palladium menguat 1,2% ke 1.218,75 dollar AS per ons, dan platinum naik 2,2% menjadi 1.584,75 dollar AS per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak November.

Dengan demikian, pergerakan harga logam mulia pada periode ini terutama ditopang data pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah serta sinyal terkait inflasi dari The Fed. Fokus berikutnya pelaku pasar tertuju pada rilis nonfarm payrolls untuk menilai arah ekonomi dan ekspektasi kebijakan suku bunga.

Secara umum, pelemahan indikator tenaga kerja swasta dipandang memperkecil kekhawatiran pasar terhadap jalur inflasi, sehingga sebagian pelaku memilih menambah posisi pada emas. Perubahan sentimen ini juga terlihat dari respons instrumen pendukung seperti obligasi yang imbal hasilnya turun.

Di saat yang sama, pasar masih menyeimbangkan dua kekuatan: dorongan dari harapan inflasi yang melandai dan tekanan dari ekspektasi suku bunga yang tetap diawasi ketat. Karena itu, pergerakan harga tidak sepenuhnya bergerak searah, melainkan mengikuti pembaruan data dan tafsir kebijakan.

Untuk beberapa sesi ke depan, fokus akan bergeser pada rilis nonfarm payrolls yang disebut akan menjadi penentu apakah pembentukan dasar jangka pendek pada emas dapat bertahan atau justru kehilangan dukungan. Skenario tersebut menjadi semakin relevan mengingat probabilitas kenaikan suku bunga pada September masih dipantau sekitar 65 persen.