jurnalistik.co.id – Roberto Mancini resmi ditunjuk kembali sebagai pelatih kepala Timnas Italia, memulai periode keduanya di kursi Gli Azzurri. Di masa ini, ia membawa misi besar untuk mengembalikan rasa bangga sekaligus kedekatan para suporter kepada tim. Mancini menegaskan keseriusannya lewat kesepakatan kontrak jangka panjang bersama Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Pelatih berusia 61 tahun itu menyebut, “Kami menandatangani kontrak selama empat tahun,” kata Roberto Mancini dikutip dari Antara, Kamis (30/7/2026). Dalam kesempatan yang sama, Mancini menyampaikan harapannya terhadap capaian yang ingin diraih selama masa kontrak. “Saya berharap bisa memenangkan satu trofi penting, atau bahkan dua, lalu tetap bertahan lebih lama bila memungkinkan.” Bagi Mancini, target prestasi tidak berdiri sendiri. Ia juga menempatkan faktor hubungan emosional dengan publik sebagai bagian dari pekerjaan besar yang harus segera dibangun. Ia mengakui, keputusan mundurnya pada tahun 2023 untuk menerima tawaran melatih Arab Saudi pernah memicu kontroversi dan kekecewaan sebagian pihak. Karena itu, Mancini menyatakan akan berupaya meredam luka lama melalui cara bermain dan kualitas tim di lapangan. “Saya akan berusaha membuat tim Italia tampil begitu indah dan bermain sangat baik sehingga para suporter kembali jatuh cinta kepada tim itu, dan mungkin memaafkan saya atas apa yang terjadi. Itulah harapan saya,” lanjutnya. Ia menempatkan harapan tersebut sebagai orientasi utama agar penerimaan kembali tumbuh dari hasil nyata. Mancini juga menilai sepak bola Italia masih memiliki banyak talenta berbakat yang dapat dirangkai menjadi skuad kompetitif. Ia mendorong klub-klub domestik agar lebih berani memberikan kesempatan bermain kepada pemain muda. “Untuk itu, saya ingin klub-klub di dalam negeri lebih terbuka menyiapkan ruang bagi pemain-pemain muda,” gagasan itu sejalan dengan keyakinan Mancini bahwa regenerasi bisa menjadi mesin performa berikutnya. Dengan pendekatan tersebut, pembentukan karakter tim diharapkan tidak hanya bergantung pada hasil jangka pendek. Masa lalu Mancini bersama Italia menjadi salah satu dasar keyakinannya. Pada periode pertamanya (2018–2023), Gli Azzurri sempat membukukan rekor 37 laga beruntun tanpa kekalahan. Namun, catatan impresif itu kemudian dipatahkan oleh Spanyol pada tahun ini. Setelah jeda dan dinamika yang menyertai kepelatihannya, Mancini kini kembali dengan pekerjaan yang menuntut pembenahan sekaligus penyusunan ulang fondasi performa. Dalam artikulasinya, Mancini menegaskan dua tujuan pokok yang ingin segera direalisasikan. Ia menyatakan, “Ada dua hal yang paling saya inginkan. Pertama, membuat para pendukung Italia kembali jatuh cinta kepada tim nasional,” tegas Roberto Mancini. Tujuan kedua berkaitan dengan aspek personal yang tidak kalah penting baginya. Mancini menuturkan, “Kedua, memastikan anak-anak seperti keponakan saya yang berusia 12 tahun, yang belum pernah melihat Italia bermain di Piala Dunia, akhirnya mendapat kesempatan untuk menyaksikannya.” Harapan itu menggambarkan bahwa ukuran sukses bagi Mancini bukan hanya trofi dan ranking, melainkan juga kesempatan generasi muda menyaksikan tim nasional bertarung di panggung terbesar. Dengan kata lain, motivasi suportif ingin diterjemahkan menjadi pengalaman nyata yang lebih luas. Proses kembalinya Mancini ke posisi pelatih kepala juga disebut sempat diwarnai dinamika internal. FIGC disebut membatalkan rencana penunjukan Andrea Pirlo, sementara Claudio Ranieri disebut mengambil peran sebagai direktur teknik dalam rangkaian perubahan tersebut. Kembalinya Mancini kini menjadi babak baru yang memadukan target prestasi dan pemulihan relasi dengan pendukung. Dalam kerangka kontrak empat tahun, ia memasang arah yang jelas: menghidupkan kembali permainan yang membuat Italia dicintai, sekaligus membuka jalan bagi talenta untuk tampil dan bertumbuh.
Beranda
Olahraga
Roberto Mancini Kembali Memimpin Gli Azzurri, Membidik Kebangkitan agar Suporter Jatuh Cinta Lagi
Roberto Mancini Kembali Memimpin Gli Azzurri, Membidik Kebangkitan agar Suporter Jatuh Cinta Lagi
Redaksi3 min baca












