jurnalistik.co.id – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyebutkan gempa susulan di Palu, Sulawesi Tengah, masih berlangsung hingga sore hari pada Selasa (16/6/2026).
Meski begitu, Abdul Muhari meminta masyarakat tidak panik dan terus memantau informasi yang benar dari otoritas resmi.
“BNPB bersama BMKG dan pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi serta mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta BMKG,” kata Abdul Muhari dalam keterangan pers, Selasa.
Ia mengatakan, BNPB terus melakukan pemantauan dan menyampaikan perkembangan penanganan dampak gempa secara berkala. Menurutnya, upaya bersama tim reaksi cepat tanggap juga terus dijalankan, termasuk koordinasi dengan pemerintah dari provinsi hingga tingkat desa.
“Serta instansi terkait juga terus diperkuat guna memastikan penanganan berjalan optimal,” ucapnya.
Di sejumlah daerah, kata Abdul Muhari, langkah-langkah penanganan telah disiapkan. Pada Kabupaten Sigi, misalnya, sedang disiapkan status tanggap darurat selama 14 hari serta mempersiapkan pos lapangan untuk mendukung percepatan koordinasi layanan kepada masyarakat terdampak.
Di Kabupaten Poso, Abdul Muhari menyebutkan tenda darurat telah didirikan di lingkungan RSUD Kabupaten Poso untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, masyarakat bersama aparat kepolisian juga melakukan pembersihan puing-puing bangunan yang terdampak gempa.
Hingga saat ini, data korban yang tercatat menunjukkan 1 orang meninggal dunia, 25 korban luka ringan, dan 13 korban luka berat.
Sebagai informasi, gempa bumi terjadi di Sulawesi Tengah dengan kekuatan 6,7 magnitudo. Gempa tersebut terjadi pukul 10.27 WIB.
BMKG mencatat adanya rentetan gempa susulan (aftershocks) yang berpusat di sekitar Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Getarannya dilaporkan merambat kuat hingga ke wilayah tetangga di Sulawesi Barat.
Berdasarkan data Pusat Gempa Regional (PGR) 4 Sulawesi BMKG, gempa utama berpusat pada koordinat 1,04 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur. Hingga pasca-gempa utama, BMKG melaporkan telah terjadi sedikitnya sembilan kali gempa susulan dengan magnitudo yang bervariasi antara 3,5 hingga 4,6.
Di lapangan, dampak gempa juga terlihat di permukiman warga. Salah satunya, rumah warga di Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah dilaporkan mengalami kondisi usai terjadinya gempa berkekuatan magnitudo 6,7 pada Selasa (16/6/2026).
Abdul Muhari menegaskan BNPB bersama pihak terkait tetap memantau perkembangan situasi dan mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi agar tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Abdul Muhari juga menekankan bahwa perhatian utama saat ini adalah menjaga kewaspadaan tanpa panik, mengingat gempa susulan dilaporkan masih berlangsung dan dapat memengaruhi aktivitas masyarakat di area terdampak. Ia mengingatkan agar warga terus memastikan informasi yang diterima bersumber dari otoritas resmi, sehingga tidak menimbulkan kebingungan di tengah proses pemantauan situasi.
Dalam pemantauan yang dilakukan secara terkoordinasi, BNPB bersama BMKG dan unsur pemerintahan setempat terus menilai perkembangan setelah gempa utama. Getaran yang muncul dari rentetan aftershocks dilaporkan berpusat di sekitar Kabupaten Sigi dan Kota Palu, serta getarannya disebut merambat kuat hingga wilayah tetangga di Sulawesi Barat. Kondisi ini menjadi pertimbangan penting dalam penyesuaian langkah respons di lapangan.
Upaya penanganan dampak juga terus diarahkan pada kebutuhan layanan bagi masyarakat terdampak. Di Kabupaten Sigi, pemerintah daerah sedang menyiapkan status tanggap darurat selama 14 hari sekaligus mempersiapkan pos lapangan untuk mempercepat koordinasi layanan. Di Kabupaten Poso, tenda darurat telah didirikan di RSUD untuk mendukung pelayanan kesehatan, sementara masyarakat bersama aparat kepolisian melakukan pembersihan puing-puing bangunan yang terkena dampak gempa.
Hingga saat ini, pencatatan korban yang telah tercatat menunjukkan 1 orang meninggal dunia, 25 korban luka ringan, dan 13 korban luka berat. BNPB menyampaikan bahwa pendataan dan penyampaian perkembangan penanganan dampak dilakukan secara berkala, termasuk melalui koordinasi tim reaksi cepat yang diperkuat dari provinsi hingga tingkat desa agar respons berjalan lebih terarah.












