jurnalistik.co.id – Fenomena bediding yang membuat suhu di sebagian wilayah Pulau Jawa terasa lebih hangat pada siang hari, namun cenderung lebih sejuk pada malam hingga dini hari, dinilai belum sepenuhnya berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi ini masih berpotensi terjadi selama musim kemarau tahun ini.
Prakirawan Cuaca BMKG Yuni Maharani mengatakan, bediding masih mungkin berlangsung karena sebagian besar wilayah di Pulau Jawa sudah memasuki musim kemarau. Secara klimatologis, BMKG memprediksi kondisi tersebut menuju puncaknya pada periode Juli hingga September 2026.
Yuni menyampaikan hal itu dalam keterangan tertulis pada Rabu (29/7/2026). Ia menegaskan bahwa situasi cuaca yang mendukung pola suhu kontras tersebut masih dapat ditemui seiring berjalannya musim kemarau di Jawa.
Bediding Lazim saat Kemarau
Menurut Yuni, bediding merupakan fenomena yang lazim muncul ketika musim kemarau berlangsung. Pada periode ini, suhu udara minimum pada malam hingga pagi hari cenderung lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya, karena pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih optimal.
Dalam penjelasannya, fenomena ini umumnya terjadi di wilayah selatan khatulistiwa. Di kawasan tersebut, bediding dapat dirasakan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama pada area dataran tinggi.
Meski begitu, pola yang sama tidak hanya terbatas pada wilayah geografis tertentu. Yuni menyebut dampaknya juga bisa dirasakan di wilayah perkotaan, termasuk Bekasi di Jawa Barat.
Di area tersebut, warga merasakan perbedaan suhu yang cukup kontras. Pada siang hari udara terasa lebih terik, sementara menjelang malam hingga dini hari kondisi menjadi lebih sejuk.
Peran Angin Timuran dan Monsun Australia
Berita Terkait
Yuni menjelaskan, kondisi yang membedakan suhu siang dan malam tersebut dipengaruhi dominasi angin timuran dan menguatnya Monsun Australia. Monsun itu membawa massa udara yang lebih kering ke wilayah Indonesia.
Ketika massa udara lebih kering mendominasi, pertumbuhan awan cenderung berkurang. Akibatnya, hujan menjadi lebih jarang terjadi selama periode kemarau.
Di saat yang sama, penyinaran matahari ke permukaan bumi juga menjadi lebih optimal pada pagi hingga siang. Kondisi ini membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih kuat, sehingga suhu siang hari terasa lebih panas, terutama di wilayah dataran rendah, pesisir, dan perkotaan.
Yuni menambahkan, ketika memasuki malam hari, minimnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan lebih mudah dilepaskan ke atmosfer. Mekanisme pelepasan panas yang lebih efektif itulah yang menyebabkan suhu udara turun lebih rendah dibandingkan biasanya.
“Hal ini karena pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih optimal tanpa adanya awan yang menyelimuti. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai bediding,” ujar Yuni.
Imbauan BMKG Menghadapi Musim Kemarau
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas selama musim kemarau. Imbauan ini sejalan dengan karakter musim yang memengaruhi pola suhu harian dan ketersediaan kelembapan udara.
Dalam konteks yang lebih luas, BMKG memprakirakan musim kemarau di Sumatera Selatan berlangsung mulai Mei 2026. Prakiraan ini menunjukkan bahwa pergantian musim dan dinamika atmosfer sama-sama perlu dipantau agar aktivitas masyarakat tetap selaras dengan kondisi cuaca setempat.
Bagi wilayah Jawa, BMKG melihat peluang bediding masih terbuka sepanjang musim kemarau, khususnya ketika Jawa menuju puncaknya pada periode Juli hingga September 2026. Dengan memahami mekanismenya, masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan kenyamanan suhu yang terjadi dari siang hingga malam.
“Kondisi ini diprakirakan masih dapat terjadi, terlebih sebagian wilayah Jawa telah memasuki musim kemarau dan secara klimatologis diprediksi menuju puncaknya pada periode Juli hingga September 2026,” kata Yuni.












