jurnalistik.co.id – Warga Kota Bekasi belakangan merasakan perubahan suhu yang kontras: siang terasa lebih panas, sementara malam hingga dini hari justru terasa lebih dingin. Perbedaan yang terasa āberbalikā ini dijelaskan BMKG lewat fenomena bediding.
Bediding merujuk pada penurunan suhu udara yang umumnya berlangsung pada malam sampai pagi hari selama musim kemarau. Dalam kondisi seperti itu, suhu minimum pada periode malam dan dini hari bisa terasa lebih rendah dibanding bulan-bulan lainnya.
BMKG menilai keluhan soal udara yang makin sejuk saat waktu malam juga sejalan dengan pola cuaca yang tengah terjadi. Kepala bagian prakiraan cuaca BMKG, Yuni Maharani, menyebut fenomena ini termasuk kondisi yang lazim muncul saat musim kering.
Bediding: saat pelepasan panas malam lebih optimal
Yuni menjelaskan bahwa fenomena bediding terjadi ketika pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih baik tanpa adanya awan yang menyelimuti. Dengan minimnya penghalang berupa tutupan awan, proses pendinginan menjadi lebih efektif.
āHal ini karena pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih optimal tanpa adanya awan yang menyelimuti. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai bediding,ā ungkap Yuni dalam keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).
Menurut BMKG, bediding ditandai dengan suhu minimum malam sampai pagi yang cenderung lebih rendah dibanding kondisi rata-rata pada periode lain. Dengan kata lain, āpuncak rasa dinginā terjadi ketika suhu yang biasanya turun di malam hari mencapai penurunan yang lebih nyata.
āHal ini karena pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih optimal tanpa adanya awan yang menyelimuti. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai bediding,ā ungkap Yuni dalam keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).
Kenapa siang terasa lebih panas?
BMKG turut mengaitkan bediding dengan dinamika atmosfer pada musim kemarau. Di pagi hingga siang hari, penyinaran matahari ke permukaan bumi berlangsung lebih optimal sehingga pemanasan terjadi lebih kuat.
Situasi ini membuat suhu siang hari terasa lebih panas, terutama pada wilayah dataran rendah, pesisir, dan kawasan perkotaan. Karakter permukaan yang menyerap dan melepaskan panas juga dapat memperkuat perbedaan rasa suhu antara siang dan malam.
Berita Terkait
Penyebab bediding dipengaruhi musim kemarau dan angin timuran
Yuni menyatakan fenomena bediding masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Alasannya, sebagian wilayah di Pulau Jawa telah memasuki musim kemarau yang secara klimatologis diprediksi mencapai puncak pada periode Juli hingga September 2026.
BMKG menjelaskan kondisi ini dipengaruhi dominasi angin timuran serta menguatnya Monsun Australia. Monsun tersebut membawa massa udara yang lebih kering ke wilayah Indonesia selama musim kemarau.
Akibat udara yang lebih kering, pertumbuhan awan berkurang sehingga hujan menjadi lebih jarang terjadi. Ketika awan tidak banyak terbentuk, tidak hanya sinar matahari lebih leluasa memanaskan permukaan pada siang hari, tetapi pada malam hari panas yang tersimpan juga lebih mudah dilepaskan ke atmosfer.
Saat proses pelepasan panas berlangsung lebih efisien, suhu udara pun turun lebih rendah dibanding biasanya. Pada akhirnya, udara terasa lebih dingin saat malam tiba, dan fenomena ini bisa berulang seiring berlangsungnya musim kemarau.
Umumnya di wilayah selatan khatulistiwa, termasuk dampak ke kota-kota
BMKG menyebut bediding umumnya terjadi di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena ini terutama terasa pada kawasan dataran tinggi.
Namun, BMKG menegaskan dampaknya tidak selalu berhenti pada wilayah tertentu. Kondisi tersebut juga dapat dirasakan di wilayah perkotaan, termasuk Bekasi, ketika perbedaan suhu siang dan malam menjadi lebih terasa dalam aktivitas harian.
āKondisi tersebut umumnya terjadi di wilayah selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama pada kawasan dataran tinggi,ā ujar Yuni.
Saran BMKG untuk menyesuaikan aktivitas
Seiring pola musim kemarau dan potensi bediding yang berlanjut, BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dengan perubahan suhu antara siang dan malam. Penyesuaian ini penting agar rutinitas harian tetap nyaman ketika udara mengalami pergeseran yang cukup terasa.
Dengan memahami bediding sebagai fenomena musiman, warga dapat lebih siap menghadapi kondisi udara yang cenderung lebih panas di siang hari dan lebih dingin pada malam hingga dini hari. Penyesuaian sederhana seperti waktu beraktivitas dan kesiapan terhadap perubahan suhu diharapkan membantu warga tetap beraktivitas dengan lebih baik selama musim kemarau.












