jurnalistik.co.id – Fenomena bediding yang belakangan dirasakan warga Kota Bekasi ternyata tidak hanya terjadi di wilayah tersebut. BMKG menyebut kondisi serupa juga muncul di sejumlah daerah lain di Indonesia, terutama yang berada di selatan garis khatulistiwa.
Menurut BMKG, bediding umumnya terkait perubahan suhu yang cukup kontras antara siang dan malam. Di siang hari, suhu terasa lebih panas, sementara pada malam hingga dini hari udara menjadi lebih dingin.
Bediding di wilayah selatan khatulistiwa
Prakirawan Cuaca BMKG Yuni Maharani menjelaskan, kondisi tersebut lazim terjadi di wilayah selatan khatulistiwa. Daerah yang disebut mencakup Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama pada kawasan dataran tinggi.
Meski begitu, fenomena ini tidak selalu terbatas pada area pegunungan. Yuni menyebut bediding tetap dapat berlangsung di wilayah perkotaan, termasuk Bekasi, ketika perbedaan pemanasan permukaan pada siang hari dan pelepasan panas pada malam hari menjadi lebih terasa.
Bediding yang dirasakan masyarakat biasanya muncul sebagai sensasi dingin pada jam-jam ketika aktivitas harian sudah menurun. Pada saat yang sama, suhu pada siang hari relatif lebih terik dibandingkan kondisi malam.
Dalam penjelasan BMKG, perbedaan suhu ini dipahami sebagai bagian dari pola musiman yang lebih sering muncul saat kemarau. Karena itu, karakter bediding cenderung berulang pada periode tertentu ketika kondisi atmosfer mendukung.
Dari kemarau menuju puncaknya Juli hingga September 2026
Yuni menegaskan, bediding merupakan fenomena yang lazim terjadi pada musim kemarau. BMKG memperkirakan kondisi tersebut masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, seiring sebagian besar wilayah di Pulau Jawa sudah memasuki musim kemarau.
Secara klimatologis, BMKG juga memprediksi kondisi tersebut mengarah ke puncaknya pada periode Juli hingga September 2026. Dengan demikian, pengaruh bediding di rentang waktu tersebut berpotensi lebih terasa dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Berita Terkait
Yuni menyebut pada periode itu, suhu udara minimum pada malam hingga pagi hari cenderung lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lain. Artinya, selain malam menjadi terasa lebih dingin, tingkat penurunan suhu juga diproyeksikan lebih signifikan.
Dipengaruhi angin timuran dan Monsun Australia
BMKG mengaitkan fenomena ini dengan dominasi angin timuran. Selain itu, menguatnya Monsun Australia disebut membawa massa udara yang lebih kering ke wilayah Indonesia selama musim kemarau.
Menurut Yuni, massa udara yang lebih kering tersebut berdampak pada pertumbuhan awan yang cenderung berkurang. Ketika tutupan awan lebih sedikit, peluang terbentuknya hujan juga menjadi lebih rendah, sehingga aktivitas hujan saat kemarau cenderung jarang.
Di sisi lain, kondisi langit yang lebih cerah memengaruhi penyinaran matahari ke permukaan bumi. Yuni menyatakan bahwa penyinaran matahari pada pagi hingga siang berlangsung lebih optimal, sehingga pemanasan permukaan menjadi lebih kuat.
Kondisi pemanasan yang lebih kuat itu membuat suhu siang hari terasa lebih panas. BMKG menyoroti bahwa efeknya dapat lebih terasa di wilayah dataran rendah, pesisir, maupun area perkotaan yang mengalami pemanasan lebih intens pada jam siang.
Selanjutnya, pada malam hari, minimnya tutupan awan berpengaruh pada proses pelepasan panas. Panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer ketika awan tidak lagi menahan radiasi, sehingga penurunan suhu berlangsung lebih besar dari biasanya.
Dengan mekanisme tersebut, udara di malam hingga dini hari dapat turun lebih rendah dibandingkan kondisi yang tidak sedang mendukung bediding. Akibatnya, masyarakat merasakan sensasi dingin yang terasa lebih nyata, khususnya ketika aktivitas berada di luar rumah pada jam-jam transisi menuju pagi.
BMKG, melalui penjelasan Yuni Maharani, menggambarkan bahwa rangkaian proses tersebut saling berhubungan: massa udara kering mengurangi awan dan hujan, penyinaran siang menjadi lebih kuat, lalu pelepasan panas pada malam berlangsung lebih efektif sehingga suhu minimum menjadi lebih rendah.
Dalam konteks wilayah, pola ini menunjukkan bahwa bediding dapat muncul di berbagai daerah, bukan hanya satu kota tertentu. Karena kemarau dan kondisi atmosfer yang melatarinya memengaruhi wilayah yang berada pada rentang geografis tertentu, perubahan suhu yang kontras bisa lebih cepat dirasakan ketika musim masuk dan mencapai puncaknya.












