Bisnis & Ekonomi

Harga Emas Dunia Menguat Tipis 0,9% Pekan Ini, Dipacu Aksi Beli saat Harga Menurun

×

Harga Emas Dunia Menguat Tipis 0,9% Pekan Ini, Dipacu Aksi Beli saat Harga Menurun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Emas Dunia Naik Tipis 0,9 Persen Selama Sepekan, Ditopang Aksi Beli saat Harga Murah

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia menguat tipis sepanjang sepekan terakhir, naik sekitar 0,9% setelah sebelumnya muncul aksi beli ketika harga sedang melemah pada awal pekan.

Pada penutupan Jumat (24/7/2026) waktu setempat, atau Sabtu (25/7/2026) pagi WIB, harga emas di pasar spot naik 0,1% menjadi 4.052,78 dollar AS per ons.

Di sisi lain, emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ikut menguat 0,5% menjadi 4.070,80 dollar AS per ons. Kenaikan tersebut membuat performa mingguan emas tetap positif, meski pergerakannya tidak terlalu besar.

Penguatan harga emas juga berjalan beriringan dengan dinamika komoditas energi. Setelah mengalami lonjakan pada perdagangan sebelumnya, harga minyak Brent justru anjlok lebih dari 4% pada hari berikutnya.

Lonjakan minyak Brent sebelumnya terjadi sehari setelah harga bergerak naik lebih dari 7% hingga ditutup di atas 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak Mei. Pergerakan tajam itu dipicu serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Selain faktor energi, pasar menaruh perhatian pada konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam konteks itu, keputusan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi fokus utama pelaku pasar dalam waktu dekat.

Sejumlah analis menilai emas mulai menunjukkan fondasi yang lebih kokoh, meski imbal hasil obligasi masih terus meningkat. Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan, “Emas dan perak mulai membentuk level penopang masing-masing di sekitar 3.950 dollar AS dan 55 dollar AS.”

Wong juga menambahkan, “Meski masih ada risiko penurunan jika perang meningkat tajam, harga emas terlihat siap kembali menguat. Sikap The Fed yang kemungkinan tetap menahan suku bunga pekan depan juga akan menjadi sentimen positif,” tambah Wong.

Meski menguat minggu ini, harga emas tetap berada di bawah level yang dicapai sebelum krisis memanas. Secara akumulasi, emas masih turun sekitar 23% sejak perang AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.

Penurunan yang masih membayangi harga emas berkaitan dengan kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat perang akan membuat suku bunga bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Emas kerap diposisikan sebagai aset lindung (safe haven) terhadap inflasi, namun kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.

Menjelang rapat kebijakan moneter The Fed pekan depan, pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang sekitar 80% dipandang mengindikasikan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada September.

Gambaran jangka pendek juga turut dipengaruhi oleh pergerakan imbal hasil obligasi dan minyak. “Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi kemungkinan akan membatasi pemulihan harga emas. Untuk jangka pendek, level 4.000 dollar AS per ons menjadi area penting yang perlu diperhatikan,” tulis analis ING.

Di pasar logam mulia lainnya, perak spot tercatat naik 1,9% menjadi 58,77 dollar AS per ons. Sementara itu, platinum turun 0,5% ke 1.592,89 dollar AS per ons dan palladium naik 0,2% menjadi 1.259,42 dollar AS per ons.

Dengan kombinasi aksi beli saat harga melemah, fluktuasi minyak, serta menunggu sinyal dari The Fed, arah harga emas ke depan masih ditentukan oleh apakah tekanan suku bunga dapat mereda atau justru menguat lagi. Pasar pun terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah sebagai salah satu pemicu utama perubahan sentimen dalam waktu dekat.