jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia menunjukkan kenaikan tajam dalam sepekan terakhir, meski pada akhir perdagangan Jumat (24/7/2026) dan Sabtu (25/7/2026) pagi waktu setempat terjadi koreksi. Pergerakan harga itu masih menyisakan catatan menguat di level mingguan.
Menurut laporan Reuters, minyak mentah Brent ditutup turun 3,88 persen atau 3,91 dollar AS menjadi 96,78 dollar AS per barrel pada akhir pekan tersebut. Kendati melemah, harga Brent tetap mencatat kenaikan hampir 10 persen sepanjang pekan.
Pelemahan Jumat terjadi setelah sehari sebelumnya Brent sempat menembus level 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak Mei. Lonjakan hingga mendekati psikologis 100 dollar AS itu menjadi salah satu penanda bahwa sentimen pasar masih didorong oleh kekhawatiran pasokan.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk Amerika Serikat ditutup melemah 3,12 persen atau 2,88 dollar AS menjadi 89,31 dollar AS per barrel. Secara mingguan, WTI masih menguat sekitar 8,27 persen.
Harapan meredakan ketegangan, namun risiko belum hilang
John Kilduff dari Mitra Again Capital menilai kondisi pasar sedang berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan. “Tidak ada yang lebih disukai pasar ini selain harapan,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Tidak ada yang ingin tertipu, jadi setiap petunjuk bahwa situasi ini mungkin bisa diselesaikan, akan dimanfaatkan pasar.” Pernyataan itu menggambarkan bagaimana sinyal penyelesaian konflik berpotensi memicu penyesuaian cepat pada harga.
Di sisi lain, Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengingatkan bahwa koreksi harga tidak otomatis berarti ketatnya pasokan menjadi longgar. “Secara keseluruhan, persediaan minyak masih cukup ketat. Situasi ini bisa berubah dengan sangat cepat, sehingga perkembangan ke depan perlu terus dicermati,” kata Flynn.
Berita Terkait
Konflik dan gangguan logistik mengerek harga selama pekan
Sepanjang pekan, harga minyak melonjak dipengaruhi oleh beberapa faktor terkait ketegangan di Timur Tengah. Di antaranya, saling serang rudal antara AS dan Iran, berkurangnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah yang memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Ketika risiko gangguan rute perdagangan dan logistik meningkat, pasar cenderung mengantisipasi potensi keterlambatan distribusi minyak. Inilah yang menjadi dasar mengapa lonjakan harga dapat bertahan sebelum kemudian mengalami koreksi.
Pada Jumat, sejumlah sumber menyebut China mendorong dimulainya kembali perundingan damai antara AS dan Iran yang sebelumnya terhenti. Informasi tersebut kemudian dibaca pasar sebagai sinyal yang dapat mengurangi eskalasi, sehingga sebagian kenaikan harga menyusut dalam sesi penutupan.
Ancaman militer dan rute pengiriman energi
Sentimen pasar juga dibayangi pernyataan politik dari Washington. Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menjatuhkan “hukuman militer besar” terhadap Iran dan kelompok Houthi setelah serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Dalam dinamika tersebut, Iran disebut mendesak Houthi menutup jalur Bab el-Mandeb apabila AS terus menyerang infrastruktur energi Iran. Jalur tersebut merupakan rute pengiriman energi terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.
Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan lalu lintas melalui Selat Hormuz masih bertahan pada sekitar tiga kapal per hari dalam tiga hari terakhir. Meski tetap ada pergerakan, pasar tetap mencermati apakah pola lalu lintas tersebut akan berubah cepat mengikuti perkembangan konflik di kawasan.
Dengan koreksi harian yang terjadi bersamaan dengan kenaikan mingguan yang masih kuat, pasar minyak tampak berada pada posisi rentan. Harga dapat bergerak tajam sesuai kabar eskalasi maupun sinyal pemulihan negosiasi, sementara ketatnya persediaan membuat setiap perubahan situasi perlu dimonitor secara ketat.












