jurnalistik.co.id – Arthur Fery memastikan asa tunggal putra Inggris tetap hidup di Wimbledon 2026 setelah melakukan comeback dramatis untuk mengalahkan Zizou Bergs dan melaju ke babak keempat.
Petenis wildcard berusia 23 tahun itu menuntaskan pertandingan lima set di lapangan 18 di hadapan penonton yang memadati tribun.
Hasilnya ditutup dengan skor 2-6, 7-5, 2-6, 7-6 (7-3), 7-6 (10-5) dalam duel yang berlangsung empat jam 39 menit, sekaligus menjadi laga terpanjang pada turnamen edisi tahun ini.
Sebelum memenangi set keempat dan kelima lewat tie-break, Fery harus bangkit dari posisi tertinggal, termasuk dua kali tertinggal set dan satu kali sempat tercecer setelah Bergs unggul sejak awal.
Di laga ini, Fery juga mengalami tiga kali mimisan selama pertandingan, namun tetap bertahan dan melanjutkan reli dengan pengaturan yang membuatnya tidak kehilangan tempo terlalu lama.
Wildcard asal Inggris itu sempat berada di luar peringkat 100 besar dunia pada awal turnamen, tetapi penampilannya justru melampaui ranking yang ia miliki.
Kemenangan ini membuat Fery menjadi satu-satunya wakil tuan rumah yang berhasil mencapai babak ketiga tunggal pada Wimbledon, setelah sebelumnya ia mampu mengalahkan Damir Dzumhur asal Bosnia dan Otto Virtanen dari Finlandia di dua laga awalnya.
Namun, melawan Bergs, Fery seperti kehilangan pijakan di sebagian besar momen awal saat ia terseret ritme permainan lawan.
Bergs memperbesar tekanan dengan kombinasi pukulan forehand yang menekan serta variasi bola tipis yang efektif, sehingga set pertama jatuh ke pihak petenis Belgia itu.
Di set kedua, Fery sempat tertahan setelah sempat kehilangan servis lebih dulu, tetapi ia akhirnya menemukan ritme dan mengubah momentum ketika kesalahan Bergs mulai meningkat.
Perubahan permainan semakin terasa ketika di set ketiga Bergs berhasil meraih rangkaian poin yang membuat Fery kembali terpaksa mengejar dari jarak yang cukup jauh.
Memasuki set keempat, Bergs sempat mengendalikan jalannya pertandingan dengan rekor unggul 4-1 setelah melaju lewat serangkaian permainan yang membuat Fery harus kerja ekstra.
Di sinilah Fery menunjukkan ketahanan yang berbeda, terutama ketika dukungan penonton memunculkan dorongan tambahan untuk mendobrak defisit tersebut.
Kru pendukungnya menjadi bagian penting karena sang pemain terus memaksa bola kembali dalam reli-reli panjang hingga pertandingan akhirnya dibawa ke tie-break.
Di set kelima, harapan sempat kembali menipis karena Bergs kembali melesat untuk memimpin 4-1, sebelum Fery memulai fase kebangkitan terakhir yang berujung pada kedudukan imbang dan tie-break.
Di tie-break penentuan, Fery mampu menjaga fokus dan menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan akhir 10-5, memastikan Inggris punya wakil yang lolos ke babak keempat.
“No words for it, honestly,” ujar Fery, seperti dikutip setelah pertandingan ketika ia merayakan kemenangan dengan gerakan emosional sesaat setelah duel berakhir.
Ia juga menyampaikan, “I don’t know what is going on right now. It will take time to digest it.”
Keberhasilan itu sekaligus mengukuhkan catatan sejarah yang jarang terjadi: Fery menjadi petenis wildcard Inggris pertama yang mencapai babak keempat Wimbledon sejak Andrew Foster pada 1993.
Berita Terkait
Kemenangan ini juga membawa Fery masuk ke jajaran peringkat 100 besar dunia untuk pertama kalinya, sekaligus membuka peluang hadiah mencapai £300,000 untuk tiket babak keempat.
Langkah berikutnya akan mempertemukan Fery dengan pemenang antara Matteo Berrettini dari Italia atau Grigor Dimitrov dari Bulgaria.
Sementara itu, mimisan yang dialami Fery menjadi bagian paling menantang dari laga ini. Penanganan dilakukan pada tiga kesempatan berbeda selama pertandingan berlangsung.
Fery menerima perawatan setelah mimisan ketiga muncul ketika ia sedang melayani untuk mempertahankan pertandingan pada kedudukan 5-4 di set penentuan.
“It is a problem I am going to address. It has happened before but it’s not that common,” kata Fery, menjelaskan kondisinya dengan nada yang tenang meski situasi sedang menekan.
Ia menambahkan, “It happened at times today when I didn’t want to stop, when momentum was with me.”
“I know it annoying for the opponent. It gives me some extra time to rest sometimes,” lanjutnya, menyoroti dampak yang ia rasakan baik terhadap ritme sendiri maupun kenyamanan lawan.
Di aturan turnamen Grand Slam, seorang pemain yang mengalami pendarahan tetap harus mendapatkan perawatan sebelum permainan dapat dilanjut, tetapi ia tidak diwajibkan meninggalkan lapangan.
Selain itu, tidak ada batas jumlah perawatan yang dapat diterima seorang pemain selama pertandingan berlangsung.
Dalam babak-babak setelah tekanan meningkat, Fery juga menyinggung arti dukungan di lapangan yang dipilih untuk pertandingan ini.
“With that support, it is unbelievable. I requested to play on this court and the club made it happen which was awesome,” ujar Fery.
Ia melanjutkan, “I was down for pretty much the whole match, managed to scramble back from two breaks and 4-1 in the fifth, and just tried to put up as much of a fight as I could.”
Dari cabang ganda campuran dan ganda putra-putri
Di cabang ganda campuran pada hari yang sama, Joe Salisbury bekerja sama dengan Leylah Fernandez untuk menumbangkan pasangan sesama petenis Inggris Julian Cash dan Demi Schuurs asal Belanda dengan skor 7-6 (9-7) dan 6-4.
Sementara itu, Neal Skupski bersama Desirae Krawczyk—yang pernah dua kali meraih gelar ganda campuran Wimbledon—membalas kekalahan dengan kemenangan 6-7 (3-7), 7-6 (7-5), 6-4 atas duo Inggris Billy Harris dan Freya Christie.
Di laga lainnya, pasangan Jodie Burrage dan David Stevenson kalah 6-4, 6-1 dari unggulan teratas Italia Andrea Vavassori dan Sara Errani.
Ben Jones dan Maia Lumsden menjadi pemenang pada duel sesama pemain Inggris yang mempertemukan mereka dengan Joshua Paris dan Eden Silva.
Untuk ganda putri, Samantha Murray Sharan dan Lanlana Tararudee dari Thailand menggantikan Serena dan Venus Williams setelah penarikan diri mereka dari turnamen.
Meski demikian, pasangan tersebut tetap terhenti setelah dikalahkan 6-3, 6-4 oleh Camila Osorio dan Solana Sierra.












