jurnalistik.co.id – Lord Blunkett menilai layanan kepolisian di Inggris dan Wales “not good enough” dan mendesak perubahan mendasar dalam kepemimpinan lewat “ethical reset”. Dalam laporan besar yang dijadwalkan terbit pada Senin, ia menyebut ada “significant causes for concern” dan perlunya “fundamental overhaul”.
Berbicara secara eksklusif kepada BBC sebelum publikasi laporan yang ia tulis bersama, mantan menteri dalam negeri dari Partai Buruh itu mengatakan temuan kajian menunjukkan kelemahan kepemimpinan, moral, dan budaya di seluruh layanan. Ia menilai masalah tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berdampak pada cara organisasi bekerja dan merespons tuntutan yang terus berkembang.
“At the moment, the service isn’t good enough,” kata Lord Blunkett. Ia menambahkan, “At the moment, the morale and motivation of many of those working in the service needs a reset.” Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar teknis, melainkan penyegaran yang menyentuh arah dan etos kepemimpinan.
Laporan tersebut, yang disusun bersama Lord Herbert—mantan menteri kepolisian dari Partai Konservatif—untuk College of Policing, akan menyoroti kebutuhan “root and branch modernisation” dalam perekrutan, pengembangan, serta pemantauan di tubuh kepolisian. Menurut College of Policing, tinjauan “comprehensive” ini diprakarsai untuk memastikan layanan bisa menghadapi ancaman yang semakin dinamis dan tetap memenuhi target pemerintah.
College of Policing juga menekankan tinjauan ini dilakukan di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap kepolisian. Dalam kaitan itu, laporan diharapkan tidak hanya menilai kinerja dari sisi prosedur, melainkan mengevaluasi fondasi yang menentukan bagaimana keputusan kepemimpinan diambil dan dijalankan.
Dalam penilaian inspeksi terbaru, tidak ada dari 43 kantor kepolisian di Inggris dan Wales yang dinilai “outstanding” untuk kepemimpinan. Sebagian besar lainnya berada pada kategori yang lebih lemah: hampir sepertiga dinilai membutuhkan perbaikan, sementara dua di antaranya dinilai tidak memadai.
Lord Blunkett menyampaikan bahwa bukti yang dikumpulkan dalam tinjauan tersebut menunjuk pada “a very large number of those at senior level who have been or are under investigation”. Ia menyebutkan temuannya kepada program Sunday dengan Laura Kuenssberg, dengan menyatakan, “I think at the moment, there are eight former or serving chief constables who are either under disciplinary action or awaiting the result,” yang menurutnya terjadi “out of 43 forces.”
“And that’s out of 43 forces,” lanjutnya, sebelum menyimpulkan bahwa kondisi itu mendorong kesimpulan perlunya “a new ethical reset is required”. Ia memandang adanya permasalahan pada level pimpinan—beserta proses pemeriksaan dan disiplin—sebagai bagian dari alasan utama mengapa reformasi harus bersifat menyeluruh.
Berita Terkait
Laporan juga akan menyinggung sejumlah tantangan yang dihadapi kepolisian. Di antaranya adalah kelangkaan sumber daya, beban administratif berupa dokumen yang dinilai berlebihan, serta bagaimana beberapa personel merasa “demotivated” oleh budaya kepemimpinan yang bernada negatif dan terlalu menekankan kehati-hatian berlebihan saat mengambil risiko.
Ketika ditanya mengenai dugaan masalah “two-tier policing”, sebuah istilah yang digunakan sejumlah politisi untuk menyatakan bahwa penanganan polisi terhadap kelompok minoritas etnis bisa lebih menguntungkan dibandingkan warga kulit putih, Lord Blunkett menanggapi dengan membahas persepsi yang berkembang dalam diskursus publik.
Ia merujuk pada peristiwa yang sebelumnya disebut politisi tertentu. Bulan lalu di House of Commons, pemimpin Reform UK Nigel Farage mengaitkan isu tersebut dengan penanganan pembunuhan Henry Nowak, seorang remaja yang ditangkap saat berada sekarat setelah pelakunya secara keliru menuduhnya melakukan tindakan bermotif rasisme.
Sementara itu, Perdana Menteri Sir Keir Starmer menolak klaim tersebut. Ia menyatakan tidak meyakini adanya “two-tier policing” di Inggris dan menuduh Farage memanfaatkan tragedi itu untuk membangun keluhan dan memperbesar polarisasi.
Dalam penilaian Lord Blunkett, isu “two-tier policing” berkaitan dengan bagaimana orang memandang situasi dan bagaimana narasi berubah dari waktu ke waktu. Ia mengatakan, “I think there’s a perception. We’ve moved the pendulum.”
Ia melanjutkan dengan menjelaskan pergeseran framing, menyebut, “It’s gone from the [1999] Macpherson report about outright racism in the force, particularly the reflections in the Met, all the way through to people saying ‘oh, it’s woke’.” Menurutnya, perdebatan yang beredar kemudian mengarah pada pandangan bahwa kebijakan atau sikap tertentu dianggap bagian dari “woke”.
Lord Blunkett menegaskan bahwa laporan yang disusunnya memberi batasan yang jelas terkait budaya pertarungan wacana. Ia menyatakan, “We make it clear in the report that there’s no room for culture wars or woke.”
Ia juga menambahkan, “It isn’t the job of the police in our country to take sides of any sort.” Terakhir, ia menegaskan, “It’s the job of the police to deliver.” Pernyataan itu menempatkan kepolisian pada fungsi pelayanan dan eksekusi tugas, tanpa berpihak pada perdebatan ideologis tertentu.












