jurnalistik.co.id – Babak pertama final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina berakhir tanpa gol, 0-0, di Stadion Metlife, New York New Jersey. Pertandingan yang berlangsung Minggu (19/7/2026) waktu setempat itu bersambung dengan ritme yang jelas: Spanyol tampil dominan, sedangkan Argentina lebih banyak bertahan.
Sepanjang 45 menit awal, penguasaan bola Spanyol jauh lebih tinggi. La Furia Roja menguasai bola hingga lebih dari 60 persen, sementara Argentina berkutat di sekitar 30 persen penguasaan.
Dominasi itu juga tercermin pada efektivitas serangan. Spanyol mencatatkan 2 shots on target dari total 3 percobaan di babak pertama, sedangkan Argentina tidak mencatatkan tembakan sama sekali selama paruh ini.
Dengan situasi tersebut, peluang tercipta lebih sering dari sisi Spanyol. Tim asuhan pelatih Spanyol langsung menekan sejak awal, dan ancaman pertama mereka datang relatif cepat.
Pada menit ke-5, Lamine Yamal mendapat umpan dari Dani Olmo di dalam kotak penalti. Yamal kemudian berhadapan dengan Emi Martinez, namun eksekusinya dari sisi kanan masih bisa dibendung penjaga gawang Argentina.
Menjelang momen itu, Argentina sempat mencoba merespons lewat serangan balik. Hanya berselang tak lama, peluang kubu Albiceleste nyaris muncul, tetapi Unai Simon mampu mengamankan bola meski harus keluar jauh dari sarangnya.
Catatan paling menarik di fase awal adalah minimnya percobaan. Selama sekitar 25 menit pertama, hanya ada satu tembakan yang dihasilkan, dan itu menggambarkan pertandingan yang bergerak cepat namun tidak segera berujung pada peluang besar lainnya.
Di sisi Argentina, kebutuhan untuk membangun serangan terasa menumpuk di lini tengah. Lionel Messi, yang tampil sebagai kapten, hanya mencatatkan dua sentuhan dalam 20 menit pertama sebelum jeda hidrasi, sebuah sinyal bahwa ritme permainan Argentina belum menemukan momentum.
Berita Terkait
Ketika laga memasuki fase yang lebih panas, Spanyol tetap memegang kendali. La Furia Roja bahkan menyentuh angka penguasaan bola hingga 63 persen dalam kurun waktu lebih dari setengah jam pertandingan.
Dominasi itu membuat Argentina semakin sering dipaksa bertahan di area sendiri. Pada menit ke-36, giliran Mikel Oyarzabal mendapat bola tepat di depan kotak penalti Argentina. Ia langsung melepaskan tembakan keras dengan kaki kiri, tetapi Emi Martinez tampil sigap dan menangkap bola.
Masuk mendekati akhir babak pertama, Spanyol kembali mencari ruang dari sisi sayap. Tiga menit jelang turun minum, Marc Cucurella mengirim sepakan mendatar dari kiri, namun arah bola masih menyamping tipis dari tiang gawang Argentina.
Meski peluang terus berdatangan, skor tetap tidak berubah hingga peluit panjang. Hingga akhir 45 menit, Spanyol unggul dalam penguasaan bola dan relatif lebih mengancam, sementara Argentina lebih banyak memutus ritme permainan dan menutup ruang tembak.
Hasil imbang 0-0 di babak pertama pun meninggalkan pertanyaan yang sama besar untuk babak kedua: apakah Spanyol mampu mengubah dominasi menjadi gol, atau Argentina bisa menaikkan intensitas serangannya setelah minimnya percobaan pada paruh pertama.
Secara keseluruhan, babak pertama berjalan dengan pola yang cukup konsisten: Spanyol mengambil inisiatif lewat penguasaan dan tekanan, sementara Argentina menunggu celah sambil menata ulang jarak antar lini agar ruang tembak tidak terbuka. Meski permainan bergerak cepat, rencana kedua tim tetap berpusat pada duel yang sama—Spanyol mencari jalur ke kotak penalti, Argentina berusaha memutus alur umpan sebelum peluang matang tercipta.
Kondisi minimnya percobaan itu membuat setiap momen peluang terasa “berat”. Saat Spanyol mampu menekan dan memunculkan tembakan sejak fase awal, Argentina justru lebih sering mengandalkan antisipasi. Bahkan ketika laga sempat menghadirkan kesempatan dari serangan balik, seperti yang berujung pada kebutuhan Unai Simon untuk keluar dan mengamankan bola, hasil akhirnya tetap tidak mengubah angka di papan skor.
Di saat yang sama, kontribusi Messi yang hanya mencatat dua sentuhan dalam 20 menit pertama turut menjelaskan mengapa Argentina kesulitan menemukan ritme serangan. Dominasi penguasaan bola Spanyol, termasuk saat angkanya mencapai kisaran 63 persen dalam rentang waktu lebih dari setengah jam, membuat tim asuhan pelatih Spanyol terus punya peluang untuk mengatur tekanan lagi, sedangkan Argentina harus berulang kali memilih bertahan dan menutup ruang.












