jurnalistik.co.id – Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Spanyol dan Argentina dengan skor sama kuat 0-0 saat turun minum. Di Stadion Metlife, New Jersey, pertandingan Minggu (19/7/2026) waktu setempat—atau Senin (20/7/2026) dini hari WIB—berakhir tanpa gol di babak pertama.
Sepanjang 45 menit awal, laga berjalan dengan ritme yang lebih banyak dikendalikan Spanyol. La Furia Roja mampu menguasai bola lebih dari 60 persen dan menciptakan ancaman yang lebih terukur.
Data tembakan di babak pertama turut menggambarkan perbedaan pendekatan kedua tim. Spanyol mencatat 3 tembakan, dengan 2 di antaranya mengarah tepat sasaran.
Argentina, sebaliknya, tampil cenderung menunggu dan menyesuaikan diri dengan skema yang dimainkan lawan. Penguasaan bola Albiceleste hanya sekitar 30 persen.
Menurut pencatatan FotMob, Argentina tidak mencatatkan satu pun tembakan sepanjang paruh pertama. Kondisi itu membuat peluang berarti datang lebih sering dari sisi Spanyol.
Spanyol mulai langsung memberi tekanan pada menit-menit awal. Pada menit ke-5, Lamine Yamal menerima umpan dari Dani Olmo di dalam kotak penalti.
Yamal kemudian berhadapan satu lawan satu dengan kiper Argentina, Emi Martinez. Eksekusi dari sisi kanan itu masih bisa dibendung, sehingga kesempatan pertama Spanyol tidak berubah menjadi gol.
Tidak lama setelahnya, Argentina mencoba merespons melalui serangan balik. Kiper Spanyol, Unai Simon, harus keluar jauh dari sarangnya untuk mengamankan bola.
Sinyal awal itu menguatkan gambaran bahwa peluang di babak pertama relatif terbatas. Dalam rentang sekitar 25 menit awal, hanya ada satu tembakan yang dihasilkan.
Berita Terkait
Kapten Argentina, Lionel Messi, juga terlihat belum banyak terlibat di jalannya permainan. Ia hanya mencatat dua sentuhan dalam 20 menit pertama sebelum jeda hidrasi.
Setelah fase awal, Spanyol tetap mempertahankan kendali tempo. Dominasi penguasaan bola terlihat makin nyata, dengan La Furia Roja menyentuh angka hingga 63 persen dalam waktu lebih dari setengah jam pertandingan.
Masuk menit ke-36, Spanyol kembali membuat peluang dari area yang lebih berbahaya. Mikel Oyarzabal memperoleh bola tepat di depan kotak penalti Argentina, lalu melepaskan tembakan keras dengan kaki kiri.
Upaya tersebut masih mentah di tangan Emi Martinez. Kiper Argentina berhasil menangkap bola dan menggagalkan peluang kedua Spanyol yang berujung ke arah gawang.
Menjelang turun minum, kesempatan Spanyol kembali muncul dari sisi kiri. Marc Cucurella mengirim sepakan mendatar dari flank tersebut, namun arahnya masih menyamping tipis dari tiang gawang Argentina.
Dengan beberapa peluang yang tidak berbuah gol, skor bertahan 0-0 sampai peluit akhir babak pertama. Sampai jeda, Spanyol lebih dominan dari sisi penguasaan dan kualitas tembakan, sedangkan Argentina belum punya tembakan sama sekali.
Kontrol Spanyol tidak hanya terlihat dari penguasaan bola, tetapi juga dari cara mereka menyusun serangan secara bertahap. Mereka lebih sering menahan bola di area tengah lalu mengalirkan tekanan ke ruang-ruang yang sempit, sehingga Argentina harus bekerja ekstra untuk memutus alur umpan.
Pelawanan Argentina lebih banyak muncul lewat momen transisi cepat. Ketika kesempatan balik datang, pola permainan langsung mengarah pada situasi satu serangan satu peluang, sementara Spanyol berupaya menjaga garis pertahanan tetap rapat. Keberanian Unai Simon keluar dari sarang menjadi penanda bahwa setiap peluang Argentina harus dipadamkan sejak awal.
Secara output, perbedaan paling nyata justru datang dari statistik tembakan. Dalam rentang awal yang sempat memecah ritme pertandingan, peluang benar-benar jarang terbentuk, dan hingga menit-menit awal babak pertama, kontribusi Argentina untuk menciptakan tembakan masih nihil. FotMob mencatat tidak ada satu pun tembakan sepanjang paruh pertama, membuat semua ancaman terkonsentrasi pada sisi Spanyol.
Setelah fase awal, kendali Spanyol terus bertahan dan bahkan makin menguat hingga sekitar 63 persen penguasaan bola. Meski sejumlah upaya tak berujung gol—termasuk tembakan Oyarzabal menit ke-36 dan sepakan Cucurella yang menyamping menjelang turun minum—skor tetap tertahan 0-0 sampai peluit akhir babak pertama.












