jurnalistik.co.id – Nottingham University Hospitals (NUH) mengumumkan bahwa data kebidanan historis yang memuat catatan perawatan ibu dan bayi telah timpa ulang akibat pekerjaan teknologi rutin. Kepolisian kini menilai apakah insiden tersebut berpengaruh terhadap Operation Perth, penyelidikan kematian dan cedera terkait layanan kebidanan di Nottingham City Hospital serta Queen’s Medical Centre.
Rekaman yang terdampak mencakup periode mulai September 2011 hingga November 2022. Dalam laporan yang disampaikan, NUH menyebut informasi tersebut “tidak sengaja” terhapus atau terganti saat proses kerja IT dilakukan.
NUH menyatakan data klinis telah berhasil dipulihkan sejak kejadian pada 18 Agustus. Namun, pihak rumah sakit menyatakan tidak mampu mengembalikan “riwayat lengkap” yang menunjukkan siapa saja yang pernah membuka catatan kebidanan selama periode tersebut.
Keputusan ini muncul di tengah perhatian publik yang kembali meningkat terhadap NUH, setelah peninjauan besar yang dipublikasikan pada bulan Juni. Dalam laporan tersebut, disebut lebih dari 500 ibu dan bayi mengalami bahaya yang berpotensi dapat dihindari, atau meninggal dunia, akibat kegagalan yang bersifat “sangat tertanam” dalam sistem.
Data timpa ulang saat proses IT rutin
Menurut penjelasan NUH, kesalahan terbaru terjadi ketika pihaknya membuat salinan dari sebuah basis data radioterapi. Di dalam rangkaian proses, ada pengaturan yang seharusnya diubah sebelum menjalankan instruksi komputer yang sudah ditulis sebelumnya, tetapi perubahan tersebut “terlewat”.
Akibatnya, proses berjalan pada basis data kebidanan, sehingga catatan kebidanan terdampak mengalami penimpaan ulang. NUH menyebut tidak ada indikasi bahwa informasi pasien baru dipakai secara tidak semestinya setelah insiden terjadi.
Pihak rumah sakit menegaskan bahwa data layanan kebidanan untuk pasien saat ini tidak ikut terpengaruh. NUH juga menyatakan tidak ada akses atau penggunaan informasi pasien yang dinilai tidak tepat setelah peristiwa tersebut.
Meski demikian, keterbatasan pemulihan berkaitan dengan jejak akses (who viewed records). NUH menyampaikan bahwa dalam banyak kasus, mereka mungkin tidak dapat memastikan apakah suatu catatan kebidanan pernah dibuka oleh orang tertentu di antara September 2011 sampai November 2022.
NUH menyebut telah memulihkan komponen klinis seperti catatan, observasi, dan hasil pemeriksaan. Tetapi riwayat siapa yang mengakses dokumen-dokumen itu tidak bisa dikembalikan sepenuhnya.
Dalam investigasi sebelumnya, kepolisian pada tahun lalu memeriksa berkas data yang juga mengalami masalah dan berisi rincian ratusan kasus kebidanan. Penyelidikan tersebut menyimpulkan bahwa file yang hilang “paling mungkin dihapus secara sengaja atau dengan niat jahat”.
Berita Terkait
Kepolisian menilai dampak pada Operation Perth
Nottinghamshire Police menyatakan telah diberi tahu mengenai insiden kehilangan data. Kepolisian menyebut telah menerima laporan pada 4 September, kemudian petugas mendatangi NUH pada 7 September untuk memahami kronologi dan menentukan langkah lanjutan, termasuk mempertimbangkan kemungkinan pelanggaran pidana serta mengevaluasi peluang pemulihan data yang hilang.
Deputy Chief Constable Rob Griffin, yang bertindak sebagai gold commander untuk Operation Perth, mengatakan: “Saat ini tidak ada kejahatan yang diidentifikasi. Kami telah menerima laporan dari pihak yang bersangkutan dan telah berbicara dengan mereka.”
Griffin juga menyampaikan: “Penilaian lanjutan masih berlangsung, dan kami menunggu analisis terhadap proses digital yang digunakan.” Ia menambahkan bahwa terkait pemulihan, kepolisian menunggu salinan basis data sebelum upaya lebih lanjut dapat dilakukan, dan pihaknya memperkirakan salinan tersebut akan diterima dalam minggu berjalan.
Ia menegaskan dampak keseluruhan terhadap Operation Perth masih dalam tahap penilaian dan pihaknya akan berada dalam posisi lebih baik untuk memberikan pembaruan yang lebih lengkap setelah analisis serta pekerjaan pemulihan selesai. Griffin menyatakan ia memahami kabar tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga, sehingga ia mendorong pihak yang memiliki pertanyaan atau keprihatinan untuk menghubungi Operation Perth agar tim bisa memberikan dukungan dan, bila memungkinkan, informasi lanjutan.
NUH juga menyampaikan bahwa Information Commissioner’s Office (ICO) telah diberi pemberitahuan. Rumah sakit menyatakan telah mengambil langkah perbaikan pada proses teknis guna mencegah kejadian serupa terulang.
NUH meminta maaf dan keluarga menyebut situasi mengganggu
Andy Callow, Chief Digital and Information Officer NUH, menyatakan permohonan maaf atas keresahan dan kesedihan yang mungkin dialami perempuan serta keluarga yang terkena dampak. Ia menyebut bahwa pada 18 Agustus 2026, kesalahan manusia dalam proses teknis rutin menyebabkan basis data catatan kebidanan ter-timpa ulang tanpa disengaja.
Callow menuturkan bahwa NUH mengambil tindakan segera untuk menyelidiki kejadian tersebut dan memulihkan informasi yang terdampak. Ia juga menyampaikan upaya tersebut dilakukan secepatnya agar pemulihan data dapat diproses dan dampaknya dapat dipahami.
Sementara itu, pernyataan dari Nottingham Maternity Family Group—organisasi yang mewakili banyak pihak terdampak dalam skandal yang lebih luas—menilai insiden terbaru sebagai “sangat mengganggu”. Mereka menyatakan keluarga yang telah lebih dulu mengalami bahaya yang seharusnya dapat dicegah, cedera, dan kehilangan orang terdekat, seharusnya tidak perlu menghadapi kekhawatiran tambahan soal keamanan catatan pengalaman mereka.
Kelompok tersebut menekankan bahwa kemampuan untuk mempercayai tenaga profesional NHS dalam merawat pasien sekaligus menjaga data adalah hal yang paling utama. Namun, menurut mereka, terlalu banyak keluarga di Nottingham merasa NUH belum memenuhi standar kepercayaan tersebut.
Mereka juga menyatakan merasa terbuka untuk mengetahui proses investigasi ICO dan kepolisian terkait kehilangan data terbaru. Harapan organisasi ini adalah penyelidikan dapat menilai apakah ada pelanggaran pidana, mengapa data tersebut dihapus, serta apakah hak pasien dan privasi mereka dilanggar secara tidak sah.












