Hukum & Kriminal

TNI AL Sita 1,3 Ton Ketamine di Natuna, Martin Tumbelaka Minta Jaringan Penyelundupan Diungkap

×

TNI AL Sita 1,3 Ton Ketamine di Natuna, Martin Tumbelaka Minta Jaringan Penyelundupan Diungkap

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: TNI Gagalkan Penyelundupan 1,3 Ton Narkoba, Anggota DPR: Jangan Berhenti pada Penangkapan ABK

jurnalistik.co.id – Anggota Komisi III DPR RI Martin Tumbelaka menanggapi pengungkapan penyelundupan narkotika jenis ketamine dengan nilai dan dampak yang dinilai sangat serius di wilayah perairan Natuna, Kepulauan Riau. Ia menilai, penanganan kasus tak boleh berhenti pada siapa yang tertangkap di lapangan.

Martin meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas jaringan di balik penyelundupan ketamine seberat 1,3 ton tersebut. Ia menekankan bahwa penelusuran harus sampai ke akar-akarnya agar pelaku utama dan jalur distribusi tidak kembali berulang.

“Kita sangat mengapresiasi kerja keras dan sinergi tim gabungan. Namun, saya meminta agar seluruh jaringan di balik penyelundupan 1,3 ton ketamine ini diungkap ke akar-akarnya. Ini menyangkut keselamatan dan masa depan generasi muda kita,” kata Martin dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).

Tidak berhenti pada penangkapan ABK

Dalam keterangannya, Martin menyoroti pentingnya kerja lanjutan setelah proses pengamanan anak buah kapal (ABK) yang diduga terlibat. Menurutnya, pengungkapan jaringan menjadi kunci untuk memutus rantai pasok narkoba, bukan sekadar menindak pelaku operasional di permukaan.

Ia juga mendorong aparat tidak ragu menindak tegas para pelaku kejahatan narkoba jenis apa pun. Baginya, tindakan yang tegas dan menyeluruh diperlukan agar efek pencegahannya terasa di seluruh mata rantai kejahatan.

Martin menilai sikap tersebut selaras dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam upaya memberantas peredaran narkoba di Indonesia. Presiden juga menegaskan bahwa narkoba merupakan ancaman besar terhadap masa depan bangsa.

“Oleh karena itu, perang terhadap narkoba harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Aparat jangan pernah ragu menindak,” tegasnya.

Operasi gabungan di Natuna

Kasus tersebut bermula dari operasi gabungan yang dilakukan TNI AL bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), Bareskrim Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Polda Kepulauan Riau. Dalam operasi pada Kamis (6/8/2026), petugas berhasil menyita sekitar 1,3 ton ketamine dari kapal yang bernama King Sun.

Menurut informasi dalam pemberitaan, kapal King Sun diduga menyelundupkan narkotika internasional melalui perairan Natuna. Dalam proses pemeriksaan, petugas menemukan ruang penyimpanan rahasia yang berada di bawah lantai kamar ABK asal Taiwan.

Martin menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan tim gabungan yang dipimpin BNN dalam pengungkapan tersebut. Ia memandang keberhasilan penyitaan dan pengamanan merupakan langkah awal yang penting, tetapi tetap perlu ditindaklanjuti dengan pembongkaran jaringan yang lebih luas.

“Kerja sama yang sudah berjalan sangat baik ini harus terus diperkuat ke depannya,” ungkap Martin.

Penguatan koordinasi aparat dan intelijen

Dalam penekanannya, Martin mendorong kerja sama antar-lembaga penegak hukum dan intelijen agar terus ditingkatkan. Ia menilai pola koordinasi seperti yang terjadi pada operasi di Natuna perlu dipertahankan agar aparat bisa membaca arah gerak jaringan penyelundupan.

Dengan dukungan berbagai unsur, proses penelusuran diharapkan tidak hanya berhenti pada ABK yang berada di kapal, melainkan berlanjut pada pihak yang menyiapkan rute, penyediaan barang, hingga pihak yang mengatur distribusi. Hal ini juga dinilai penting untuk mencegah peluang pelaku mengganti cara dan jalur setelah penangkapan dilakukan.

Martin menambahkan bahwa tindak lanjut yang lebih dalam turut berkaitan dengan keselamatan publik dan masa depan generasi muda. Ia berpendapat, pengungkapan jaringan akan mempersempit ruang gerak pelaku dan sekaligus memberi sinyal tegas bahwa upaya pemberantasan narkoba tidak bersifat sementara.

Ia juga menyebut bahwa aparat perlu mengambil sikap tegas dalam setiap tindak pidana narkotika yang terungkap. Menurut Martin, konsistensi tindakan yang menyasar jaringan dan pelaku utama menjadi bagian dari upaya perang terhadap narkoba yang dilakukan secara berkelanjutan.